Percik Pemikiran Feminisme H. Agus Salim (Bag. II)

agus salim
Tabir atau Pembatas

Percik pemikiran H. Agus Salim ketiga berkaitan dengan masalah tabir atau pembatas. Dalam catatan Collin Brown (seorang jurnalis politik Inggris) dalam bukunya Soekarno: Perempuan dan Pergerakan Nasional, H. Agus Salim pernah merobek tabir yang memisahkan laki-laki dan perempuan dalam acara Jong Islamienten Bond (JIB) pada tahun 1927.

Menurut H. Agus Salim, tabir bukan hanya secarik kain semata, tetapi justru mengandung simbol “penindasan”.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa tidak hanya penindasan terhadap perempuan oleh laki-laki sebagai samaran untuk mengikuti “tradisi”, tetapi lebih luas lagi penindasan terhadap hal-hal yang baru oleh yang lama, terhadap evolusi oleh ortodoksi. Hal ini tentu tidak dapat diterima (Collin Brown, 2004: 35).

H. Agus Salim memaknai masalah tabir dalam konteks istri-istri Nabi Muhammad Saw. yang mempunyai posisi dan peran yang berbeda dengan kaum perempuan lainnya.

Keistimewaan ini meliputi ketidakbolehan menikah setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, yaitu tabir yang memisahkan mereka dengan kaum Muslim lainnya. Serta jenis pakaian yang mereka pakai mengisyaratkan keleluasaan ruang gerak dan aktivitas perempuan Muslim lainnya.

Dengan kata lain, hal-hal yang secara khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad Saw. tidak dapat digeneralisasikan untuk diterapkan pada perempuan lain.

Ia, dengan ini menunjukkan sikap yang sangat progresif dan kontekstual dengan “melokalisasi” ayat tersebut sesuai cakupannya, yaitu sebagai “pembatas” antara kaum Muslim dengan istri-istri Nabi Muhammad Saw.

Tokoh ini menegaskan bahwa kecenderungan tersebut sudah tidak berlaku di Indonesia. Dia juga menolak asosiasi tabir ini dengan masalah “syahwat”, seperti diklaim oleh kalangan konservatif dan fundementalis.

Baca juga :  Percik Pemikiran Feminisme H. Agus Salim (Bag. I)

Segala persoalan yang terkait dengan gender selalu diasosiasikan dengan “syahwat” yang mengganggu ibadah, termasuk masalah tabir, baik dalam acara kajian maupun shaf dalam shalat. Agus Salim menggeser pandangan klasik tentang tabir dengan mengetengahkan “semangat zaman dan tajdid” serta konteks kultural dari eksistensi tabir di rumah Nabi Muhammad Saw. yang sebenarnya hanya masalah “kepantasan sosial”.

Tentang Poligami

Keempat, masalah poligami. Masalah poligami ini cukup mengundang polemik serius antara dua golongan, baik golongan yang pro maupun yang kontra.

Pada kondisi ini, H. Agus Salim terlebih dahulu mengajukan satu pandangan terkait dalil poligami yang sebagian ulama fikih gaungkan pada saat itu. Seperti dalam surah an-Nisa’ ayat 3 terkait tentang laki-laki yang menikahi satu, dua, tiga, atau empat orang perempuan.

Bagi H. Agus Salim, konteks ayat ini dimaksudkan untuk orang tertentu. Dan bukanlah bagi sembarang laki-laki untuk menikahi dua, tiga, atau empat orang istri. Sebab, makna “berlaku adil” di sini tidak hanya dimaknai adil dalam definisi kalkulasi materialistik (fisik) atau kebutuhan biologis semata.

Akan tetapi, hal-hal yang bersifat non materialistik (non fisik) cukup dilematis untuk mengukur “berlaku adil” tersebut. Yang justru kebanyakan terjadi adalah menguntungkan kaum laki-laki daripada kaum perempuan (H. Agus Salim, 2011: 298-299). Selain itu, penggunaan dalil poligami tersebut harus diketahui dulu asbabun nuzul-nya, kalau tidak hanya akan jadi dalil pembenaran belaka.

Dia berkata: “Agama Islam memang memandang pernikahan sepasangan, yaitu antara seorang suami dan seorang istri, sebagai pernikahan yang ideal. Dan setiap umat Muslim yang saleh sesungguhnya berikhtiar menganut paham ini. Dan apabila ini diikhtiarkannya akan dialaminya memang inilah pernikahan yang paling mulia.” (H. Agus Salim, 2011: 302).

Baca juga :  Wawasan Keislaman dan Kebudayaan Hadji Agus Salim

Dari sini terlihat, bahwasanya H. Agus Salim lebih memilih monogami ketimbang poligami. Sebab tolok ukur “berlaku adil” masih menjadi polemik dan dilematis serta adanya “aspek sosial-historis” yang hanya berlaku pada saat itu, namun belum tentu relevan dengan perkembangan saat ini.

Kepemimpinan perempuan

Kelima, masalah kepemimpinan perempuan dalam masyarakat dan keluarga. Pada masalah ini, H. Agus Salim mempunyai pandangan yang cukup akomodatif tentang keniscayaan perempuan menjadi pemimpin.

Salah satunya dikarenakan oleh maraknya kemajuan pendidikan dan berbagai keterlibatan politik dan ruang publik. Ia memberikan salah satu contoh di berbagai negara Islam ada perempuan yang berkekuasaan sebagai raja, seperti Kesultanan Ternate misalnya yang pernah dikepalai oleh raja perempuan (H. Agus Salim, 2011: 313).

Banyak orang lupa bahwa tentang citra ideal suatu negara ini terwujud dari tangan bijak seorang perempuan. Kendati dalam banyak hal H. Agus Salim mempresentasikan pemikiran yang progresif, moderat, dan konsisten, namun masih terdapat ambivalensi dalam masalah kepemimpinan perempuan dalam ranah kerumahtanggaan.

Menurutnya, laki-laki mempunyai kedudukan utama dalam rumah tangga sebagai pemimpin. Sebab, menurutnya terdapat pembagian kekuasaan di dalam hubungan suami-istri. Suami berkedudukan utama di dalam urusan bermasyarakat, namun dalam urusan rumah tangga (ruang privat), si istrilah yang memegang kedudukan utama.

Hal ini dengan tegas dinyatakan dalam hadis Nabi Saw., yakni bahwa seorang istri menjadi kepala pelaksana urusan rumah tangga suaminya, dan ialah yang bertanggung jawab atas barang-barang di dalam rumah dan atas warga yang diurusnya” (H. Agus Salim, 2011: 312).

Baca juga :  5 Fakta Menarik Seputar Bung Tomo yang Jarang Diketahui Orang

Argumentasi ini tentu terkesan kontradiktif dan problematik bila dihadapkan dengan situasi saat perempuan menjadi istri yang juga sekaligus menjadi kepala negara. Argumentasi yang parsial dan selektif inilah yang sangat berpotensi mendegradasikan Islam demi menegakkan budaya patriarki di tengah gencarnya gelombang demokratisasi.

Kendati demikian, ambivalensi tersebut tidak selayaknya digunakan untuk memberikan judgement yang berlebihan terhadap pemikiran-pemikirannya, sebab ia adalah milik zamannya. Fragmen pemikiran H. Agus Salim yang progresif, moderat dan aktual merupakan teladan dan panutan bagi generasi penerus bangsa ke depan.

Pikiran H. Agus Salim tentang kesetaraan gender telah melampaui zamannya. Baginya, tanpa pendidikan yang setara antara laki-laki dan perempuan, suatu bangsa akan mustahil mencapai kemajuan.

 

Sumber Bacaan:

Brown, Collin. Soekarno: Perempuan dan Pergerakan Nasional. Yogyakarta: Ombak, 1990.

Maarif, Ahmad Syafii. “Sosok Idealis yang Selalu Mencari”, dalam H. Agus Salim (1884-1945) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Ed. St. Sularto. Jakarta: Gramedia, 2004.

Roem, Mohammad, et.al. Jejak Langkah Haji A. Salim. Jakarta: Tintamas, 1954.

Salim, H. Agus. Pesan-pesan Islam; Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat. Bandung: Mizan, 2011.

Yatin, Siti Ruhaini Dzuha. “Lebih Maju dari Pandangan Kartini”, dalam H. Agus Salim (1884-1945) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Ed. St. Sularto. Jakarta: Gramedia, 2004.

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *