Pelajaran Setelah Ziarah Imam Suyuthi (1)

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir mempunyai tradisi khas sebelum berjibaku dengan ujian. Salah satu tradisi tersebut yakni rutin adalah berziarah ke beberapa makam Dzurriyat (keturunan) Nabi dan ulama yang berada di Mesir. Termasuk yang kami ziarahi sewaktu menjelang ujian adalah Al-Imam Al-Muhaddits Al-Faqih Jalaluddin As-Suyuthi.

Imam Suyuthi ini adalah salah satu ulama kenamaan Mesir dan dunia Islam. Ia juga bisa dikatakan sebagai sebuah ‘keajaiban’ di masanya. Istilah ini disebut oleh Syekh Jamal Mahmud Musthofa, penahqiq (pemeriksa secara seksama dan detail) salah satu kitab Imam Suyuthi.

Bagi santri Indonesia, nama besar Imam Suyuthi bukanlah nama yang asing. Hal ini melihat dari beberapa kitabnya yang banyak menghiasi rak-rak buku para santri, seperti Tafsir Jalalain. Kitab tafsir ini merupakan kitab gabungan bersama gurunya Imam Jalaluddin Al-Mahalli, Al-Itqoon Fii Uluumi Al-Qur’an, Tadriib Ar-Roowiy, Al-Asybah Wa An-Nadzoir, Jam’ul Jawami’ / Al-Jami’ Al-Kabir, dan masih banyak lagi.

Imam Suyuthi sendiri mengisahkan biografinya dalam kitabnya yang berjudul “Husnul Muhadhoroh Fii Taarikhi Mishro Wal Qoohiroh” secara mandiri. Motifnya bukan karena kesombongan atau pengen dikenal lebih jauh tentang kehebatannya, tapi karena mengikuti jejak para ahli hadits sebelumnya.

Sedikit sekali seorang ulama dari ahli hadits yang menulis sejarah kecuali ia menuliskan juga perjalanan hidupnya dalam kitab tersebut. Seperti halnya Al-Imam Abdul Ghoffar Al-Farisiy dalam kitab “Tarikh Naisabur”, Yaquut Al-Hamwiy dalam “Mu’jamul Buldaan”, Lisan Ad-Diin Ibn Al-Khothib dalam “Tarikh Ghornaathoh”, Al-Hafidz Taqiyyu Ad-Diin Al-Farisiy dalam “Tarikh Makkah” dan masih banyak lagi para Ulama yang menuliskan biografinya sendiri dalam kitab karangannya.

Baca juga :  KH Arwani Amin Kudus, Penjaga Ilmu Qira’at Sab’ah

Dari kitab “Husnul Muhadhoroh” ini, Imam Suyuthi menjelaskan bahwa dirinya dilahirkan setelah Maghrib malam Ahad, di permulaan bulan Rajab tahun 849 H. Ia merupakan anak yatim yang ditinggal oleh ayahnya saat usianya masih belia, yakni 6 tahun.

Berkah Doa dari Ulama

Pada masa kecil, Suyuthi muda pernah dibawa oleh ayahnya ke pangkuan Syekh Muhammad Al-Majdzub–salah satu wali besar di zamannya–untuk dibarokahi (Jawa: disuwuk).

Ini pelajaran yang sangat berharga bagi para orangtua yang masih mempunyai anak kecil untuk disowankan ke masyayikh atau kiai untuk didoakan. Intinya disowankan adalah meminta barokah, karena orang-orang mulai itu mbarokahi (memancarkan barokah).

Saya masih sering menyaksikan ketika ada beberapa pengajian ulama, seperti ketika pengajian Habib Ali Al-Jufri, Habib Umar, Syekh Yusri, Syekh Muhanna, atau masyayikh yang lain. Para orangtua menghaturkan anaknya untuk didoakan oleh mereka sekaligus ditahnik. Biasanya para orangtua menunggu sampai mereka para alim kerso (berkenan). Dan tradisi ini masih sangat jarang saya saksikan di daerah di Indonesia, terlebih orang-orang yang tidak mengenal dunia pesantren.

Tentang barokahnya masyayikh dan para kiai ini pernah disinggung oleh Imam Zarnuji dalam Kitabnya “Ta’liim Al-Muta’allim”, bahwasanya Imam Sadiidu Ad-Diin Asy-Syairoziy berkata dengan mengutip gurunya:

من أراد أن يكون ابنه عالما فينبغي أن يراعي الغرباء من الفقهاء ويكرمهم ويعظمهم ويعطيهم شيئا، فإن لم يكن ابنه عالما يكون حافده عالما

Baca juga :  Ziarah Kubur, Bolehkah?

Barang siapa yang menghendaki anaknya bisa ‘alim (mengetahui ilmu-ilmu agama secara mendalam ), maka sebaiknya memelihara, memuliakan, mengagungkan, dan memberikan sesuatu kepada pemuka agama yang ghuraba’ ( pendatang ). Kalaulah tidak anaknya yang ‘Alim, maka akan turun ke cucunya.

Maksud pemuka agama ini bisa dimaknai secara umum, bukan untuk pendatang saja, karena mungkin pemuka agama tempo dulu kebanyakan adalah pendatang, sehingga ia lebih memilih redaksi ini.

Dulu, kiai saya menjelaskan, kalau ingin punya anak yang alim, bawalah ke kiai. Lalu meminta untuk didoakan, sembari membawa sesuatu untuknya, sebagai bentuk memuliakan.

Sowan membawa anak ke ulama inilah yang dilakukan oleh ayahnya Imam Suyuthi. Sehingga ia sekarang kita kenal dengan karyanya yang luar biasa banyak. Keahliannya hampir di semua bidang ilmu, bahkan berkontribusi besar terhadap dunia Islam.

Bersambung….

Turoobul Aqdaam

Darbul Ahmar, 26 Juni 2020

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *