Pengertian Toleransi Menurut Bahasa dan Istilah

Pengertian toleransi

Istilah “toleran” atau “toleransi” belakangan ini menjadi perbincangan dan perdebatan yang tidak sedikit khususnya di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu yang menjadi faktor mengapa hal tersebut bisa terjadi, yakni karena  definisi/pengertian toleransi yang belum disepakati bersama terutama dalam kalangan umat Islam.

Wacana toleransi di Indonesia nampaknya tidak akan mudah tenggelam di tengah berbagai isu yang viral silih berganti. Mengapa demikian ini bisa terjadi? Kita tahu bahwa Indonesia merupakan yang multikultural; beragam suku, tradisi, agama, bahasa, dan lain sebagainya. Keberagaman inilah yang mau tidak mau istilah toleransi selalu dihadirkan dalam setiap pergumulan sesama identitas maupun antaridentitas.

Arti Toleransi Secara Bahasa dan Istilah

Secara etimologi atau bahasa, toleransi (Inggris: tolerance) merupakan kata benda (noun), sedangkan toleran (Inggris: tolerant) sebagai kata sifat (adjective). Dalam kamus Al-Munawwir (2009: 657), kata bahasa Arab yang bermakna toleransi yaitu tasamuh (التَّسَامُح). Untuk kata padanannya misalnya samh (السمح), samhah (السمحة), samahah (السماحة) berarti toleran, kemurahan hati, kelapangan dada.

Tasamuh dan kata padanannya berakar dari kata samuha (سَمُحَ) yang mempunyai banyak arti; murah hati, suka berderma, memberikan, mendermakan, mengizinkan, bersikap halus, lemah lembut dan ramah.

Secara terminologi atau istilah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1538), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Tidak jauh berbeda dengan KBBI, Cambridge Dictionary mendefinisikan toleransi (tolerance): the ability to deal with something unpleasant or annoying, or to continue existing despite bad or difficult conditions (kemampuan untuk menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan atau mengganggu, atau untuk terus ada meskipun dalam kondisi yang buruk atau sulit).

Sedangkan American Dictionary punya definisi sendiri mengenai tolerance: willingness to accept behavior and beliefs that are different from your own, even if you disagree with or disapprove of them (kesediaan untuk menerima perilaku dan keyakinan yang berbeda dari Anda, bahkan jika Anda tidak setuju atau tidak setuju dengannya).

Pengertian Toleransi Secara Istilah Para Ahli

Berikut ini beberapa pendapat mengenai pengertian toleransi secara istilah dalam Islam yang dikemukan oleh para ahli atau cendekiawan Muslim Indonesia.

Abdurrahman Wahid

Faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, yaitu mau menang sendiri tanpa batas. Jadi, tidak ada toleransi. Sikap saling menghormati, dialog antaragama, jika sudah tentu sifat-sifat bersaing dapat diatasi dengan baik (Wahid & Ikeda, 2011: 173). Toleransi keberagamaan tidak cukup sebatas hidup berdampaingan secara damai (peaceful coexistence). Lebih dari itu, toleransi harus diwujudkan dalam kesediaan untuk saling belajar, memberi dan menerima (take and give) di antara umat beragama (Muhaimin, 2010: 9-10).

Ahmad Syafi’i Ma’arif

Budaya toleransi yaitu mengakui keberbagaian dan kemajemukan itu secara sadar dan dengan sikap positif. Tidak saja agama dan budaya yang beraneka ragam, bahasa dan warna kulit manusia pun sarat dengan kemajemukan. Sebagaimana makna Surat Ar-Rum ayat 22 ini: Dan di antara  ayat-ayat-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan lisan (bahasa)-mu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berilmu. Dengan demikian, kemajemukan itu memang sengaja diciptakan Allah agar peradaban umat manusia penuh warna dan saling memperkaya (Ma’arif, 2009: 172).

Nurcholish Madjid

Semangat saling menghormati yang tulus dan saling menghargai yang sejati adalah pangkal bagi adanya pergaulan kemanusiaan dalam sistem sosial dan politik yang demokratis. Semangat itu dengan sendirinya menuntut toleransi, tenggang-menenggang dan keserasian hubungan sosial (Madjid, 2008: 34).

Husein Muhammad

Penyebutan toleransi (at-tasamuh) mengandung makna suatu pandangan, sikap mental, dan cara bertindak memudahkan, lapang dada, lega hati, dan berkenan memberi ruang kepada orang Iain. Tidak mempersulit, atau memberatkan, atau memaksakan kehendak kepada orang lain. Dalam taraf yang lebih tinggi, toleransi adalah sikap menghargai dan menyambut “liyan“, dengan hangat, meskipun berbeda keyakinan dengan dirinya. Cara pandang dan tindakan seperti ini tidak sama dan bukan berarti mengakui kebenaran keyakinan orang lain yang berbeda agama dan keyakinan dengan dirinya. Demikian pula pengakuan dan penerimaan atas pluralisme tidak berarti menyamakan agama dan tidak pula membenarkan sinkretisme, sebagaimana pandangan sebagian orang (Husein, 2020: 109-110).

Ma’ruf Amin

Secara teologis, agama Islam sangat toleran. Makanya dalam Al-Qur’an disebut lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Terinspirasi ayat ini, oleh para ulama dikembangkan lebih dalam lagi karena perbedaan mazhab, lakum mazhabukum wa lanaa mazhabunaa, bagimu mazhabmu dan bagiku mazhabku, atau juga bisa mengatakan ―mazhab saya mazhab saya dan mazhab anda mazhab anda. Jadi, masing-masing mazhab di dalam beberapa aspek memiliki metode, hasil hukum, hingga paradigma yang berbeda-beda (Zidni, 2018: 166-167).

Ulil Abshar Abdalla

Muslim yang baik adalah muslim yang soleh pada tingkat personal dan soleh sosial. Nah soleh personal itu ditandai dengan ibadah. Ini penting karena parameter utama. Ikatan kita dengan Al-Qur’an juga penting. Saleh sosial itu toleransi terhadap agama yang berbeda (Idntimes, 2020).

Alwi Shihab

Penerimaan terhadap perbedaan menghasilkan sebuah perilaku yang disebut sebagai toleransi, sebaliknya penolakan terhadap  perbedaan mengarah pada intoleransi yang menuntun kemunculan tragedi yang berkecenderungan melahirkan ekstremisme. Toleransi merupakan jalan yang diamanatkan dalam Islam. Kekuatan toleransi terdapat pada optimisme kedamaian di mana pun individu dan kelompok berada. Sebaliknya, absennya toleransi dalam kehidupan menandakan kebangkrutan kedamaian dan memicu kekonflikan (Alwi dkk, 2019: 2-3).

Muhaimin Iskandar

Toleransi adalah nilai dan tradisi yang niscaya dalam sebuah masyarakat yang majemuk dan multikultur. Tanpa toleransi, masyarakat akan selalu berada dalam suasana konfliktual yang destruktif, saling bermusuhan, penuh arogansi dan tidak stabil. Toleransilah yang bisa membuat perbedaan menjadi kekuatan, mentransformasikan keragaman menjadi keharmonisan. Toleransi memungkinkan masyarakat plural bergerak maju secara dinamis dalam situasi sosial yang damai dan stabil. Toleransi merupakan ajaran semua agama dan budaya, apalagi dalam masyarakat majemuk dan multikultur seperti Indonesia (Muhaimin, 2010: 15-16).

Umar Hasyim

Toleransi yaitu pemberian kebebasan pada sesama manusia ataupun pada sesama warga masyarakat untuk menjabkan keyakinan atau mengatur hidup dan menentukan nasibnya sendiri selagi dalam menjalankan dan juga menentukan sikapnya tersebut tidak melanggar dan tidak berlawanan denyan syarat asas terciptanya ketertibban dan juga perdamaian masyarakat (Hasyim, 1979: 22).

Demikian penjelasan ringkas mengenai definisi/pengertian toleransi menurut bahasa dan istilah yang dikemukakan oleh para ahli.

 

Sumber Bacaan:

A. Muhaimin Iskandar, Melanjutkan Pemikiran & Perjuangan Gus Dur, (Yogyakarta: LKiS, 2010).
Abdurrahman Wahid & Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, Cet-II, Jakarta: Gramedia, 2011).
Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, (Bandung: Mizan, 2009).
Alwi Shihab, dkk, Islam & Kebhinekaan, (Jakarta: Gramedia, 2019).
Husein Muhammad, Islam yang Mencerahkan dan Mencerdaskan, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2020).
M. Zidni Nafi’, Menjadi Islam, Menjadi Indonesia, (Jakarta: Quanta Gramedia, 2018).
Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, Edisi Baru, (Bandung: Mizan, 2008).
Umar Hasyim, Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar menuju Kerukunan Antar Umat Beragama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1979).
Vanny El Rahman, Berislam dengan Spiritual dan Rasional: Belajar dari Ulil Abshar, Idntimes.com, 6 Mei 2020.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *