PCINU United Kingdom: Pemerintah Indonesia Jangan Remehkan Covid-19

LONDON-Pengurus Cabang Istimewa United Kingdom (PCINU UK) berharap Pemerintah Indonesia agar tidak menganggap remeh virus corona. Sebagaimana diketahui, persebaran virus yang bernama Covid-19 itu cenderung naik dan meluas di berbagai negara.

Kasus tertinggi di luar daratan China terjadi di Italia dan Iran, dengan jumlah warga yang diisolasi dan karantina mencapai jutaan warga. Pemerintah Italia mengkarantina lebih dari 16 juta warganya. Sedangkan di Iran pemerintahnya telah memutus perjalanan luar negeri untuk menghindari persebaran Covid-19.

PCINU United Kingdom, menyampaikan sikap:

1. Pemerintah Indonesia harus serius menangani Covid-19, jangan remehkan kasus ini.

Nur Hafida Hikmayani, pengurus PCI Muslimat United Kingdom dan pakar clinical epidemiology mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia harus serius menangani kasus Covid-19. Hafida merupakan lulusan master dari Clinical Epidemiology University of Newcastle Australia dan Doktor bidang Medical Informatics University College London (UCL).

Keterlambatan dalam mencegah merebaknya wabah di suatu daerah itu dampaknya sangat besar. Kalau wabah sudah memasuki suatu wilayah dan menyebar kerugiannya akan sangat berlipat ganda baik dalam hal jumlah korban, waktu dan kerugian lain yang terkait dalam hal ini adalah ekonomi.

Selain itu, yang perlu digarisbawahi adalah budaya ketimuran kita yang sering bersinggungan dengan adat pertemuan dan pengajian dalam kelompok besar, salaman, makan bersama sangat beresiko dalam penyebaran wabah ini. Jika tidak segera diantisipasi dengan himbauan-himbauan untuk hidup sehat, menghindari kerumunan terutama apabila ada yg terindikasi dengan gejala-gejala yang ada.

Baca juga :  Salah Kaprah dalam Menanggapi Isu Corona

2. Pemerintah Indonesia harus belajar dari kasus-kasus dari berbagai negara, di antaranya Italia dan Iran.

Didiek S Wiyono, Rais Syuriah PCINU United Kingdom dan pakar artificial intelligence, mengungkapkan pentingnya pemerintah Indonesia belajar dari kasus-kasus di negara lain, semisal Italia dan Iran. Saat ini, melihat persebaran data pasien yang terkena Covid-19, terlihat stagnan dan cenderung turun di China, negeri asal persebaran virus ini. Tapi, tren cenderung naik dan meluas di beberapa negara lain.

Kasus terburuk terjadi di Italia dan Iran. Negara-negara Eropa juga mengalami peningkatan kasus, dengan data pasien yang terinfeksi Covid-19 yang cenderung naik. Pemerintah Inggris sejak awal, sekitar Januari 2020 sudah menyampaikan warning kepada warganya, serta menyiapkan unit kesehatan (NHS) dan memperketat proses screening dari bandara-bandara.

3. Bahaya Superspreader, Ormas-ormas Indonesia mohon tidak/menunda menyelenggarakan acara dengan jumlah peserta massal.

Kasus terbesar di beberapa negara, semisal Korea Selatan, Italia dan Malaysia di antaranya disebabkan superspreader. Singkatnya, istilah ini adalah proses penyebaran virus dalam jumlah berlipat. Dalam kasus Covid-19, banyak di antara superspreader yang tidak sadar dengan bahaya ini, bahkan tidak merasa sakit. Akibatnya, di tiga negara tadi terjadi lonjakan kasus dari superspreader. Data-data dari teman-teman kawal covid-19, sangat membantu menjelaskan ke publik dari sisi akurasi dan ahli.

Baca juga :  Krisis Ekonomi Akibat Wabah Covid-19: Belajar dari Kisah Nabi Yusuf

Untuk itu, ormas-ormas di Indonesia harus menunda atau membatalkan event yang jumlah massanya besar, dengan mempertimbangkan tren naik dari persebaran corona virus. Kami berharap, ormas-ormas di Indonesia mempertimbangkan aspek maslahat dengan menunda acara-acara pentingnya.

Harapan lainnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertimbangkan untuk menunda event-event besar yang dihadiri massa berjumlah besar, seiring dengan tren naiknya covid-19 dan mempertimbangkan maslahah-mudlaratnya,” ungkap Didiek S Wiyono, Rais Syuriah PCINU United Kingdom, ahli artificial intelligence dan big data.

4. Pentingnya Communication Leadership.
Pemerintah Indonesia harus berbenah, terutama dalam communication leadership di tengah krisis atau bencana.

PM Italia terpaksa mengambil langkah drastis dengan menutup pintu untuk masuk dan keluar (lockdown) di Lombardy dan 14 provinsi lainnya untuk menahan penyebaran coronavirus yang semakin tinggi di Italia. Implikasinya lebih 10 juta orang yang dicoba ditahan pergerakannya termasuk tak boleh ada mass gathering, termasuk wedding ceremony dan sebagainya.

Efek domino Italia ini sungguh terasa di Eropa, jumlah positif di UK melompat naik. Sebagian besar karena baru datang dari Italia atau berhubungan dengan yang baru datang dari negara tersebut. Coba bandingkan dengan situasi di Singapura yang sudah mulai berhasil dikendalikan.

Baca juga :  Mbah Minto dan Tanggung Jawab Sosial Netizen

Semoga tidak terjadi di Indonesia, tidak sampai perlu lockdown. Terkait urusan masker dan cuci tangan saja kita belum kompak antara pemerintah, yang mengaku ahli, dan netizen. Penting bagi pemimpin kita untuk meningkatkan communication leadership, karena terlihat masih krisis dalam penanganan krisis.

Ruly S Santabrata, Wakil Katib Syuriah PCINU United Kingdom, pakar data science.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.