Pentingnya Mengetahui Silsilah Nasab

Allahu yarham Kiai Maimoen Zubair, dalam beberapa kesempatan haul KH. Ahmad bin Syu’aib Pondok Pesantren MUS Karangmangu Sarang Rembang, pada sesi acara ziarah, sering kali menceritakan rangkaian silsilah nasab masyayikh pondok Sarang, terutama yang berkaitan dengan shohibul haul, Simbah Ahmad.

Beliau, Simbah Maimoen, memang dikenal sebagai sosok kiai yang hafal dan menguasai silsilah nasab. Hal ini sebagaimana diakui oleh Kiai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pada acara doa bersama untuk beliau 2019 silam.

“Kulo niku nak kepengen (we)ruh riwayat e mbah-mbah Kulo teko Sarang ngantek pol Maduro barang niku Mbah Maimoen cerito, rinci kabeh” (Saya itu kalau ingin tahu riwayat kakek-kakek Saya dari Sarang sampai Madura itu Mbah Maimoen cerita, rinci).

Hafalan dan penguasaan Simbah Maimoen ini, menurut penulis, merupakan pesan akan pentingnya mengetahui silsilah nasab. Karena dengan mengetahui silsilah nasab, seseorang akan mendapatkan informasi mengenai asal-usul tentang siapa dan dari mana dahulu dirinya berasal.

Sehingga dengan informasi ini, seseorang diharapkan dapat mengambil ibrah dan suri tauladan dari kebaikan nenek moyangnya terdahulu. Pesan semacam ini pula yang penulis pahami dari QS. At-Thur ayat 21:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga).” (QS. At-Thur: 21)

Wahbah AL-Zuhailiy dalam Al-Tafsir Al-Munir-nya memasukkan ayat ini dalam kelompok ayat yang menjelaskan pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa serta kenikmatan yang akan mereka tuai kelak di hari kiamat. Kelompok ayat ini terdiri dari ayat 17 hingga ayat 28, yang kesemuanya menjadi perimbangan (munasabah) penjelasan sebelumnya tentang ketetapan siksa.

Secara spesifik, ayat ini mengandung pengertian bahwa termasuk balasan bagi orang-orang yang bertakwa adalah, dzuriyah yang mengikuti jejak mereka dalam keimanan dan keislaman akan dimasukkan ke dalam surga bersama-sama dengan mereka: disetarakan derajatnya dalam kenikmatan dan kemuliaan.

Dalam beberapa tafsir yang penulis jumpai, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an karya Al-Qurthuby, Lubab Alt-Ta’wil karya Al-Khazin, Al-Jalalain karya Imam Jalalain, Marah Labid karya Simbah Nawawi Banten dan Al-Tafsir al-Munir karya al-Zuhailiy, kata dzuriyah dalam ayat ini tidak hanya mencakup keturunan (far‘) saja, tetapi juga mencakup ashl atau jalur silsilah yang mengarah kepada nenek moyang.

Namun demikian, dalam konteks pembicaraan tulisan ini, penulis lebih memilih pemahaman yang kini banyak digunakan, di mana kata dzuriyah diartikan sebagai keturunan (far‘), sebagaimana beberapa riwayat yang disebutkan dalam Jami’ Al-Bayan Al-Thabari. Hal ini penulis dasarkan pada aspek kesejarahan dan pengambilan ibrah yang telah penulis sebutkan sebelumnya.

Berkaitan dengan urgensi mengetahui silsilah nasab sendiri, penulis melandaskannya pada logika bahwa, bagaimana mungkin seorang dzuriyah (keturunan) mampu mengikuti jejak nenek moyangnya (alladzina amanu), sementara ia tidak mengetahui sosok, pribadi atau bahkan riwayat hidup mereka. Maka dalam kerangka pemaknaan ini, QS. At-Thur: 21 merupakan bagian dari al-khabar bi makna al-amri.

Halalbihalal dan Silaturahmi

Di Indonesia sendiri, urgensi silsilah nasab telah terinternalisasi sejak lama. Masyarakat mengejawantahkannya menjadi berbagai macam tradisi seremonial, seperti silaturahmi dan halalbihalal. Tak heran jika esensi kedua tradisi ini syarat dengan pengenalan dan penjelasan nasab.

Dalam halalbihalal misalnya, tagline ‘bani’ yang umum merujuk pada tokoh sepuh tertentu pada dasarnya merupakan gambaran sederhana terhadap pengenalan silsilah ini. Sedangkan pada tingkat lanjut yang lebih rumit dan terstruktur, mewujud dalam upaya kodifikasi silsilah dan penulisan biografi.

Sayangnya, kesadaran akan pengetahuan silsilah ini hanya menjangkau beberapa kalangan saja dari keseluruhan masyarakat yang ada. Masih banyak yang menganggap bahwa tradisi seperti silaturahmi dan halalbihalal atau upaya pencatatan silsilah hanya sebagai ritual seremonial semata, tanpa mengindahkan spirit dan esensi di dalamnya. Sehingga praktik motivasi ittiba‘ pun menjadi tertiadakan. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.