Penjelasan KH Maimoen Zubair tentang Keutamaan Bulan Rajab

KH Maimoen Zubair Bulan rajab

Almarhum Almaghfurlah KH Maimoen Zubair dalam berbagai kesempatan pengajian sering menjelaskan tentang keutamaan bulan Rajab. Beliau menjelaskan bab ini sebab beberapa kalangan ada yang sembarangan membid’ahkan atau menyesatkan amalan-amalan dalam salah satu bulan mulia itu.

Menurut ulama kharismatik yang wafat pada 6 Agustus 2019 di Mekkah ini pernah mengutip dawuh (sabda) Rasulullah SAW. yang menjadi salah satu dasar keutamaan bulan Rajab.

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

Artinya: “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Baca juga :  Riwayat Hidup KH Maimun Zubair
Baca juga :  Melihat Secuil Keluasan Ilmu KH Maimoen Zubair

Mbah Moen yang semasa hidupnya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang ini menyebut, dalam bulan Rajab terdapat dua peristiwa besar, yakni Isra’ Mi’raj dan pindahnya Nur (cahaya) Nabi Muhammad SAW. dari punggung Sayyidina Abdullah bin Abdul Mutholib ke rahim Sayyidah Aminah binti Wahab. Peristiwa kedua ini disebut wiladah pertama.

Selama ini peristiwa Isra’ Mi’raj sudah banyak orang yang tahu, bahkan diperingati di mana-mana secara besar-besaran. Akan tetapi, untuk peristiwa wiladah pertama hanya orang tertentu yang mengetahuinya. Sehingga Mbah Moen hanya menyarankan peristiwa kedua cukup diperingati dengan puasa saja sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.

Baca juga :  Pesan Cinta Mbah Moen untuk Bangsa Indonesia
Baca juga :  Perjumpaan Mengesankan dengan Mbah Moen

Ulama yang makamnya di Ma’la Mekkah ini menerangkan istilah lain dari wiladah pertama juga disebut dengan wiladah haqiqiyyah. Selain itu, banyak pula kejadian-kejadian besar yang terjadi bersamaan dengan peristiwa wiladah ini sebagaimana keterangan dalam kitab al-Barzanji.

Perihal puasa Rajab, menurut Mbah Moen yang bagus itu tanggal 1 sampai 10. Namun, beliau menyarankan minimal kalau tidak bisa puasa 10 hari awal, sebaiknya usahakan berpuasa pada tanggal 10 Rajab. Hal ini karena tanggal tanggal 10 itu berbarengan dengan peristiwa pindahnya Nur Muhammad dari punggung Sayyidina Abdullah (ayahanda Nabi Muhammad) ke rahim Sayyidah Aminah (ibunda Nabi Muhammad). Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *