Penghormatan Islam Terhadap Akal dan Pengetahuan

Islam dan akal

Mohammad Natsir merupakan seorang intelektual, aktivis pergerakan yang juga dianggap sebagai cendikiawan muslim. Ia lahir di Padang pada tahun 1908. Natsir pun dikenal sebagai politisi (pimpinan) partai Masyumi.

Tulisan ini mencoba meninjau bagaimana pandangan Natsir selaku intelektual atau cendikiawan muslim mengenai penghormatan Islam terhadap akal dan pengetahuan, dan tidak mengulas kiprah politik Natsir di Masyumi.

Penting untuk dikemukakan, bahwa Islam lahir di tengah suatu kaum yang umumnya bersifat ummi, buta baca dan tulis. Tidak hanya itu, Islam pun lahir di tengah suatu kaum, di mana hak kekuasaan semata-mata berdiri di ujung pedang terhunus, kemuliaan dan kehinaan bergantung pada keberanian menyabung nyawa dan kemahiran memainkan senjata.

Itulah gambaran yang diberikan Mohammad Natsir mengenai masa Arab pra-Islam dalam bukunya Islam dan Akal Merdeka (edisi 2015). Ini merupakan buku yang disusun berdasarkan tulisan-tulisan Natsir muda yang dimuat di Majalah Panji Islam, yang berlangsung sepanjang tahun 1934-1940.

Dalam tersebut, Natsir mengungkapkan, meski Islam hadir di tengah realitas masyarakat yang demikian, Islam justru mengajarkan bahwa pokok dari kecerdasan dan kemuliaan yang sejati itu di dapat dengan ilmu.

Lebih lanjut, Natsir (2015) menulis “ilmu yang diperoleh dengan kepandaian tulis-baca. Tulis-baca, perkakas penyiaran ilmu antara golongan manusia yang satu masa, dan perbendaharaan penyimpanan ilmu untuk turunan yang akan datang”.

Natsir mengingatkan, bahwa yang pertama diajarkan dalam Islam, yakni perintah iqra atau “membaca”. Apa yang dimaksud Natsir tersebut, tentu berkaitan dengan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhamad Saw, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5, yang berbunyi (terjemahan):

Baca juga :  Cara Islam Mengapresiasi Hak Asasi Manusia

“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan! Yang telah menjadikan manusia dari segumpal darah; bacalah, dan Tuhan engkau itu Maha Mulia, Yang telah mengajar manusia mempergunakan “kalam”, Yang telah mengajar manusia akan apa yang tidak mereka ketahui.”

Dari pemaparan di atas, secara zeitgeist (jiwa zaman), saya berpandangan bahwa nampak jelas Islam menunjukkan sebagai ajaran yang luar biasa progresifnya. Islam melakukan kritik terhadap tatanan sosial yang saat itu mapan yang menempatkan kekuatan otot dan senjata sebagai kedudukan yang terhormat. Di samping juga berusaha menggantinya dengan menempatkan ilmu sebagai penentu kualitas seseorang.

Sebab itu, Natsir berpandangan bahwa agama Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia mempergunakan akal itu untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam.  Natsir pun mengutip suatu hadits, yakni “agama itu ialah akal, tak ada agama bagi seseorang yang tidak mempunyai akal”.

Selain itu, bisa juga dilihat dalam Surat Al-Imran ayat 190 pun, Tuhan berfirman, “Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi serta pertukaran malam dan siang ada beberapa tanda untuk mereka yang mempunyai (mempergunakan) akalnya”.

Natsir pun mengungkapkan bahwa agama Islam mewajibkan tiap-tiap pemeluknya. Baik itu laki-laki maupun perempuan menuntut ilmu dan menghormati mereka yang mempunyai ilmu. Dalam suatu hadits dikatakan, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.

Contoh lain yang menunjukkan Islam menghormati dan bahkan memerintahkan untuk menggunakan akal, yakni larangan untuk taqlid buta. Islam melarang kita untuk menerima sesuatu sebelum diperiksa, bahkan walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, ataupun dari nenek moyang sekalipun.

Baca juga :  Pesan Grand Syekh Al-Azhar dan Kebebasan Berekspresi di Prancis (2)

Dalam Surat Al-Isra ayat 36, Tuhan mengatakan, “Dan janganlah engkau turut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu, semua akan ditanya tentang itu”.

Islam pun mengajarkan pemeluknya agar selalu berusaha merintis jalan yang belum ditempuh. Selain itu juga membuat inisiatif dalam hal keduniawian yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Di samping itu, bukti lain bahwa Islam menghormati pengetahuan, yakni bagaimana Islam menganjurkan pemeluknya untuk pergi meninggalkan kampung halaman, berjalan ke negeri lain, saling bertukar pengetahuan, pemandangan-pemandangan dan perasaan.

Dalam Surat Al-Hajj ayat 46, Tuhan berfirman, “Tidakkah mereka berjalan di atas bumi, supaya mendapat akal untuk berpikir (lebih jauh) atau telinga untuk mendengar lebih lanjut, sesungguhnya bukan mata mereka yang buta, melainkan hati, yang ada di dalam dada itu yang buta”.

Adapun contoh historis yang menunjukkan betapa Islam menganggap ilmu begitu penting, yakni dari sikap Nabi Muhammad dalam memperlakukan tawanan perang. Saat itu, para tawanan yang tidak bisa menyediakan tebusan, diminta oleh Nabi untuk mengajarkan anak-anak Islam membaca dan menulis.

Bagi saya, bila kita kaitkan dengan konteks zeitgeist Arab di abad 7 M, apa yang dicontohkan oleh Nabi merupakan hal yang sangat luar biasa progresif dan melampaui zamannya.

Baca juga :  Pertarungan Merebut Wacana Islam di Indonesia

Sebab itu, tentu sangat beralasan ketika Natsir berpandangan bahwa dalam Islam, akal mendapat tempat yang mulia. Dalam Islam, akal tidak ditindas dan tidak dipaksa, tapi dipergunakan dan diberi jalan, disalurkan untuk ketinggian dan keluhuran manusia.

Natsir menyebut bahwa “akal merdeka” telah memerdekaan kaum muslim dari kekolotan yang membekukan otak; dan akal merdeka telah melepaskan kaum muslim dari gedachte indolentie dan kemalasan berpikir.

Bagi Natsir, akal merdeka harusnya bisa memperkuat dan memperteguh iman kita, menambah khusyu dan tawadhu kita terhadap kebesaran Ilahi serta membantu kita mencari rahasia-rahasia firman Tuhan, menolong kita untuk memahami hikmah-hikmah perintah dan ajaran agama, mempertinggi dan memperhalus perasaan keagamaan kita.

Meski demikian, Natsir pun mengungkapkan bahwa manusia pun semestinya menyadari bahwa akal manusia pun mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Sebab itu, akal yang merdeka selayaknya tidak membawa manusia pada kesombongan-kesombongan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *