Para Sastrawan Perempuan yang Gemilang

Lembaran sejarah tampak kelewat maskulin. Dalam berbagai buku sejarah kita melulu disuguhkan riwayat-riwayat dengan tokoh utama seorang lelaki. Orang-orang jauh lebih karib dengan nama Julius Caesar ketimbang Cleopatra, Napoleon Bonaparte ketimbang Marie Antoinette, dan Pramoedya Ananta Toer dibandingkan S. Rukiyah. Sejarah sastra pun menunjukkan kecenderungan demikian. Nama-nama sastrawan laki-laki lebih dikenal daripada sastrawan perempuan.

Dalam daftar peraih Nobel Sastra, hanya ada 15 perempuan yang pernah meraih Nobel Sastra. Begitu jomplang dengan jumlah peraih Nobel Sastra berjenis kelamin lelaki sebanyak 101 orang. Padahal jumlah sastrawan perempuan tak kalah banyak daripada sastrawan laki-laki. Syarat seseorang dapat meraih Nobel memang tidak ditentukan oleh gender atau dari mana ia berasal, tapi fakta betapa minimnya perempuan peraih penghargaan sastra paling bergengsi itu menunjukkan kiprah sastrawan perempuan belum mendapat perhatian yang layak.

Di dalam negeri, ada ajang penghargaan tahunan untuk karya sastra Indonesia terbaik yang terbit sepanjang tahun bernama Kusala Sastra Khatulistiwa (dulu Khatulistiwa Literary Award). Sejak pertama kali diadakan pada 2001, sudah ada 43 sastrawan dalam berbagai kategori yang berhasil memenangkan penghargaan tersebut. Menariknya, ada 15 perempuan—sama dengan jumlah peraih Nobel Sastra!—menyabet penghargaan tersebut.

KSK menjadi salah satu bukti bahwa sastrawan perempuan tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka bukan hanya eksis, tapi juga tampil dengan karya-karya memukau yang acap melampaui kualitas karya-karya penulis laki-laki.

Baca juga :  Perempuan Hadhrami dalam Majalah Aliran Baroe

Olga Tokarczuk, pemenang Nobel Sastra 2018 asal Polandia adalah contoh sastrawan perempuan kontemporer yang karyanya menyedot perhatian dunia. Sebelum menyabet Nobel Sastra, ia berhasil mendapat penghargaan Man Booker International—penghargaan sastra setingkat di bawah Nobel—melalui novelnya Flights. Karya-karya Olga berupa novel dan kumpulan cerpen telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.

Selain Olga, tentu masih sangat melimpah sastrawan perempuan yang karyanya memperoleh tepuk tangan dan penghargaan di mana-mana. Dulu ataupun kini sastrawan perempuan tidak hadir hanya untuk meramaikan kancah kesusastraan, tapi juga memberi warna dan bentuk tersendiri. Virginia Woolf, Jhumpa Lahiri, Alice Munro, Arundhati Roy, hingga Nawal el-Saadawi adalah di antara beberapa nama yang karyanya masih terus dibaca dan dibahas pembaca di seluruh dunia.

Dalam konteks Indonesia, kita juga bisa menemukan bukan hanya satu, dua, atau tiga sastrawan perempuan yang karyanya begitu cemerlang. Ada banyak sastrawan perempuan Indonesia yang karyanya perlu kita baca. Untuk menyebut beberapa nama, karya-karya Linda Christanty, Leila S. Chudori, Dee Lestari, Avianti Armand, Irma Agryanti, Okky Madasari, dan Yetti A.KA boleh dijadikan menu pembuka untuk siapa pun yang hendak lebih mengenal karya sastra berbahasa Indonesia yang ditulis oleh perempuan.

Dalam artikel “Sastra dan Perempuan (Bersastra)”, mengutip buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia susunan Kurniawan Junaedhie, penyair Ratna Ayu Budhiarti mengatakan ada sekitar 800-an nama penulis perempuan yang terhimpun dalam buku tersebut. Mereka adalah penulis dari berbagai genre, mulai dari puisi, cerpen, esai, novel, sampai penulis kuliner dan kisah perjalanan; terentang dari tahun 1897-1995.

Baca juga :  Siapa yang Kuasa Atas Tubuh Perempuan

Kalau kita mampir sejenak menengok catatan pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, kita pun akan menemukan beberapa sastrawan perempuan tercatat di sana. Nama-nama semisal Ayu Utami, Dewi Kharisma Michellia, Andina Dwifatma, hingga Nunuk Y. Kusmiana menorehkan sejarah sebagai pemenang utama dan pemenang unggulan—mengalahkan ratusan penulis lain, yang mayoritas lelaki.

Sementara itu, banyak pula sastrawan perempuan yang relatif berusia muda yang hampir tak terdengar namanya, padahal kualitas karyanya di atas rata-rata. Kita mungkin asing dengan nama-nama semacam Raisa Kamila, Kezia Alaia, Ruhaeni Intan, dan Ratri Ninditya. Padahal, mereka adalah para penulis—ada yang menulis puisi, cerpen, dan novel—perempuan yang cukup menarik dan menggembirakan kualitas karyanya.

Selain nama-nama yang saya sebutkan di atas, saya yakin masih sangat banyak nama sastrawan perempuan lain yang gemilang, baik sastrawan non-Indonesia maupun Indonesia.

Pada kesempatan kali ini saya memang berfokus untuk memperkenalkan nama-nama mereka saja, belum mengulik secara mendalam apa yang membedakan mereka dari para penulis lain atau apa saja keunggulan mereka. Sebab, perlu waktu panjang untuk mengupas secara detail mengenai itu. Namun, usaha untuk memperkenalkan nama mereka ke hadapan publik agar membaca karya-karya mereka saya rasa bukan perbuatan sia-sia.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *