Nyai Sholihah, Induk Keluarga, NU, dan Bangsa

Perempuan terutama ibu adalah sosok penting yang berperan besar dalam membentuk karakter anak-anaknya. Salah satunya adalah Nyai Sholihah. Putri ketiga dari pasangan KH. M. Bisri Syansuri dan Nyai Hj. Noor Khodijah Hasbulloh lahir di Denanyar pada 11 Oktober 1922. Hidup di lingkungan pesantren membuatnya gigih untuk memperdalam ilmu agama. Ia belajar kepada ayahnya dan kemudian diajarkan kepada santri-santrinya.

Setelah memasuki usia sekitar 16 tahun dan dianggap dewasa, ia dilamar oleh KH. Abdul Wahid Hasyim, putra dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari. Setelah menikah ia tinggal di Tebuireng bersama mertuanya. Di sana keilmuan Nyai Sholihah pun semakin meningkat melalui pengajaran yang diberikan oleh suaminya tentang baca dan tulis huruf latin. Tak jarang Kyai Wahid juga membawakan buku atau majalah setelah bertugas di luar kota untuk bahan bacaan istrinya. Sejak kemampuannya membaca dan menulis latin meningkat, ia pun semakin gemar membaca.

Kelahiran anak pertama mereka yang bernama Abdurrahman Ad-Dakhil membawa suasana baru. Nyai Sholihah berpindah di ndalem kulon dan mulai berkiprah di NU. Saat itu masih dikenal dengan NOM. Lambat laun ia mengikuti perjuangan suaminya, Kyai Wahid, yang pindah ke Jakarta, tahun 1944. Tidak lama kemudian Kyai Wahid diminta ayahnya untuk mengasuh pesantren, akhirnya pulang kembali ke Tebuireng.

Pada tahun 1950, kyai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama menjadikan mereka kembali pindah ke Jakarta. Di tempat barunya, ia juga kembali berkiprah di organisasi NU. Singkat cerita, ia memulai karirnya di Muslimat NU dari tingkat ranting Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956) hingga melesat menjadi Ketua Pimpinan Pusat I Muslimat NU (1959-1994).

Baca juga :  Membela Perempuan Lewat Konstitusi

Dalam buku “Ibuku Inspirasiku” yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng (2015), Gus Dur pernah menyampaikan bahwa ibunya adalah induk NU, karena ia kokoh dalam berprinsip dan mampu menyelaraskan antara prinsip dan keadaan. Beliau juga tidak pernah lepas kontak dengan para rekan-rekan dan sesepuh NU.

Kyai Wahid Wafat

Mendengar kabar duka atas kepergian menantunya, Kyai Bisri meminta putrinya untuk kembali ke Jombang. Namun Nyai Sholihah menolaknya. Ia memilih untuk menetap, karena ingin melanjutkan perjuangan suaminya dan mendidik anak-anaknya di Jakarta.

Perjuangannya mendidik dan membesarkan anak-anaknya pun di mulai di usia yang belum genap 30 tahun. Kendati demikian, semangat juang dalam berkiprah di lembaga Muslimat NU pun tidak ditinggalkan. Semangat juang yang diwariskan oleh ayah dan suaminya tersebut sangat melekat hingga menjadikan Nyai Sholihah dikenal karena ketangguhannya.

Tidak ada peninggalakan harta yang besar dari almarhum suaminya. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ia memulai berbisnis beras, lalu menjadi makelar mobil hingga pemasok material ke kontraktor guna mencukupi kebutuhan keluarganya.

Di sisi lain ia juga memikirkan rakyat kecil baik melalui muslimat atau di luar muslimat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gus Dur, Nyai Sholihah telah berhasil merintis beberapa lembaga sosial, seperti Yayasan Dana Bantuan, Yayasan Bunga Kamboja, Home Care, Panti Jompo, dan Yayasan Kesejahteraan Muslimat.

Baca juga :  PP Fatayat NU Berikan Penguatan Kepada Pengurus Baru Fatayat NU Malaysia
Pendidikan Karakter Keluarga

Inspirasi pendidikan karakter dalam keluarga yang dilakukan oleh Nyai Sholihah, membebaskan anak-anaknya untuk mengemukaan pendapat dengan terbuka, bahkan untuk pendidikan pun beliau tidak memaksakan kehendak sebagaimana orangtua pada umumnya. Putra-putrinya bebas menimba ilmu sesuai minat dan bakatnya, dengan syarat dilandasi ilmu agama yang matang.

Kala itu, untuk memperdalam pendidikan agama pada awal tahun 1950, Nyai Sholihah mendatangkan guru privat untuk mengajar tajwid, fikih, nahwu, shorof, tarikh dan hadis di rumahnya.

Sejak kecil putra-putrinya dididik untuk menjadi pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. Dikisahkan dalam buku Ibuku Inspirasiku,  saat Gus Dur berusia 3 tahun pernah memecahkan lampu yang antik dan langka di rumahnya. Kemudian oleh ayahnya, ia dihukum di dalam gudang. Gus dur kecil yang merasa kesal atas hukuman tersebut pun mengencingi karung di dalam gudang tersebut. Mengetahui hal itu Kyai Wahid semakin marah, dan memberi hukuman menjemur Gus Dur di halaman dengan tanpa memakai baju. Begitulah salah satu nilai pendidikan tanggung jawab yang ditanamkan sejak kecil.

Berkat usaha dan tirakat yang dilakoni oleh Nyai Sholihah, maka tak heran jika kelak anak-anaknya berperan sesuai bidang dan keilmuan masing-masing. Kiai Abdurrahman (Gus Dur) yang berhasil menjadi presiden ke 4 dengan keimuannya yang matang, Nyai Aisyah yang kelak mengikuti jejak ibunya menjadi ketua Muslimat NU Pusat, Kiai Salahudin menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng dengan arsitektur bangunan yang indah, Nyai Lily Khadijah menjadi anggota DPR RI 2009-2014, Kiai Umar Wahid menjadi dokter spesialis paru dan kepala Rumah Sakit di Jakarta, dan Kiai Hasyim Wahid sebagai tokoh NU dan menjabat di Badan Kesehatan Perbankan Nasional (BKPN).

Baca juga :  Kalis Mardiasih dan Esty Dyah Imaniar: Dua Muslimah Inspiratif

Semua putra-putri Nyai Sholihah berkiprah di NU dan Bangsa, maka tidak terlalu berlebihan kiranya jika Nyai Sholihah disebut sebagai induk dari kelahiran generasi bangsa. Karena tidak hanya keluarga, Nahdhatul Ulama dan bangsa juga turut merasakan kiprahnya yang sangat besar.

Setelah mengabdikan diri pada keluarga, NU dan negara, Nyai Sholihah pun berpulang kehadiratNya di usia ke 72 tahun. Bertepatan pada hari jumat 29 Juli 1994 pukul 23.00 di Rumah sakit Ciptomangun kusumo. Dimakamkan di makan keluarga di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Wallahu A’lam.

 

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *