Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir tentang Poligami

kiai afif

Beberapa kiai dan cendekiawan Muslim Indonesia telah banyak yang memuji dan mengagumi keilmuan KH Afifuddin Muhajir. Beliau adalah salah satu pakar dalam bidang Fiqh dan Ushul Fiqh yang saat ini menjadi pengajar di Ma`had Aly PP. Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Situbondo.

Testimoni tentang kealiman Kiai Afif salah satunya bisa diketahui dan dibaca dalam buku KH Afifuddin Muhajir Faqih Ushuli dari Timur. Sebagian dari penulis dalam buku tersebut ada yang menilai bahwa kiai Afif adalah panutan ulama perempuan dan mampu memberikan perspektif lain terhadap teks-teks yang oleh sebagian orang kadang digunakan untuk mendiskriminasi dan mensubordinatkan perempuan.

Salah satu pemikiran Kiai Afif yang membuat saya tertarik menulisnya adalah tentang poligami. Poligami sebenarnya memiliki beberapa persyaratan ketat yang tidak banyak orang mampu memenuhinya. Salah satu syarat yang dimaksud  adalah suami harus mampu berlaku adil.

Dalam Al-Qur’an, ayat yang berbicara tentang poligami, paling tidak ditemukan dua ayat dalam surat an-Nisa` yaitu :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa`: 3).

Dalam menafsiri ayat di atas Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan kebolehan dan bilangan maksimal wanita yang boleh dipoligami. Tapi pendapat mayoritas ulama mengatakan bahwa 4 wanita adalah batas maksimal yang boleh dipoligami.

Adapun yang menarik dan jujur saya pertama kali mengetahuinya dari tulisan Kiai Afif yaitu seakan-akan tidak ada satu lelaki pun yang mampu berlaku adil jika membaca ayat poligami yang selanjutnya, yaitu:

Baca juga :  Pancasila: Kiai As’ad yang Menanamnya, Kiai Afifuddin Muhajir yang Merawatnya

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (النساء : 129  

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. An-Nisa`:129)

Bagian awal dari ayat ini menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu berlaku adil di antara para istri-istrinya, padahal adil merupakan syarat bagi orang yang akan berpoligami sebagaimana dalam surat an-Nisa ayat 3.

Namun kejanggalan ini terjawab dengan penggalan ayat:

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ

Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia adalah keadilan totalitas yaitu keadilan dalam semua persoalan. Oleh karena itu, fuqaha membagi keadilan menjadi 2 yaitu: Pertama, keadilan dalam hal-hal yang konkret-material, seperti dalam masalah nafkah dan giliran bermalam.

Kedua, keadilan dalam hal-hal abstrak-Immaterial, seperti cinta dan benci. Keadilan yang menjadi persyaratan dalam poligami adalah keadilan yang pertama, yaitu dalam hal-hal yang konkret-material.

Adapun dalam masalah cinta dan benci manusia tidak mampu berlaku adil. Oleh karena ini Rasulullah berdoa:

اللهم هذاقسمي فيما املك فلا تلمني فيما تملك ولا املك

“Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka jangan kau cela aku pada sesuatu yang engkau mampu dan tidak aku mampu.”

Dengan dipahami sebagaimana penjelasan Kiai Afif maka hilanglah dugaan terjadinya kontradiksi 2 ayat poligami di atas. Tidak hanya dalam persoalan ini Kiai Afif  bisa memadukan antara ayat-ayat yang sekilas bertentangan, tapi dalam permasalahan-permasalahan lain beliau juga mampu melakukannya.

Misalnya dalam masalah hadits bid`ah, ayat tentang syafa`at, dan yang lainnya. Hal tersebut dapat beliau lakukan berkat kepiawaian dan penguasaan yang mendalam terhadap Ilmu Hadits, Ilmu Tafsir dan  Ilmu Ushul Fiqh.

Baca juga :  Narasi Anti Radikalisme Menurut KH Afifuddin Muhajir (1)
Mengapa Rasullah Berpoligami

Kemudian yang perlu dipahami oleh para pembaca terkait motivasi Rasulullah berpoligami. Rasulullah lebih lama bermonogami dari pada berpoligami. Istri pertama Rasulullah adalah Siti Khodijah. Rasulullah ketika masih beristri dengan Siti Khodijah, beliau tidak melakukan poligami, padahal saat itu poligami menjadi sesuatu yang biasa di kalangan masyarakat Quraish.

Rasulullah memulai melakukan poligami setelah wafatnya Siti Khodijah. Umur beliau ketika berpoligami kurang lebih sudah 55 tahun. Istri-istri yang beliau poligami adalah janda-janda kecuali Siti Aisyah.

Ini membuktikan bahwa motivasi dari poligami Rasulullah bukanlah karena dorongan syahwat. Akan tetapi, Rasulullah berpoligami karena ada tujuan-tujuan mulia. Rasulullah menikahi Zainab karena wahyu dari Allah, Shofiyah dinikahi oleh Rasulullah dengan harapan kabilah di belakang Shafiyah banyak yang masuk Islam.

Hafsah binti Umar dan Aisyah binti Abu Bakar dinikahi karena untuk lebih mempererat tali silaturahmi persahabatan beliau. Rasulullah menikahi Ummu Salamah untuk melindungi anak-anaknya yang yatim dan mengurangi beban hidup Ummu Salamah.

Rasulullah Sang Feminis

Jadi Rasulullah adalah seorang feminis Muslim pertama yang tampil berani membela hak-hak kaum perempuan. Dengan poligami, maka istri-istri Rasulullah akan tampil menjadi perempuan sholehah, cerdas, dan mandiri. Di mana pada masa-masa sebelumnya perempuan tidak banyak diberi kesempatan untuk maju. Dengan poligami inilah Rasulullah mencetak perawi hadist, penghafal Quran, mufti dan sebagainya.

Poligami Rasulullah memang sarat dengan setting penyelesaian beragam persoalan sosial saat itu. Ketika lembaga-lembaga lain lumpuh dan tidak mampu memberikan jalan keluar terhadap persoalan sosial kemasyarakatan, syariat Islam tampil dengan performa transformatif.

Rasulullah mempunyai misi mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan yang sebelumnya menjadi kaum yang termarginalkan dan tersubordinatkan.

Nabi menegaskan bahwa sebaik-baik laki-laki Muslim adalah dia yang bersikap baik terhadap istrinya. Beliau menganjurkan lelaki agar memberikan perhatian lebih kepada perempuan karena kelemahan dan keterbatasannya. Nabi bersikap adil dalam giliran tidur bersama istri-istrinya, pemberian tempat maupun nafkah.

Baca juga :  Gusti Nurul; Perempuan Pujaan dan Penentang Poligami
Rasulullah Melarang Ali Berpoligami

Terakhir, saya ingin memaparkan penjelasan Kiai Afif terkait adanya larangan Rasulullah kepada Sayyidina Ali ketika hendak mempoligami Sayyidah Fatimah. Menurut Kiai Afif jika ditimbang lebih jauh, sikap Rasulullah  melarang Sayyidina Ali untuk berpoligami tampaknya lebih ideal dari pada memberi restu.

Karena kalau Rasulullah memberi izin kepada Sayyidina Ali, maka harus ditiru oleh umatnya. Jadi mertua harus merelakan menantunya menikah lagi dengan perempuan lain. Ini adalah pilihan yang berat. Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa beliau adalah manusia biasa.

Jadi secara kemanusiaan, memang semestinya mertua tidak mengizinkan anaknya dimadu.

Sampai di sini dapat diambil benang merah, bahwa larangan  Rasulullah dalam masalah poligami ini bukanlah larangan yang berkonsekuensi haram dan tidak boleh. Tapi hanya larangan yang timbul dari diri Rasulullah dalam kapasitas beliau sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, poligami tetap diperbolehkan apabila memenuhi syarat-syarat yang  telah ditetapkan.

Terakhir, saya ingin mengutip pernyataan salah satu murid Kiai Afif yang saat ini telah menjadi profesor dan juga merupakan guru saya, yaitu Prof. Dr. Abu Yasid bahwa ayat tentang poligami pada surat An-Nisa` yang telah ditulis di atas, hendaknya jangan dipasung untuk melegalkan pemuasan libido seksual kaum lelaki.

Sebaliknya, ayat ini mesti diletakkan dalam kajian syariat yang membebaskan dengan tidak mengesampingkan aspek kesejarahan tentang praktik poligami yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Dengan perspektif seperti ini, dimensi moralitas dalam ayat poligami di atas menjadi titik sentral untuk dipertimbangkan. Sebab, Hukum tanpa etika adalah kedurjanaan dan etika tanpa hukum hanyalah utopia yang jauh dari bangunan pranata sosial yang harmonis dan diidamkan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *