Paket Ramadhan dari Ibu [Cerpen]

Tak terasa bulan suci yang ditunggu-tunggu oleh semua umat Islam akhirnya akan segera tiba. Iya benar, bulan Ramadhan pasti sudah tak asing lagi di telinga kita, bulan penuh berkah dan ampunan dari Yang Maha Kuasa, bulan di mana orang-orang berlomba-lomba mendapatkan banyak pahala, bulan suci yang hanya terjadi sekali dalam setahun.

Bulan yang selalu ditunggu oleh anak perantauan baik itu yang bekerja, maupun yang sedang mencari ilmu sepertiku. Karena di bulan ini banyak orang mudik. Aku pun bisa mudik untuk sejenak mengistirahatkan diri dari padatnya aktivitas kuliah, dan sejenak memecahkan celengan rindu kepada orang tua di kampung halaman dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama.

Aku sebagai anak rantau sangat menunggu momen bulan suci ini. Bahkan, Aku sudah menyiapkan tiket kereta api untuk mudik untuk keberangkatan H-7 menjelang hari raya Idul Fitri.

Aku memesan tiket sejak awal Kereta Api Indonesia (KAI) membuka layanan untuk pembelian  tiket mudik. Namun, harus aku batalkan dikarenakan adanya wabah dan semua orang disarankan harus stay at home untuk memutus rantai penyebaran virus.

Awal Maret menjadi awal bulan yang kelabu untukku setelah bapak presiden mengumumkan bahwa terdapat dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang dinyatakan positif terinfeksi virus COVID-19.

Hingga sampai pada akhirnya pada pertengahan Maret, Rektor kampusku mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa kuliah secara tatap muka untuk sementara ditiadakan sampai wabah virus ini berakhir. Perkuliahan pun berganti melalui daring atau online, dengan menggunakan banyak platform untuk menunjang perkuliahan.

Aku merasakan pelaksanaan perkuliahan online begitu berat. Pertama, karena Aku sendiri belum terbiasa dengan kuliah online, kedua, dikarenakan berdiam lama di depan komputer membuat mataku memerah dan sakit, ketiga karena banyak menggunakan platform yang berbeda-beda disetiap mata kuliah. Keempat, Aku sangat merindukan suasana kelas, bertemu dengan banyak teman, bertegur sapa dengan dosen, diskusi dan masih banyak lagi.

Semenjak merebahnya wabah virus tersebut, pemerintah langsung mengeluarkan surat edaran yang isinya larangan untuk mudik atau pulang kampung disitu Aku sangat sedih. Bagaimana tidak, Aku begitu sangat merindukan keluarga di rumah. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan Aku harus rela menerima kenyataan kalau Aku diharuskan untuk tidak pulang kampung terlebih dahulu.

Baca juga :  Arti Senyum Kiai Idris [Cerpen]

Sore itu, Aku duduk sembari menikmati secangkir teh panas di teras depan kamar kos. sembari membaca buku layaknya anak indie namun tak suka kopi. Sembari memikirkan dan mencoba mengikhlaskan kenyataan kalau tahun ini tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari raya yang fitri dikarenakan kondisi negara yang sedang kelimpungan tidak kondusif, dan berbahaya juga di jalan kalau dipaksakan untuk mudik. Aku yang sedang melamun, tiba-tiba kaget.

Kring… kring… kring… (bunyi HP)

Tanganku mencoba meraih handphone yang ada di meja teras. Kulihat ternyata ada satu pesan masuk dan panggilan dua panggilan tak terjawab dari bapak.

“Ya Allah, Astaghfirullah. Ada telepon tak terjawab dari bapak ternyata. Aku sibuk membaca buku sambil melamun kayaknya,” gumamku.

Aku buka notifikasinya dan perlahan kubuka, dan mulai membaca pesan yang masuk dari bapak.

Assalamu’alaikum, kamu yang sehat-sehat di sana ya Nak. Bapak sama ibu kangen. Bapak dan ibu di rumah baik-baik saja. Semoga kamu baik-baik saja dan tidak kekurangan apa-apa sehat wal afiat. Bapak sama ibu cuma mau bilang sebentar lagi udah mau Ramadhan dan lebaran. Pastinya bapak dan ibu ingin kamu pulang biar kita bisa kumpul sama-sama. Udah setahun kita ndak ketemu. Bapak ibu juga mengerti kalau kamu itu kangen sekali sama masakan ibu. Tapi, keadaannya lagi kayak gini. Pak RT bilang katanya ada penyebaran wabah virus dimana-mana. Liat TV dan mendengarkan radio virusnya kok udah sampai ke mana-mana bahkan seluruh dunia. Bapak sama ibu ya jadi rada khawatir nak.

Anakku Atifa tersayang,

Bapak dan ibu di desa terus doain kamu. Semoga kamu juga begitu terus mendoakan bapak dan ibu dan jangan lupa akan kewajibanmu sama Gusti Allah dan kita saling mendoakan supaya bapak dan ibu di rumah juga selalu dijaga, supaya kita semuanya tetap diberikan kesehatan. Bapak sama ibu cuma mau bilang tahun ini tidak usah pulang, bapak sama ibu juga mengerti keadaan sekarang ini. Kita semua sama-sama menjaga ya nak, jangan gegabah, jangan egois. Turuti saja omongan bapak-bapak pemerintah itu. Kamu di kosan saja nggak usah pergi-pergi, nggak usah keluyuran ndak jelas. Gunakan buat belajar dan perbanyak ibadah. Ingat ya nak, tahun ini jangan pulang, tahun ini tidak perlu mudik.

Seketika air mataku jatuh tidak terbendung lagi. Keraguanku untuk memutuskan mau pulang kampung atau tidak, ternyata dapat dipahami oleh bapak dan ibuku. Firasat orang tua pada anaknya memang tak pernah salah.

Baca juga :  Sammir dan Vanni Mencari Tuhan [Cerpen}

Mungkin ini memang jalan yang terbaik. Kalau dipaksakan pulang pun tidak memungkinkan. Aku juga sayang sama bapak dan ibu di kampung halaman. Keadaan sekarang sedang tidak baik-baik saja, jadi saling menjaga saja, aku pun mengerti dan ikhlas demi kebaikan bersama.

***

Saat itu hari Kamis aku seperti biasa selalu bangun pagi sholat subuh, kemudian beres-beres kamar, mandi dan bersiap-siap untuk kuliah online. Komputer jinjing aku nyalakan dan bersiap dengan alat tulis lengkap diatas meja belajar.

Setelah beberapa jam kemudian, kuliah online pun selesai. Seperti biasa dosen tak lupa memberikan oleh-oleh kepada mahasiswanya berupa tugas. Siang itu aku begitu sangat lelah, sampai-sampai aku tertidur dengan posisi diatas kursi sembari menempelkan pipi diatas meja belajar. Tiba-tiba suara HP berbunyi membangunkan aku dari mimpiku. Tanganku berusaha meraih HP di atas meja.

“Halooo, Assalamu’alaikum nak…”

“Iya bu, Aku baru bangun ada apa bu?” sambil menguap, mencoba membuka mata.

“Paket kiriman dari ibu sudah sampai belum?”

“Hah…? “Aku terkejut.

”Belum sampai bu!”

“Oh, begitu ya sudah ditunggu saja paketnya, mungkin datangnya sore.”

“Iya bu.”

Ibu pun menutup teleponnya. Kuletakkan kembali HP ku di atas meja. Sambil termenung sebentar, Aku pun menjadi penasaran.

Baca juga :  Mad Gedek [Cerpen]

“Ibu kirim apa sih, perasaan aku ndak minta dikirimi apapun,” gumamku dalam hati.

Jam pun menunjukkan pukul 17.15 Aku seperti biasa menunggu senja sembari menyapu di depan kamar kost. Tiba-tiba ada motor berhenti di depan pagar kos dan benar saja, ternyata itu mas kurir datang sambil membawa paket ditangannya.

“Permisi, apa benar ini dengan Mbak Atifa?”

“Iya benar mas.”

“ini paketnya ya,” sembari menyerahkan paket berupa dus besar kepadaku.

“Terima kasih ya mas,” sambil ku tengok siapa pengirimnya. Ternyata itu nama ibu.

“iya sama-sama mbak,” kata kurir itu.

Mas kurir pun pergi, lalu aku penasaran dengan isi paket yang dikirim dari ibu. Alangkah terkejutnya Aku ketika membuka isinya. Ibu ternyata diam-diam mengirim paket untukku berisi rendang daging, orek tempe, dan makanan cemilan kesukaanku.

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Kulihat ternyata itu telepon dari Ibu.

“Haloo bu, Assalamu’alaikum…”

“Haloo nak, paket dari ibu udah sampai?”

“Sudah bu, terima kasih ya, hehehe”

“Iya sama sama. Ibu sengaja kirim biar nanti malam kamu bisa sahur dan besok pas buka puasa bisa makan masakan ibu. Ibu tau kamu kangen masakan ibu.”

Aku meneteskan air mata tanda haru. Ibu tahu banget kalo Aku lagi kangen.

“Iya bu.”

“Ya udah ya, ibu mau nyiapin makan malam dulu. Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Aku pun menutup telepon dari ibu. Aku bersyukur dan senang sekali. Walaupun Ramadhan tahun ini tidak bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di rumah, masakan yang ibu kirimkan sudah  lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *