Pendidikan Karakter Berbasis Manuskrip Keagamaan

Perilaku keberagamaan remaja dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan. Hal ini dikarenakan terdapat indikasi bahwa beberapa remaja terpapar oleh paham radikal. Dari pemberitaan media massa diketahui bahwa terdapat beberapa remaja yang tertangkap Densus 88 karena diduga terlibat dalam jaringan terorisme.

Pada tahun 2016, misalnya, seorang remaja berumur 17 tahun terlibat dalam aksi teror bom di Gereja Santo Yosep Sumatra Utara (Solopos, 2016). Selain itu, seorang remaja kelas dua Sekolah Mengah Atas (SMA) bernama Andika Bagus Setiwan, menjadi tersangka peracik bom dan ditengarai sebagai anak buahnya Bahrun Naim, tokoh ISIS Tribun news, 2016).

Dua remaja tersebut merupakan contoh kecil remaja yang terpapar paham radikal dan kemudian terlibat dalam aksi terorisme. Selain mereka masih terdapat remaja remaja lain yang juga terpengaruh dan terlibat dalam aksi terorisme, misalnya, Dani Dwi Permana, usia 18 tahun, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot Jakarta. Arya Wiratma, remaja berumur 17 tahun, ditangkap Densus 88 terkait dengan kasus teror bom di Klaten, Sleman dan Yogyakarta (Nurhidayah, 2014: 216).

Fenomena keikutsertaan remaja dalam gerakan teror tersebut menjadi kekhawatiran banyak pihak karena remaja merupakan generasi penerus bangsa. Apabila mereka buruk maka masa depan bangsa juga bisa menjadi buruk, pun demikian sebaliknya, apabila mereka baik maka masa depan bangsa juga bisa menjadi baik pula. Beberapa studi telah menyebutkan bahwa remaja ini merupakan kelompok yang rawan terpengaruh paham keagamaan radikal.

Baca juga :  Praktik Pengembangan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan Keagamaan

Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pada tahun 2010-2011 di SMA di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, memperlihatkan bahwa 50 % pelajar setuju dengan tindakan radikal. Sebanyak 25% siswa dan 21% guru mengatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi. Ada 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. 52,3% siswa setuju dengan penggunaan cara kekerasan untuk solidaritas agama, bahkan 14,2 % siswa setuju dengan serangan bom (Bbc.com, 2011, Sindonews, 2016).

Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang pada tahun 2017 terhadap beberapa sekolah SMA di Jawa Tengah dan Yogyakarta menyatakan bahwa beberapa tahun yang lalu terdapat sekolah SMA yang pernah kemasukan paham keagamaan radikal.

Kemudian, pihak sekolah telah melakukan pengawasan lebih ketat terhadap kegiatan-kegiatan kerohanian siswa di sekolah, juga melakukan kegiatan pencegahan agar paham keagamaan radikal tidak masuk ke sekolah. Selain itu, studi ini juga memperlihatkan bahwa secara umum pandangan dan sikap remaja tersebut masih dalam kategori toleran dan bersikap positif terhadap nilai nilai kebangsaan.

Lebih lanjut dijelaskan dalam studi tersebut bahwa kegiatan kegiatan kerohanian Islam di sekolah dapat berperan dalam meningkatkan wawasan keagamaan dan pembentukan sikap positif terkait nilai kebangsaan (Balai Litbang Agama Semarang, 2017).

Baca juga :  Tata Kelola Jaminan Produk Halal pada Pasar Rakyat di Kota Besar

Diseminasi hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut perlu untuk dilakukan sehingga masyarakat dapat menerima informasi yang tepat terkait dengan kondisi keberagamaan yang terjadi pada remaja remaja dan atau siswa siswi SMA di sekolah. Salah satu cara diseminasi tersebut adalah dengan cara penerbitan buku.

Selain itu, penerbitan buku yang didasarkan pada hasil penelitian merupakan bagian penting untuk memberikan kontribusi dalam perbukuan nasional, memberikan bacaan alternatif kepada masyarakat serta menjadi bagian untuk menumbuhkan literasi di masyarakat.

Hal ini selaras dengan tujuan dari Undang-undang nomor 3 tahun 2017 tentang perbukuan. Lebih lanjut, di tengah maraknya penerbitan buku nasional akhir akhir ini dan semakin meluasnya informasi melalui akses internet yang tidak terbendung, kehadiran terbitan buku ini menjadi salah satu cara untuk mengimbangi informasi informasi yang beredar saat ini.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: smaityabis.sch.id

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.