Pantai Badur

Pantai Badur

 

Di sini, laut saksikan perdamaian

Langit pasir

Angin menyeret suasana

Bertasbih membaca kisah masa kata

 

Hilir menjadikan hulu sebagai salju

Laut menjadikan temu sebagai jumpa

Yang dirahasiakan jejak laju langkah

 

Tawar air mengalir dari sumber waktu

Tawa senyum bibir tertatih buih merah

Pada hal, air tak pernah kawal tawakal

 

Perjumpaan yang kian tasbih di dadanya

Meringkus himpunan kisah pantai Badur

Sebagai ingatan yang dirajam iga kelam

 

Satu jam dua menit kita mandi kesetiaan

Berenang. Bersabun wangi daun cemara.

Khusuk. Membuang peluh sebulan penuh

 

Sumenep, 11 Oktober 2020

 

 

Hujan Oktober

 

Semilir angin

Air mengalir

Daun-daun terkebat waktu

Terseret silau ambigu

 

Pertama kali hujan merayu

Tanah moyang kita ini

Tunduk seperti tabiat puisi

 

Hujan bulan Oktober

Tanggal bulan dan tahunnya

Ranum terediam di matanya

 

Riang raung batu berserah

pada mata batin waktu

Petir kabut langit menyeret peristiwa

Peristiwa hujan kata

 

Hingga jejak deru merias

Gumpalan masa di dadanya

Berteduh rasa sepayung kita

 

Sumenep, Oktober 2020

 

 

 

Kasti

 

Dua belas orang berjajar

Baca juga :  Puisi Nuriman N. Bayan

Berlari menembus puisi

Jumpalitan setengah mati

 

Hujan gerimis petang teriak

Memilih lokalitas bola kasti

Berteduh lirih meronta kata

 

Di tanah kering yang pasrah

Masih saja berkesinambungan

Gemerlap jejak langkah sajak

 

Olahragawan dan sastrawan

Menyusun jejak pasrah pada tanah

Dan menyusun mata puisi kasti itu

 

Lima belas menit dibagi dua

Ia bertandang menyerang bayang

Beralas kasih puri bayang hati

 

Sumenep, 2020

 

 

Pantai Lombang

 

Jumat. setubuh panas cuaca siang ini

Jejak langkah arah menukar ingatan kata

Bertenung gelisah kirmizi pantai kita

 

Riuh gelisah jalan setapak ramai sajak

Tak ada ligofilia yang merajam iga kelam

Yang ada hanya rindu menyapa sayu kalbu

 

Nyanyian angin, gaib batu, masai suara,

Berkecipung di tengah gerak gerik rasa

Menyampaikan lamun sepi sapa puisi

 

Selera panas merias tangis  asmaraloka

Yang kian menyulam tembok juang nafsu api

bernaung jumpa moksa bersalam sapa tawa

 

di sini, di pantai yang penuh sejarah, kita

saksikan saksi cita dan cinta waktu,

berkedip tawa pasir ombak berzikir

 

2020

 

 

 

Asta Gurang Garing

 

Putih. umpamanya adalah batu

Baca juga :  Gema Hadroh

Sabda adalah angin seriuh ingin

Tertatih buih pasir di ubun pesisir

 

Jingkat sekarat batu merayu

Amsal iga tasbih berputar

Menukar ingatan canda tawa

 

Tubuh tangan mata melihat

Gumpalan sedih di makamnya

Berjuang melawan tawa sia-sia

 

Nun jauh diterpa angin badai

Berapakah jalan tertempuh

Dari tajamnya duri waktu?

 

Agar batu nisan tahu serapah

Tubuh yang tersipu, bergejolak

Nafsu langit di musim kemarau

 

2020

 

 

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *