Pandawa Lima, Perwujudan Rukun Islam dalam Perwayangan

Islam di Indonesia datang dengan penuh kedamaian. Islam tidak tersebar dengan perperangan seperti yang terjadi di belahan benua lainnya, khususnya jazirah Arab. Islam tersebar bukan lewat senjata melainkan datang dengan seni sinkretis adat istiadat dan metode penyebaran Islam penuh kedamaian lainya.

Di tanah Jawa, masyhur sekali dengan penyebaran Islam yang dilakukan oleh sembilan wali yang biasa kita kenal walisongo. Dari sembilan wali ini, mempunyai metode yang beragam dalam berdakwah.

Ada yang berdakwah dengan membangun masjid sebagai pusat dakwah seperti yang dilakukan Sunan Bonang dan Sunan Ampel. Ada yang menyiarkan Islam  melalui pendekatan teologis. Masyarakat diajarkan tentang nilai-nilai Islam, perbedaan antara pandangan hidup Islam dengan lainnya dan menanamkan pandangan-pandangan Islam. Pendekatan ini dilakukan oleh Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim.

Sunan Muria dan Sunan Drajat lebih condong dengan pendekatan sosial. Mereka lebih memilih berdakwah ke masyarakat kecil. Mereka masuk ke desa-desa dan kampung-kampung dan mengajarkan masyarakat meningkatkan pemahamannya serta membina masyarakat agar kehidupan sosialnya meningkat.

Sunan Giri dalam berdakwah memakai metode berbeda dari sebelumnya, beliau menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan Ilmiah Sunan Giri dilakukan dengan membangun pesantren, membuat pelatihan, pengkaderan, dan mengutus santrinya berdakwah ke suatu tempat.

Yang menarik adalah menggunakan pendekatan kultural. Menggoreng tradisi kebudayaan dengan bumbu-bumbu ajaran Islam. Inilah yang dilakukan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Mereka sadar bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang mendarah daging dalam masyarakat. Budaya yang ada dan berkembang disisipi dengan ajaran-ajaran Islam. Salah satunya yaitu perwayangan.

Baca juga :  Rekonseptualisasi Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS)

Perwayangan adalah hiburan kebudayaan masyarakat zaman dahulu sampai sekarang. Walau sekarang sudah terkikis sedikit demi sedikit serta sedikit kaum milenial yang menjadi peminatnya (bukan berarti tidak ada). Tapi ajaran Islam yang disisipkan dalam perwayangan masih kental sampai sekarang. Salah satunya adalah Pandawa Lima, yaitu ajaran rukun Islam yang disisipkan dalam lakon perwayangan.

Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren menceritakan bahwa banyak kiai senang melihat wayang. Bukan karena hanya unsur budaya yang ada di dalamnya, tapi juga apresiasi kekaguman kepada walisongo yang membungkus ajaran Islam dengan indah dan apik dalam perwayangan. Cerita Pandawa Lima contohnya.

Pandawa Lima adalah sebutan kelima saudara keturunan Pandu Dewantara, Raja Negara Astina dalam cerita wayang. Urutan kelima saudara ini adalah Yudistira, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Cerita penokohan kelima saudara ini mengandung unsur ajaran Islam, yaitu rukun Islam yang lima.

Yudistira adalah lambang syahadat, orang yang berpegang teguh kalimah thayyibah dan risalabira mempunyai sifat-sifat yang dimiliki Yudistira, yakni kejujuran dalam segala perkataan dan perbuatan.

Selain itu, dalam penokohan Yudistira yang mememerintah kerajaan Amarta, disebutkan bahwa ia mempunyai jimat sakti yang disebut jamus kalimasada. Kalimasada ini berasal dari Kalimah Syahada.

Werkudoro adalah lambang rukun Islam yang kedua, sembahyang lima waktu. Sembahyang lima waktu adalah ibadah yang tak bisa ditawar oleh siapapun. Berlaku untuk siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Cocok dan sesuai dengan penokohan sifat yang ada dalam diri Werkudoro yang tidak membeda-bedakan siapapun.

Baca juga :  Filosofi Puasa Ramadhan

Saudara yang ketiga adalah Arjuna. Ia menjadi lambang rukun Islam yang ketiga, yakni zakat. Tokoh Arjuna dalam beberapa cerita disebutkan dimintai pertolongan para dewa untuk menumpas kejahatan. Banyak kejahatan muncul dari sebab kemiskinan, maka sang Arjuna datang membasmi kejahatan dan mensejahterakakan orang-orang miskin. Menumpas kejahatan adalah lambang pemanfaatan zakat untuk menumpas kemiskinan di kalangan umat Islam. Maka dari itu Arjuna dipandang sebagai lanang ing jagad.

Nakula dan Sadewa menjadi pelambangan rukun Islam yang keempat dan kelima. Tokoh pewayangan ini merupakan saudara kembar yang tidak sembarang ditampilkan dalam lakon wayang. Pun sama dengan ibadah puasa dan haji tidak dikerjakan setiap hari, tetapi hanya setahun sakali.

Lebih dari itu, tokoh Nakula adalah sosok yang Amanah dan bisa menjaga rahasia. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia. Pelaksanaan ibadah ini pun hanya diketahui oleh yang melakukannya dan tuhan saja. Sedangkan Sadewa adalah sosok wayang yang dalam suatu cerita Sadewa menyempurnakan hukuman yang dijalani Dewi Uma. Dewi Uma dibebaskan dari kutukan dan disempurnakan kembali menjadi Dewi Durga, bidadari yang cantik kembali. Laksana ibadah haji yang menyempurnakan rukun Islam seorang muslim, Sadewa menjadi lambang rukun Islam yang kelima.

Itulah sedikit telaah penggalan cerita KH. Saifuddin Zuhri. Para Walisongo memumpuk Islam dengan keindahan budaya dan analogi, bukan dengan teriakan apalagi perperangan. Pandawa Lima menjadi pelajaran yang sangat bearti bagi kita, bukan hanya mengajari rukun Islam yang lima tapi juga mengajarkan bagaimana Islam yang baik disampaikan dengan damai. Kan, Islam sendiri mempunyai makna kedamaian. Tabik!

Baca juga :  Niat Puasa Ramadhan Lengkap [Arab, Latin dan Artinya]

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *