Parvin Etesami; Penyair Perempuan Iran yang Peduli Sosial

Parvin Etesami

Persia selama ini dikenal sebagai tanah yang banyak melahirkan para pujangga. Di zaman keemasan Islam, para sufi yang tumbuh subur di sini mengkonsepkan ajarannya dalam balutan syair-syair yang menggugah jiwa. Sebut saja nama Hafez Shirazi, Sa’adi, Sana’i, dan Rumi, selain sebagai mistikus mereka juga dikenal sebagai penyair.

Mereka semua dari kalangan laki-laki. Sementara, penyair perempuan jarang sekali dibahas. Padahal, Iran juga mempunyai sosok penyair perempuan dalam diri Parvin Etesami.

Parvin Etesami adalah penyair yang lahir tahun 1907 di kota Tabriz, Iran. Namun, pada usia lima tahun ia beserta keluarganya harus berpindah ke ibukota, Tehran. Ayahnya yang bernama Mirza Yusef Etesami adalah seorang penulis dan penerjemah.

Profesi ayahnya tersebut telah memberikan pengaruh yang luar biasa dalam mengembangkan bakat kepenyairannya. Dari ayahnya, sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan bukan hanya sastra Persia, tetapi juga Arab. Bahkan, di masa tersebut, ia sudah terbiasa turut serta bersama ayahnya menghadiri pertemuan-pertemuan sastra yang melibatkan sastrawan besar Iran saat itu, Ali Akbar Dekhoda.

Lingkungan yang demikian telah membentuk Parvin kecil untuk akrab dengan dunia sastra. Ia berteman dengan buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan ayahnya. Oleh karenanya, tak heran jika pada usia yang masih sangat belia, 8 tahun, ia sudah berhasil menyusun sebuah puisi. Ia juga sudah mengenal sebagian besar penyair-penyair hebat Persia seperti Rumi dan Nizami di usia 11 tahun.

Kehebatan Parvin tidak berhenti sampai di situ. Di usia 14 tahun, ia berhasil mengejutkan dunia sastra dengan menembus Bahar Magazine dengan puisinya yang berjudul “Hai Burung Kecil”. Majalah tersebut merupakan majalah sastra terkemuka yang berbasis di Tehran.

Perjalanan intelektual Parvin berlanjut ke sebuah sekolah Amerika pada jenjang SMA di Tehran. Di sana, ia dengan cepat mendapat apresiasi dari guru-gurunya atas kecemerlangannya dalam pelajaran.

Berkat hal tersebut, ia terpilih untuk memberikan pidato pada perayaan kelulusan sekolahnya. Ia berhasil memukau para audiens dengan tema yang tidak biasa. Ia membahas tentang situasi perempuan di Timur dan Barat dan penindasan terhadap mereka yang telah berlangsung berabad-abad. Pada kesempatan yang sama, ia juga membuat puisi dengan tema yang sama.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa perempuan di dunia Timur sedang mengalami masa kegelapan yang penuh penindasan. Menurutnya, satu-satunya obat untuk mengakhiri itu semua adalah melalui pendidikan. Perempuan harus memiliki pendidikan supaya mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki. Singkatnya, ia menginginkan kesetaraan.

Namun, kecemerlangan karir Parvin dalam dunia sastra berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya. Pernikahannya hanya bertahan beberapa bulan. Ia pun kembali ke Tehran setelah sebelumnya ikut bersama suaminya tinggal di Kermansyah.

Setelah bercerai, Parvin kembali memfokuskan diri dalam bidang sastra. Sampai akhirnya, sebuah Diwan atau kumpulan puisinya yang terdiri dari 156 syair terbit tahun 1935. Karyanya tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari penikmat-penikmat sastra. Karena karya ini pula, ia diganjar penghargaan dalam bidang seni dan budaya satu tahun berselang. Namun, ia menolak penghargaan tersebut.

Pengakuan terhadap karya Parvin ini datang dari Malekshoara Bahar, seorang kritikus sastra. Ia mengatakan bahwa di Iran tidak mengherankan jika kita menemukan penyair laki-laki yang mengagumkan. Namun, penyair perempuan yang mempunyai talenta yang puisi-puisinya penuh makna dan dalam sangat jarang ditemui. Ini sangat mengejutkan dan Parvin layak mendapat apresiasi.

Puisi-puisi Parvin masih mempertahankan tradisi Persia klasik dalam bentuknya seperti qasida dan ghazal. Namun, isinya merupakan respons terhadap kondisi masyarakat saat itu. Dalam puisinya, ia menyuarakan tema tentang kehidupan, etika, pendidikan, masalah sosial, dan kemanusiaan.

Masalah sosial seperti ketidakadilan dan kemiskinan menjadi topik yang sering dilontarkannya. Hal tersebut dapat dipahami karena Parvin hidup pada masa Shah Pahlevi sebelum terjadi revolusi. Keluarga Shah yang bergelimang kemewahan berbanding terbalik dengan rakyatnya yang banyak mengalami kekurangan. Bahkan, Parvin menolak undangan ratu ketika dimintai oleh beliau untuk menjadi tutor anaknya sebagai bukti keberpihakannya terhadap kaum yang lemah.

Parvin Etesami menghembuskan nafas terakhirnya tahun 1941 akibat terserang demam tifoid. Ia dikuburkan di kota Qom di samping ayahnya yang empat tahun mendahuluinya. Walaupun raganya telah tiada, Parvin tetap hidup dalam puisi-puisinya yang penuh makna. Namanya terukir abadi sebagai salah satu penyair perempuan terbaik yang pernah dimiliki Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *