Pemikiran Ibnu Bajjah tentang ‘Tadbir Mutawahhid’

Ibnu Bajjah

Salah satu karya filsafat dari Ibnu Bajjah yang terkenal yaitu manusia penyendiri (al-insan al-munfarid). Dalam buku Sirajuddin Zar yang bertajuk “Filsafat Islam” tertulis bahwa pemikiran ini terdapat dalam kitab Tadbir al-Mutawahhid. Dalam konteks ini, Ibnu Bajjah tidak jauh berbeda dengan pemikiran Al-Farabi yang erat dengan topik akhlak dan politik.

Dalam bahasa Arab, tadbir artinya mengandung banyak pengertian, di antaranya yaitu sebuah perbuatan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dari pengertian ini, dapat diterapkan dengan akal sebagai perantaranya, dan hanya manusia yang dikaruniai akal.

Tentu hal atau segala perbuatan atau tingkah laku manusia juga berdasarkan usaha/ikhtiar dalam mencapainya. Maka dari itu, demikian yang membedakan antara manusia dengan hewan.

Teori Mutawahhid

Sebuah teori Mutawahhid, sebelum adanya pembinaan yang langsung dilakukan pada tatanan sosial suatu masyarakat, Ibnu Bajjah mengatakan bahwa perlu diadakannya pembinaan terhadap suatu pemahaman terlebih dahulu terhadap individu. Hal yang diprioritaskan terlebih dahulu yaitu masyarakat. Artinya, sangat dibutuhkan sekali dalam upaya menyelamatkan tidak stabilnya tatanan sosial dengan cara analisa sosial secara terperinci dan langsung.

Hal ini menandakan arti dari tadbir mempunyai cakupan yang luas. Hal yang dicakup antara lain etika, politik, sosial masyarakat, tatanan kejiwaan, bahkan mencakup tatanan rohani manusia. Hasil pemikiran Ibnu Bajjah tentang manusia penyendiri ini ada kesamaan dengan ajaran tasawuf supaya manusia meniru sifat Allah: takhallaqu bi akhlaq Allah, yang artinya ‘Hiasilah dirimu dengan akhlak-akhlak Allah.’

Maksudnya dari penjelasan ini bukan untuk menyamakan atau menyaingi manusia dengan Allah, namun diharapkan untuk mengembangkan serta menerapkan sifat baik pada diri manusia. Dalam tadbir ini, ada tata cara atau etika terhadap jiwa seorang manusia.

Baca juga :  Rasionalitas dalam Ajaran Islam

Oleh karena itu yang menjadi objek kajian dalam hal ini adalah jiwa manusia sebagai objek suatu kajian dalam ilmu etika. Sedangkan dalam hal politik, tadbir-nya adalah yang sifatnya kemasyarakatan atau sosial. Sehingga objek kajiannya yaitu tentang keilmuan sosial.

Dalam hal ini mempunyai arti yaitu suatu gambaran yang menunjukkan sosok pemimpin dengan siapa yang dipimpin, sama juga halnya dengan raja dengan rakyatnya. Sehingga bisa dikatakan juga dalam hal arti antara rohani dan jasmani seimbang serta selaras.

Sama seperti antara alam semesta dengan Tuhan. Demikian mempunyai arti bahwa yang menggerakkan bagian tubuh dan sikap yang ada pada dalam tubuh atau jasmani kita adalah jiwa atau roh.

Empat Tingkatan dalam Tadbir

Terdapat empat tingkatan yang perlu kita pahami. Pertama, yaitu Tuhan terhadap alam semesta. Tadbir ini tidak termasuk di dalam pembahasan suatu negara yang dikatakan ideal.  Karena tadbir hanyalah bisa dan dilakukan oleh sebuah entitas yang mampu membuat sebuah perubahan dan penalaran.

Dalam penisbatan tentang perubahan dan penularan pada Tuhan sama juga dengan mengurangi kesempurnaan dari Tuhan sendiri. Sedangkan Tuhan Maha Mengetahui tanpa adanya sebuah penalaran. Sifatnya sangat mutlak dan juga mencakup segala aspek kehidupan.

Kedua, yakni tadbir dalam perkotaan. Hal yang ke dua ini tidak begitu penting untuk dibahas, oleh karena itu Ibnu Bajjah tidak membahasnya. Namun, ia hanyalah berkata bahwa pembahasan bab ini sudah ada yang membahasnya, yaitu tokoh filsafat Yunani yang bernama Plato.

Baca juga :  Mengenal Filsafat Islam (Bagian II)

Karena itu, kita dapat mengetahui bahwa Ibnu Bajjah tidak mau membahas atau berpikir sesuatu yang telah dibahas oleh orang atau pendahulu sebelumnya. Namun, ia merancang, membangun serta menata hal terbaru dan yang belum terpikirkan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh sebelumnya.

Ketiga, yaitu tadbir rumah tangga. Ibnu Bajjah menjelaskan bahwa tadbir ini, karena tidak sebagai suatu tujuan, tetapi hanya suatu bagian dari kajian ini yang sifatnya cenderung ke bidang sosial.

Tidak hanya itu, dalam tadbir keluarga ini memiliki peran penting juga yaitu sebagai sebuah perantara untuk menciptakan sesuatu yang sempurna dalam diri maupun suatu negara. Pembahasan ini juga tidak selalu dikaji, namun hanya ada waktu tertentu.

Pada tadbir rumah tangga yang terjadi di masa sekarang ini, belum juga dapat menentukan dan layak untuk masa selanjutnya, kita kenal dengan masa depan. Begitu pun tadbir yang telah terjadi pada masa lampau, juga tidak menentukan selaras dengan masa yang kita jalani saat ini.

Oleh karena itulah mengapa Ibnu Bajjah kurang tertarik untuk membahas tadbir ini. Ia hanya mau mempelajari dan mendalami kajian yang sifatnya universal, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang.

Inilah pandangan Ibnu Bajjah tentang tadbir yaitu, sesuatu yang ada dalam diri seorang manusia. Dari berbagai komunitas dan masyarakat yang ada mungkin hanya terdapat satu orang saja yang seperti ini, hal demikian sangat jarang terjadi dan langka.

Orang-orang yang seperti ini biasanya memiliki pemikiran yang sangat mendalam dibanding anggota komunitasnya, bahkan terkadang dapat dikatakan sesat serta radikal dan sampai terisolasikan (terasingkan). Namun, orang seperti yang dimaksud Ibnu Bajjah tersebut tidak juga ikut larut atau terbawa dalam kesesatan.

Baca juga :  Konsep Negara Ideal dalam Islam Menurut Ibnu Khaldun

Penjelasan di atas menggambarkan, orang yang seperti itu biasanya disebut sebagai Mutawahhidin dan ada pula yang menyebutnya dengan Ghuraba’. Pantas saja dikatakan demikian dalam dunia sufi, karena meskipun mempunyai pemikiran-pemikiran yang mendalam dan tidak banyak yang mengikuti cara berpikir demikian.

Oleh karenanya, tidak sembarang orang dapat mendapatkan suatu kebahagiaan secara individu, hanya orang-orang seperti inilah yang dapat mendapatkannya. Kenapa bisa begitu? Karena tidak semua orang atau individu yang hidup dalam suatu komunitas, bahkan suatu negara yang tidak ideal itu mendapatkan kebahagiaan yang sama dan secara merata. Hal ini karena tidak semua individu atau masyarakat yang ada pada negara tersebut menyelesaikan suatu permasalahan menggunakan akal sehatnya.

Dengan demikian, hanyalah orang tertentu saja, salah satunya seorang filosof atau dalam Islam disebut (al-Mutawahhidin). Merekalah yang mampu menyelesaikan suatu permasalahannya menggunakan akal sehatnya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *