Nyai Hj. Zainiyah As’ad, Potret Perempuan Ulama Nusantara

Nyai Hj Zainiyah As’ad sukorejo situbondo

Sesaat setelah penulis diminta mengisi forum Halaqah Perempuan Ulama yang diadakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) asuhan Kiai Ubaidillah, cucu Abah Falak Pagentongan, Bogor, seorang kiai muda alim aktivis Bahtsul Masail asal Malang Raya, Kiai Hamim HR mere-tweet tweet saya di Twitter sembari memberi pertanyaan, “Apa perbedaan antara ulama perempuan dan perempuan ulama? Saya kemudian menjawab sambil mengingat, prakata sambutan dari Kiai Ubaid di forum tersebut.

“Ulama perempuan adalah seorang ulama, baik laki-laki atau perempuan yang memiliki komitmen, persepektif dan pemikiran keadilan gender, sementara perempuan ulama adalah perempuan yang ulama dan memiliki persepktif keadilan gender”.

Agar semakin yakin, jawaban yang saya tulis untuk Kiai Hamim tersebut, saya konfirmasi lagi kepada Kiai Husein Muhammad, seorang kiai pemikir gender papan atas, yang dikutip Kiai Ubaid ketika sambutan di forum. Tanpa menunggu lama, Kiai Husein merestui jawaban saya.

Selama ini hal yang dianggap menjadi sebab langgengnya bentuk diskriminasi dan peminggiran kepada kaum perempuan adalah miskinnya contoh tokoh perempuan yang punya peran dalam ranah publik. Selain Siti Aishah, istri nabi, yang dijadikan contoh, praktis selainnya tidak ada. Imam Mazhab, pemikir ilmu kalam, mufasir, ahli hadis dan lain sebagainya jarang menerbitkan nama perempuan dalam perkemabangannya. Hal itulah yang terus berjalan hingga kini.

Namun itu tidak bermakna, tidak ada sama sekali tokoh perempuan yang kiranya bisa dijadikan teladan. Dalam kesempatan ini, saya akan menceritakan sosok perempuan dari balik tembok pesantren, yang walau perempuan tetapi memiliki peranan publik yang siginifikan. Perempuan itu bernama Nyai Hj. Zainiyah As’ad.

Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Nyai Zai, begitu sapaan akrabnya, adalah anak pertama pasangan Kiai As’ad Syamsul Arifin dengan Nyai Zubaidah. Ia lahir tahun 1944 di Sampang Madura. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan Pesantren Jerengoan, Sampang, Madura. kakeknya dari jalur ibu bernama Kiai Baidhowi yang termasuk Bani Ahmad. Bani Ahmad ini adalah ulama penyebar Islam di Sampang yang amat kesohor. Anak keturunannya mendirikan organisasi IKBA (Ikatan Keluarga Bani Ahmad) yang tersebar di Madura dan Jawa.

Baca juga :  Menyelami Realitas Pengalaman Perempuan bersama Kalis Mardiasih

Lahir sebagai putri sulung dari seorang tokoh kenamaan membuat Nyai Zai harus menanggung banyak hal. Mula-mula sejak wafatnya ibunda tercinta, Nyai Zubaidah, Nyai Zai kemudian menggantikan posisinya baik dalam ranah domestik maupun ranah publik. Dalam domain domestik, Nyai Zai berposisi sebagai ibu dari adik-adiknya sementara dalam domain publik Nyai Zai berperan sebagai pemangku asrama pondok putri, yang mengurusi urusan kepesantrenan dan kemasyarakatan.

Peran-peran itu semua oleh Nyai Zai dilaksanakan dengan baik. Sebab, dalam dirinya mengalir bekal ilmu dan pengalaman yang ditempanya sejak kecil. Ketika masih masa pendidikan, Nyai Zai dikenal sebagai siswi yang rajin dan cerdas. Tidak berhenti di situ, pasca menikah, Nyai Zai masih terus menunjukkan diri sebagai pecinta ilmu. Kepada suami tercintanya, Kiai Dhofir Munawwar, Nyai Zai belajar makin intens ilmu-ilmu keislaman. Hal ini tak heran, sebab Kiai Dhofir sendiri—yang lebih akrab disapa Syaikh Dhofir—adalah seorang kiai alim, yang oleh Kiai As’ad dipasarahi urusan keilmuan di Pesantren Sukorejo.

Kepada suami tercintanya, Nyai Zai belajar Nahwu-sarraf, fikih, tafsir, dan bahkan wirid-wirid bekal kemasyarakatan. Dalam kenangan Kiai Afifuddin Muhajir, Kiai Dhofir juga mempengaruhi Nyai Zai dalam bidang ilmu qiraah Alquran. Karena memang masyhur, Kiai Dhofir juga memiliki keahlian tilawah Alquran. Pada poin ini, teladan yang bisa diambil adalah bahwa belajar tak hanya berkisar dari bangku sekolah ke bangku sekolah. Semua tempat adalah sekolah semua orang adalah guru. Dalam konteks suami istri menunjukkan bahwa pernikahan adalah sekolah terlama dalam kehidupan manusia. Itulah pentingya mencari pasangan berdasarkan keilmuan dan nilai ketakwaannya.

Syahdan, suatu ketika ada seseorang bertanya pada al-Hasan al-Bashri ihwa putrinya yang dilamar beberapa pemuda. Imam al-Bashri berkata, “Nikahkan putrimu dengan yang paling bertakwa pada Allah Swt. sebab jika ia sedang mencintainya ia akan memuliakannya dan jika sedang marah ia tak menzaliminya.”

Pernikahan Nyai Zainiyah As’ad dengan Kiai Dhofir Munawwar dikarunia beberapa keturunan. Mereka adalah, Nyai. Hj. Qurratul Faizah, Nyai Hj. Ummi Hani’, Nyai Hj. Uswatun Hasanah, dan terakhir Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy. Nama terakhir ini kemudian diamanati untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo pasca Kiai Ach. Fawaid As’ad.

Baca juga :  Perempuan: Sekolah dan Sejarah

Semangat belajar Nyai Zai tak pernah padam. Di tengah kesibukannya menjalankan berbagai banyak amanat, Nyai Zai terus bertanya jika ada hal-hal masih menjadi kemusykilan. Tak ada rasa malu dalam urusan ilmu. Banyak pengajar senior di Pesantren Sukorejo yang dijadikan tempat bertanya dan sharing keilmuan, salah satunya Kepada Kiai Afifuddin Muhajir.

Maka wajar saja, dari tempaan intelektual yang matang itu, Nyai Zainiyah As’ad benar-benar menjadi perempuan ulama pesantren yang paripurna. Nyai Zai mendidik santri dengan bekal-bekal ilmu. Ia juga menjadi seorang penulis perempuan asal pesantren. Agak banyak karyanya, hanya yang saya tahu (dan ingat) adalah kitab Zadu al-Zauzain, sebuah kitab yang awalnya untuk bacaan para santri yang hendak menjalani kehidupan rumah tangga.

Karya itu bisa jadi sedikit bukti betapa perhatian Nyai Zai pada santri begitu tinggi. Nyai Zai sampai perlu menuliskan buku pedoman bagi para santri setelah sebelum-sebelumnya ia memberi bimbingan khusus bagi santri putri yang hendak berhenti mondok.

Di luar peran itu semua, ada peran di mana Nyai Zai benar-benar mengeskplorasi segenap pengetahuan yang dimiliki di dunia yang lebih menantang, yaitu ranah publik. Mula-mula Nyai Zai ikut turun gunung menemani adik kesayangannya, Kiai Ach. Fawaid As’ad membesarkan partai peninggalan ayahandanya, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kita tahu bahwa Kiai Fawaid adalah sedikit contoh kiai pergerakan dan perjuangan yang benar-benar mewakafkan jiwa dan raganya untuk perjuangan. Tak heran, sebab dalam dirinya mengalir darah pejuang yang diwariskan ayahandanya, Kiai As’ad. Untuk menyalurkan nilai perjuangannya, Kiai Fawaid memilih ranah partai dan politik perjuangan. Ia memilih PPP setelah sebelumnya aktif di PKB untuk berkhidmah untuk umat.

Di tengah kerasnya medan perjuangan dan panasnya eskalasi politik khususnya di daerah Madura dan Tapal Kuda, yang masih menjadikan tokoh agama sebagai rujukan dalam sikap politik, Kiai Fawaid tidak sendirian. Di samping ditemani beberapa ribuan pecintanya, Kiai Fawaid juga disupport penuh oleh kakak kandung tercintanya, yaitu Nyai. Hj. Zainiyah As’ad.

Baca juga :  Kisah Fathima An-Nisabburiya, Sufi Perempuan yang Memilih Menikah

Bahwa perjuangan dalam bidang politik tak mudah, tetapi penuh onak dan duri maka Nyai Zai dengan hati lapang menerima semua konsekuensi itu semua. Beragam hinaan, cacian, dan intrik-intik politik juga terus menimpanya. Tetapi Nyai Zai tak bergeming: selama yang diperjuangkan adalah kemaslahatan, ia tak kan mundur satu langkah pun dalam perjuangannya.

Setelah ikut meramaikan dalam dunia politik, Nyai Zai tak lupa kepada asalnya, yakni dunia pesantren. Lelah dalam perjuangan politik tak membuat Nyai Zai beralasan untuk absen dalam pengembangan dan eksistensi pesantren Sukorejo. Nyai Zai kembali mengajar dan mengayomi santri dan masyarakat yang terus membajiri kediamannya.

Yang menarik, Nyai Hj. Zainiyah As’ad tidak hanya disibukkan mengurus dan mengasuh pesantren putri di Sukorejo, tetapi ia juga mendirikan pesantren sendiri di bagian selatan Kecamatan Asembagus Situbondo. Nama pesantrenya adalah Pesantren Salafiyah As’adiyah Balikeran Asembagus. Awal mula pendirian pesantren ini adalah bermula saat beliau memberi pengajian di daerah itu. Daerah yang kurang air, panas juga kurang  bekal ilmu agama membuat Nyai Zai tergugah untuk mendirikan pesantren yang kelak bisa jadi sumber kesejukan bagi masyarakat sekitar. Tidak lumrah memang, seorang perempuan bisa mendirikan pesantren. Tetapi itulah Nyai Zainiyah As’ad: potret perempuan ulama dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Namun di balik kehebatan itu semua: sebagai perempuan ulama, berjuang di politik dan mendirikan pesantren, ada satu etape hidup Nyai Hj. Zainiyah As’ad yang sangat menyetuh relung hati saya, yaitu Nyai Zai dikenal sebagai ibu bagi banyak anak yatim dan sandaran banyak kaum miskin. Sudah tak terhitung berapa anak yatim yang bahagia dengan kasih sayangnya dan berapa banyak orang miskin yang hidup karena uluran bantuan tangannya.[]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *