Percik Pemikiran Feminisme H. Agus Salim (Bag. I)

agus salim

Kajian seputar feminisme, bak pepatah orang Minangkabau seakan “tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan”. Artinya, tidak tergantung oleh satu waktu maupun momentum, dan selalu tumbuh dan dinamis seiring perkembangan peradaban manusia hingga saat ini.

Dari dulu hingga sekarang, tokoh-tokoh yang menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan selalu ada. Salah satu tokoh itu adalah H. Agus Salim yang juga merupakan salah satu founding person Republik Indonesia.

Tentang H Agus Salim

H. Agus Salim merupakan saudara sepupu dari Rohana Kudus dan hidup sezaman dengan R.A. Kartini. Itu adalah zaman adanya gelombang revolusi feminisme pertama pada awal abad ke-20, yang turut mengilhami gagasan emansipasi perempuan. Sayangnya, tidak banyak yang menyinggung terkait pemikiran H. Agus Salim terutama soal kajian gender atau isu-isu terkait feminisme.

Hal ini bisa dimaklumi, sebab yang selalu ditonjolkan dari sosoknya adalah seorang cendekiawan Muslim dan diplomat ulung yang bahkan dijuluki sebagai “The Grand Old Man” oleh Barat pada saat itu. Di samping sosoknya yang idealis dan kritis terhadap berbagai penyimpangan moralitas kemanusiaan, terutama pada era kolonialisme Belanda di Indonesia, ia juga merupakan sosok sederhana dan bersahaja.

Selain itu, juga dikarenakan kemampuannya dalam berdiplomasi yang luar biasa, dan pemikiran-pemikiran keislamannya yang modern dan progresif serta kemampuannya dalam menguasai sembilan bahasa asing itulah yang membuat beliau disegani dan dihormati baik dari kawan maupun lawannya. Bahkan beliau pernah diundang mengisi salah satu ceramah dalam perkuliahan di Universitas Cornell, Amerika Serikat pada tahun 1953.

Baca juga :  5 Fakta Menarik Seputar Bung Tomo yang Jarang Diketahui Orang
Agus Salim Berbicara tentang Islam dan Perempuan

H. Agus Salim mempresentasikan Islam secara lugas dan jauh dari kesan apologetis maupun konservatif, termasuk masalah jihad yang kontroversial dan masalah perempuan yang menjadi perbincangan hangat di kalangan orientalis di masa itu. Tidak terdapat rujukan yang memadai terkait alasan H. Agus Salim memandang perlu membahas masalah Islam dan perempuan seperti yang terekam pada ceramahnya yang ke XXX.

Ada dua indikasi kemungkinan, pertama, ada permintaan yang disodorkan kepadanya dan yang kedua, H. Agus Salim sendiri yang memandang perlu mempertengahkan pandangannya tentang perempuan dalam Islam. Bila kemungkinan kedua yang terjadi, maka H. Agus Salim dapat dikategorikan sebagai tokoh Islam yang paripurna dalam menggagas ide tentang kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan.

Berdasarkan beberapa literatur pendukung dan hasil kumpulan ceramahnya (materi perkuliahan) di Universitas Cornell, Amerika Serikat yang berhasil dibukukan dan dicetak oleh penerbit Mizan pada tahun 2011 dengan judul Hadji Agus Salim; Pesan-pesan Islam, setidaknya ada beberapa percik pemikiran feminisme H. Agus Salim yang dapat diklasifikasikan.

Posisi Perempuan dalam Masyarakat

Pertama, masalah posisi perempuan dalam masyarakat, khususnya soal pendidikan. Mengutip tulisan Buya Syafii Maarif, Sosok Idealis yang Selalu Mencari yang termuat dalam buku antologi H. Agus Salim (1884-1954) tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, H. Agus Salim sebagai pemikir Muslim modern, pasti membela soal kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, terutama yang menyangkut masalah pendidikan.

Hal tersebut dapat ditelusuri dalam salah satu kutipan H. Agus Salim dalam surat kabar Neratja (4 September 1917). Ia menjelaskan pandangannya:

Baca juga :  Amin Abdullah dan Perkembangan Studi Islam di Indonesia

“Apabila gadis sudah besar dan sudah meninggalkan sekolah, maka pada pendapat orang banyak, ia harus bersuami, yaitu tidak perlu mencari penghidupan seperti orang laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan tak perlu diberi pengajaran sama banyak dengan laki-laki. Akan tetapi pada pendapat kita pikiran itu sesat semata-mata.”

“Sekalipun kita umpamakan sekalian perempuan mendapat jodoh tidak juga kurang perlu baginya kecerdasan, kepandaian dan kecakapan. Si suami harus bekerja akan mencari penghidupan bagi anak istrinya, akan tetapi si istrilah yang harus memegang belanja, mengemudikan rumah tangga, dan mendidik serta mengajar anak.

Maka, bahwa pada umumnya mencari uang dan membelanjai rumah tangga lebih mudah daripada memegang uang dan mengemudikan rumah tangga itu.” (Ahmad Syafii, 2004: 13-14).

H. Agus Salim lalu menjelaskan bahwa: “Laki-laki dan perempuan harus mengerti satu sama lain, menghargai satu sama lain, dan sekali-kali tidaklah harus masing-masing mengutamakan diri atau pihaknya.

Dengan jalan inilah boleh tercapai kesesuaian dan serasi, yang amat perlu sekali akan jadi alasan penghidupan bersama, menuju dan mengusahakan maksud yang esa, yang harus kepada tiap-tiap manusia: Kecakapan diri harus dipergunakan untuk mengusahakan keperluan kepentingan dan guna umum.” (Moh. Roem, 1954: 28).

Jilbab

Kedua, terkait masalah jilbab atau kerudung. Mengutip dalam salah satu tulisan Siti Ruhaini Dzuha Yatin dengan judul Lebih Maju dari Pandangan Kartini, berkenaan dengan surah al-Ahzab ayat 59 terkait masalah jilbab atau kerudung, H. Agus Salim mengisyaratkan pemahaman yang lebih kontekstual melalui pendekatan historis dengan memperhitungkan asbabun nuzul ayat tersebut.

Baca juga :  Wawasan Keislaman dan Kebudayaan Hadji Agus Salim

Anjuran bagi perempuan Muslim untuk memanjangkan jilbab (penutup kepala) yang secara lazim digunakan oleh perempuan merdeka dimaknai secara kultural. Mereka dianjurkan untuk memanjangkan jilbab tersebut agar mudah dikenali dan tidak diganggu.

H. Agus Salim memperkuat argumennya dengan menjelaskan bahwa dahulunya di masa Arab Jahiliyah ada sekelompok perempuan “merdeka” (dalam arti bukan budak) yang keluar malam untuk “berhajat” di tengah padang pasir. Ketika kembali pulang mereka digoda oleh segerombolan pemuda.

Mereka mengadu kepada Nabi Muhammad saw. tentang peristiwa tersebut. Ketika ditegur oleh Nabi Muhammad saw., para pemuda tersebut mengatakan bahwa mereka tidak tahu kalau mereka orang-orang merdeka. Pada kondisi yang gelap sangat sulit membedakan antara perempuan merdeka dan para budak.

Anjuran memanjangkan jilbab dimaksudkan untuk menegaskan identitas mereka yang membedakannya dengan budak yang secara kultural tidak berjilbab (Siti Ruhaini, 2004: 76). Artinya, di sini H. Agus Salim memberikan pemahaman rasional etis di balik suatu teks al-Qur’an yang berisi perintah atau kewajiban maupun larangan dan tidak bisa dilepaskan dari asbabun nuzul-nya, agar umat Muslim terhindar dari sikap taklid buta.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *