Pengakuan Seorang Pejuang Khilafah

Judul: Pengakuan Pejuang Khilafah
Penulis: Ed Husain
Penerjemah : Rh. Widada
Penerbit: Gading Publishing
Tahun Terbit: Maret, 2017
Kota Terbit: Yogyakarta
Tebal buku: xviii + 316 halaman
ISBN: 978-602-0809-33-5

Wacana Islam politik atau cita-cita untuk mewujudkan sebuah tata pemerintahan berlandasakan ajaran Islam belakangan menjadi salah satu pembicaraan yang cukup populer di kalangan kawula muda muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Narasi dan bentuknya bermacam-macam. Mulai dari hal yang sifatnya sederhana, seperti kampanye yang mengajak untuk berhijrah. Hingga berbentuk kampanye-kampanye NKRI Bersyari’ah sampai jargon-jargon memperjuangkan berdirinya kekhalifahan Islam.

Buku ini menceritakan perjalanan seorang pemuda muslim yang bergulat dengan pencarian identitas keislamannya dan sempat pula terlibat aktif dalam memperjuangkan gerakan Islam politik di Inggris. Ia bernama Ed Husain, seorang pemuda yang lahir dari keluarga imigran asal Pakistan-India di London, Inggris. Keluarganya berlatar belakang muslim tradisionalis yang menganjurkan praktik-praktik tarekat/sufistik. Akan tetapi, karena pertemuan Ed dengan temannya seorang aktivis Islam politik, kemudian membuatnya terjerumus dalam gerakan tersebut.

Pada mulanya, Ed tumbuh dalam keluarga dan lingkungan pendidikan yang baik dan jauh dari sikap-sikap ekstrimis dalam berislam. Bagi keluarga Ed, nama-nama ideolog Islam politik seperti Maududi dan Sayid Qutb haram untuk dibicarakan di rumah. Ayah dan ibu Ed merupakan penganut ajaran tarekat dan sufistik tradisional yang taat. Bagi keluarga Ed, Islam politik bukanlah ajaran Islam. Ia hanya menggunakan nama Islam untuk menutupi ambisi politiknya.

Di masa kecilnya, Ed juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan di Inggris yang multikultural dan penuh toleransi. Guru-gurunya Ed di SD Sir William Burrough, Limehous juga merupakan sosok-sosok yang mendidik murid-muridnya dengan semangat menghargai setiap perbedaan. Di sekolah dasar, seperti anak lain yang tumbuh besar di Inggris, Ed dikenalkan dengan sastra, musik, seni, dan kebudayaan dengan baik.

Baca juga :  Hagia Sophia dan Counter Narasi Revivalisme Khilafah
Ed, Aktivis Hizbut Tahrir

Perkenalan Ed Husain muda dengan gerakan Islam politik dimulai dari temannya bernama Falik. Falik seorang aktivis Young Muslim Organization (YMO). YMO memiliki afiliasi ke Jama’ah Islamiah di Inggris. Organisasi ini bermarkas di Masjid London Timur.

Sebagaimana penjelasannya Ed, Masjid London Timur bukan hanya sebagai tempat ibadah pada umumnya. Ia merupakan tempat kontestasi dari berbagai faksi Islamis di London. Aksi saling sikut para gerakan ini tak main-main. Bahkan sampai menggunakan aksi kekerasan dalam perebutannya.

Ed mulanya hanya ikut-ikutan dalam kajian yang dilakukan YMO di masjid tersebut. Keikutsertaan Ed dalam kegiatan liqo’-liqo’ YMO ini hanya mencuri-curi kesempatan dari pengawasan orangtuanya. Ayah Ed mewanti-wanti anaknya untuk menjauhi segala aktivitas Islam politik. Dengan rasa penasaran Ed mengikuti dan aktif dalam setiap sesi diskusi YMO.

Lambat laun, Ed terdoktrin dengan ideologi politik YMO. Akhirnya ayah Ed mengetahui aktivitas anaknya yang ikut dalam gerakan yang dalam kepercayan ayahnya jauh dari ajaran Islam yang sesungguhnya itu. Bahkan, hingga pada suatu waktu ayahnya mengusir Ed dari rumah. Dan akhirnya Ed tinggal di Masjid London Timur. Dari situlah kemudian semakin memperteguh hatinya sebagai aktivis YMO.

Setelah Ed jauh dan meninggalkan keluarganya, ia semakin aktif terlibat sebagai aktivis Islam. Hingga Ed memiliki posisi penting dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai ketua organisasi kesiswaan di SMAnya. Di SMA ia membuat berbagai kegiatan propaganda Islamis kepada siswa-siswi yang lain. Bahkan ia sempat berhasil membuat gerakan pemakaian hijab bagi siswi perempuan yang muslim di sekolah tersebut.

Baca juga :  5 Obrolan Sufistik Ini Bisa Gugah Spiritualitas Kita

Gerakan Islamisasi yang dilakukan Ed dan kawan-kawannya tersebut membuat pihak kepala sekolah khawatir. Karena gerakan tersebut sangat bias multikultural. Bahkan gerakan propagandanya malah cenderung intimidatif dan diskriminatif.

Ketika Ed dalam puncak karir keorganisasiannya di SMA, ia kemudian bertemu dengan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir (HT). Pertemuan dengan aktivis-aktivis HT tersebut ternyata membuat Ed simpati kepada gerakan khilafah yang diusung HT.

Menurutnya, HT lebih intelektual dan mampu menjelaskan permasalahan-permasalahan yang dialami dunia muslim saat ini. Baginya HT lebih maju dari YMO yang cenderung dekaden. Lambat laun kemudian, Ed keluar dari YMO dan ia masuk HT. Di HT, ia mempunyai karir yang cukup cemerlang.

Meninggalkan Gerakan Khilafah dan Kembali kepada Sufisme

Suatu waktu, keyakinannya akan khilafah tergoyah karena suatu peristiwa di sekolahnya. Saat itu kawannya melakukan pembunuhan terhadap pemuda dari kelompok lain. Pembunuhan itu didasari oleh semangat doktrin khilafahisme. Dari situlah ia mempertanyakan keyakinannya bahwa apakah Islam memperbolehkan kekerasan dalam memperjuangkan cita-cita politiknya.

Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganngu pikirannya. Ia merefleksikan dalam-dalam kejadian itu. Apalagi ia juga mendapat dukungan dari keluarganya untuk memikirkan kembali keyakinannya akan gerakan Islam politiknya. Dari situlah kemudian ia mulai mengingat kembali kepercayaan dan wejangan ayahnya bahwa Islam politik seperti HT itu bukanlah memperjuangkan Islam. Sesungguhnya ia hanya menggunakan Islam untuk menjaring massa dan menutupi syahwat politiknya.

Ed pun mulai lagi mempelajari dunia tasawuf. Ia mencari mursyid tarekat untuk memperdalam keislamannya. Lama kelamaan ia semakin mengimani ucapan ayahnya bahwa jika ingin memperdalam Islam yang sejati ya harus kembali kepada sufisme. Dan ia juga mengamini bahwa dalam gerakan Islam politik maupun khilafah ala HT pada dasarnya jauh dari substansi ajaran Islam.

Baca juga :  Membersihkan Ajaran Sufisme Ibnu Arabi dari Term-term Filsafat

Tak puas hanya di Inggris. Ed bersama istrinya memutuskan untuk mendalami tarekat di Suriah. Setelah semakin lama menggeluti dunia sufisme, ia semakin yakin akan jalur tarekat. Ia menemukan manisnya berislam dalam tarekat. Dan ia pun melupakan utopia cita-cita negara Islam ala Islam politik dan HT. Hal itu diperkuat lagi ketika ia memutuskan untuk bekerja di Arab Saudi. Ia kecewa dengan negara yang mendaku negara Islam tersebut. Bahkan menurutnya lebih beradab Inggris dari pada Arab Saudi. Di Arab rasisme meraja lela.

Dari perjalanan Ed Husain yang kecewa dengan Islam politik dan gerakan khilafah ala HT yang menurutnya kering dari spiritualitas Islam dan jauh dari substansi ajaran Islam. Sangat menarik jika buku ini dibaca oleh kalangan muda muslim di Indonesia yang belakangan ini sedang populer narasi-narasi dan propaganda ala Islam politik. Pengalaman Ed Husain bisa menjadi pembelajaran kita supaya kita tidak terjebak dengan utopia para Islamis yang belakangan semakin menyeruak.[]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.