Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyyah

Ratusan tahun Belanda menjajah Indonesia, masyarakat hidup dalam kenestapaan. Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) yang lahir dan tumbuh besar di Padang Panjang, Sumatera Barat, merasakan kegetiran masyarakat. Ia pun terpanggil untuk berkontribusi dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Komitmen dan dedikasi Rahmah mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri pada 1 November 1923 merupakan salah satu bentuk nasionalisme. Bangsa ini akan terbebas dari penjajahan apabila masyarakatnya memiliki kesadaran sebagai kaum terjajah dan berjuang untuk lepas dari belenggunya. Rahmah menganggap pendidikan sebagai faktor penting untuk menumbuhkan kesadaran itu.

Selain membekali dengan pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga jalan untuk melahirkan generasi yang peduli terhadap bangsa. Rahmah mendidik perempuan agar bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan Tanah Airnya.

Perguruan yang Rahmah dirikan masih eksis sampai kini. Bahkan menginspirasi Universitas Al-Azhar mendirikan Kulliyatul lil Banat. Pada tahun 1957 Rahmah mendapatkan gelar “syeikhah”. Ini merupakan gelar kehormatan yang Universitas Al-Azhar berikan untuk pertama kalinya kepada seorang perempuan (Hamka, 1961; Chairil Ghazali, 1983; Sanusi Latif, dkk. 1981; Aminuddin Rasyad, dkk, 1991).

Nasionalisme Rahmah terekam dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang yang bermertamorfosis menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Para pejuang kemerdekaan mengakui jasa-jasa Rahmah itu, sehingga menyebutnya sebagai “Bundo Kandung”.

Rahmah juga aktif dalam organisasi kaum ibu, organisasi sosial, dan organisasi politik. Saat pemilihan umum (Pemilu) 1955, Rahmah terpilih sebagai wakil rakyat untuk Daerah Pemililihan Sumatera Tengah.

Konsep Pemikiran Rahmah dalam Pendidikan

Konsep pendidikan Rahmah masih relevan dan aktual sebagai refleksi-aksi di masa kini. Pertama, urgensi pendidikan perempuan sebagai agen perubahan sosial. Perempuan sebagai calon ibu adalah pendidik anak-anak yang akan menentukan wajah masyarakat, bangsa, dan negara di masa mendatang.

Rahmah menyadari hal ini sehingga ia menggariskan tujuan pendirian lembaga pendidikannya dengan: Ibu Pendidik. Seorang perempuan juga niscaya memiliki ilmu agama dan ilmu-ilmu lain demi menunjang perannya dalam kehidupan keluarga, lingkungan masyarakat maupun bangsa dan negara dalam skala lebih luas.

Kedua, tidak ada dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum. Setiap manusia wajib menuntut ilmu demi mengembangkan akal budi dan memperbanyak amal kebaikan. Semua ilmu asalkan maslahat sangat perlu dipelajari. Perempuan harus giat menuntut semua ilmu dengan spirit pengabdian kepada Allah Swt.

Ketiga, menjadi guru, menjadi pendidik. Tugas seorang guru adalah suatu tugas yang besar dan suci, yang dituntut oleh agama dan bangsa kita, kata Rahmah. Bagi Rahmah, tugas seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik.

Keempat, kesejahteraan guru tak boleh diabaikan. Selain menuntut profesionalitas guru, pemerintah seyogianya juga memperhatikan kesejahteraan guru. Rahmah pernah berkata, “…perlu benar nasib-nasib guru itu diperhatikan oleh pemerintah. Yang terutama sekali tentang penghidupannya haruslah dicukupkan, baik yang berupa bahan makanan ataupun lain keperluannya.

Selain dari mencukupkan keperluan hidupnya, harus juga diusahakan agar sedapat mungkin diadakan suatu badan yang berupa koperasi guna keperluan guru-guru…Dengan jalan adanya koperasi itu, tentulah dapat juga meringankan bagi guru-guru itu dalam soal perbelanjaannya.” (Aminuddin Rasyad, dkk., 1991).

Rahmah melanjutkan, “Kalau nasib guru-guru tidak mendapat perbaikan, mungkin hal ini membawa akibat yang kurang baik bagi jalannya pendidikan, yang berarti kerugian bagi umumnya rakyat. Lebih lanjut saya berpendapat, sedapat mungkin di tiap-tiap negeri di mana ada sekolah, haruslah negeri itu mengusahakan adanya kebun atau yang berupa pertanian lain yang menghasilkan bahan makanan, yang mana hasilnya itu dipergunakan untuk guru-guru, sedangkan yang mengerjakannya dipakai tenaga rakyat dengan cara bergotong royong.”

Kelima, pendidikan harus terhindar dari kepentingan pragmatis politik. Rahmah berkata, “Sekolah ini saya dirikan untuk semua rakyat Indonesia, tidak boleh dimiliki atau dimonopoli oleh satu golongan saja.” (Majalah Femina No. 131 tertanggal 11 April 1978. Majalah ini memuat profil Rahmah dengan judul Rahmah El Yunusiyah (1900-1969)).

Rahmah bukan berarti antipolitik. Sekolah memiliki tujuan asasinya sendiri dalam mendidik kader-kader bangsa. Ia menoleransi warna dan ragam aliran politik yang dimiliki para murid di lembaga pendidikannya, namun tidak boleh berpolitik praktis di lembaga pendidikan hanya demi kepentingan golongan tertentu.

“Perguruan Diniyyah atau sekolah manapun juga hendaklah disingkirkan selama-lamanya dari pengaruh politik. Meskipun masyarakat terbagi dalam berbagai pikiran politik, namun terhadap sekolah-sekolah hendaklah masyarakat itu bersatu dalam pembinaannya,” kata Rahmah (Majalah Femina No. 131 tertanggal 11 April 1978).

Membaca jejak hidup Rahmah dalam uraian singkat tentu tak memuaskan dahaga. Namun, dari sekelumit itu, kita bisa mendapatkan inspirasi, refleksi, spirit, dan motivasi dari Perempuan Merah Putih Bergelar Syaikhah ini. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *