Apik dan Mendidik

Pelajaran Juha pada Anaknya

Pada suatu hari, ketika Juha mengajarkan suluk (menempuh jalan spiritual menuju Allah) pada putranya, keduanya sampai pada dua ujung pertentangan. Ketika Juha memerintahkan anaknya untuk melakukan sesuatu, sang anak menentangnya dan berkata,

“Wahai ayah, apa yang akan dikatakan orang-orang kalau kita melakukan itu?”

Kemudian Sang ayah, Juha ingin mengajarkan suatu pelajaran yang bermanfaat bagi putranya dan menjadikannya berpaling dari upaya mencapai ridla manusia, karena ridla manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai.

Juha mengajak putranya jalan-jalan. Juha menaiki khimarnya, sedangkan putranya dibiarkan berjalan di belakangnya. Baru beberapa langkah, keduanya berjumpa dengan serombongan perempuan.

Mereka meneriaki Juha, “Wahai pak tua, tidakkah di dalam hatimu ada kasih-sayang? Engkau menunggangi kendaraanmu, sementara putramu kau biarkan berjalan di belakangmu.”

Juha lalu turun dan menyuruh putranya menaiki kendaraannya. Keduanya lalu meneruskan perjalanan hingga berjumpa dengan sekelompok  orang tua yang sedang duduk di bawah terik matahari. Pandangan mereka tertuju pada orang tua bodoh yang berjalan kaki dan membiarkan putranya naik di atas kendaraan.

Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai pak tua, engkau berjalan kaki kepayahan karena usia tua dan membiarkan anakmu di atas kendaraan. Setelah itu, kamu berharap anakmu belajar tentang rasa malu dan tata krama?”

Juha berkata kepada putranya, “Kamu dengar itu? Kemarilah, putraku. Sekarang kita naiki bersama khimar ini.”

Setelah beberapa langkah keduanya berjumpa dengan para pecinta binatang. Mereka berteriak kepada seorang lelaki tua dan anaknya,

“Tidakkah kalian takut kepada Allah terhadap binatang yang kurus ini. Akankah kalian menaiki binatang ini bersama-sama, sedangkan berat badan kalian lebih berat dibanding binatang tersebut?”

Lalu Juha dan anaknya turun. Ia berkata pada putranya, “Tidakkah kau dengar itu, putraku? Sekarang sebaiknya kita berjalan bersama-sama. Biarkan khimar itu berjalan di depan kita sehingga kita selamat dari ucapan-ucapan buruk orang-orang.”

Keduanya berjalan beriringan sedangkan seekor khimar berjalan di depannya. Kemudian mereka bertemu sekelompok orang usil. Mereka menjadikan tingkah laku keduanya sebagai bahan senda-gurau dan ejekan.

Mereka berkata, “Demi Allah, tidak ada hak bagi khimar ini kecuali menunggangi kalian berdua sehingga kalian berdua membebaskannya dari beratnya perjalanan.”

Singkat cerita, Juha mendengarkan dan mengikuti ucapan orang-orang usil itu. Juha dan putranya menghampiri sebuah pohon yang ada di pinggir jalan. Ia kemudian memotong dahan yang kuat dan mengikatkan khimar itu pada dahan tersebut.

Mereka berdua lalu memikul khimar tersebut. Belum lewat beberapa langkah, terdapat sekelompok orang mengikuti mereka sambil tertawa melihat pemandangan yang ganjil; seorang polisi menggiring Juha, putranya dan seekor khimar ke Rumah Saki Jiwa.

Sesampainya di Rumah sakit Jiwa, Juha menjelaskan kepada putranya tentang kesimpulan pengalaman yang telah sampai pada puncaknya. Ia menoleh pada putranya dan berkata,

“Wahai putraku, inilah akibat dari orang yang mendengarkan dan mengikuti setiap ucapan orang yang tidak jelas sumbernya (qiila wa qaala), dan tidak melakukan sesuatu perbuatan kecuali karena ingin mendapatkan ridla dan menyenangkan semua manusia.”


Sumber: “Alf Qishshah wa Qishshah min Qashash ash-Shalihin wa ash-Shalihat” karya Haniy al-Hajj

Artikel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: enEnglish

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *