Perempuan Berambut Merah: Kisah Oedipus dari Turki

Judul: The Red-Haired Woman (Perempuan Berambut Merah)

Penulis: Orhan Pamuk

Penerjemah : Rahmani Astuti

Penerbit: Bentang Pustaka: Yogyakarta

Tahun Terbit: Februari, 2018

Tebal buku: viii + 344 halaman

ISBN: 978–602–291–449–5

Kisah Oedipus Sang Raja karya Sophocles adalah kisah klasik Yunani Kuno tentang anak laki-laki yang membunuh ayahnya dan kemudian tanpa ia tahu perempuan yang dinikahinya ternyata adalah ibunya sendiri. Kisah ini sangat populer, bahkan beberapa tahun yang lalu ada film amatiran televisi nasional yang mengangkat tema Oedipus dengan diadaptasikan dalam cerita Sangkuriang dari tanah Pasundan.

Kisah Oedipus adalah kisah kontroversial dan tabu karena mengangkat perilaku incest, mengawini ibunya sendiri, sekaligus membunuh ayahnya. Bagi kalangan awam, Oedipus akan dianggap memiliki dua dosa besar sekaligus. Ia pertama-tama membunuh ayahnya dan lantas mengawini ibunya. Tentu, jika dipandang oleh moralitas agama ia (Oedipus) akan dianggap sebuah kesesatan yang berperilaku laksana binatang.

Betapapun akan dipandang tidak lazim secara awam. Tapi kisah Oedipus ini tak pernah lekang untuk menghiasi kisah-kisah atau bahkan mitos yang dipercayai adanya oleh masyarakat. Bahkan, Sigmund Freud, seorang bapak Psikoanalisa asal Austria, menjadikan kisah Oedipus sebagai salah satu fase dalam proses perkembangan anak. Menurut Freud, anak laki-laki pada fase perkembangannya pasti akan membenci sang ayahnya, karena telah merenggut sang ibunya.

Bagi sang bayi laki-laki, ibu adalah tempat paling sempurna, tempat segala kebutuhannya terpenuhi. Dan ayahnya merampas keterpenuhan itu. Lantas si bayi laki-laki, menurut Freud selalu membenci sang ayah pada fase itu. Pada fase itulah kemudian Freud menjelaskan bahwa kebencian kepada sang ayah tersebut adalah proses pengidentifikasian diri bagi identitas maskulin sang bayi laki-laki.

Baca juga :  Dunia Geger, Museum Hagia Sophia Turki dari Gereja Kini Kembali Jadi Masjid

Kembali ke Kisah Oedipus. Orhan Pamuk dalam menarasikan novel ini pertama-tama menceritakan latar keluarga dan kehidupan sang tokoh utama. Ia bernama Cem. Hubungan ayah dan ibunya berakhir dengan sang ayah meninggalkan sang ibu. Ayah Cem adalah salah seorang Kamerad aktivis komunis Turki. Ayahnya terus diburu oleh kediktatoran militer Turki pada masa itu. Sang ayah sempat pula harus dipenjara oleh rezim. Itulah yang menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan keluarganya.

Dari situlah kehidupan Cem dimulai. Karena terdesak kebutuhan biaya untuk meneruskan studi. Ia nekat untuk ikut bekerja bersama Tuan Mahmut, seorang tukang penggali sumur yang masyhur disekitaran kota Ongoren (kota sedikit terpencil tetangga Istambul). Karena Cem sejak kecil sangat sedikit memiliki waktu bercengkrama dengan sang ayah, karena terus mencari persembunyian bersama kawan komunisnya dan terus dipenjara. Cem mendapatkan sosok pengganti sang ayah pada diri Tuan Mahmut.

Laksana sebagai pengganti figur ayah. Ia begitu proteksionis terhadap Cem. Dari situlah Cem mempunyai keyakinan untuk mengamini cerita Sopochles tentang Oedipus, ayah yang mengancam eksistensi sang anak. Kebebasan Cem untuk bersenang-senang dalam memuaskan hasrat mudanya berkali-kali direpresi oleh Tuan Mahmut. Dari situ ia mengamini bahwa figur ayah selalu mengancam anaknya.

Kemudian, kisah Oedipus tersebut selalu membayang-bayangi pikiran Cem. Di satu sisi karena ia memang tidak memiliki sosok ayah yang bisa menyayanginya karena sang ayah diburu oleh rezim. Di lain sisi, karena pertemuan dengan Tuan Mahmud plus sikap proteksionisnyalah seolah kisah Oedipus benar-benar nyata ia alami.

Bayang-bayang dan rasa ingin tahu tentang kisah Oedipus tersebut terus mengiringi Cem hingga kehidupan dewasanya, bahkan sampai ia meninggal. Karena keingintahuannya, ia menelusuri kisah-kisah Oedipus itu di berbagai sumber. Ia mengunjungi berbagai Museum di Eropa, Galeri Lukisan, bahkan ia menelusuri naskah-naskah lawas yang memuat cerita-cerita soal Oedipus. Hingga ia menemukan kisah yang serupa dengan Oedipusnya Soploches dari versi Timurnya, berjudul Shahnameh.

Shahnameh adalah kisah Oedipus yang populer di Iran. Dalam naskah tersebut menceritakan tokoh era kerajaan yang bernama Rostam dan Sohrab. Kisah tersebut yang membedakan dari Oedipus Sang Raja karya Sophocles adalah yang dibunuh bukannya si bapak, tetapi sang anak yang terbunuh. Dalam sebuah pertempuran antara Rostam (sang ayah) melawan kerajaan musuhnya. Sang anak (Sohrab) dalam upaya pencarian siapa sebenarnya sang ayah. Akhirnya Sohrab membela kerajaan musuh ayahnya. Pada akhirnya Rostam dan Sohrab berhadap-hadapan. Dan sang ayah berhasil membunuh anaknya.

Baca juga :  Dunia Geger, Museum Hagia Sophia Turki dari Gereja Kini Kembali Jadi Masjid

Kegelisahan Cem sang tokoh utama terus menggeliat. Bahkan sampai ketika ia sudah menikah dengan Ayse. Ia terus masih meikirkan kisah-kisah itu. Pencariannya begitu membara tentang kisah-kisah Oedipus. Bahkan ia menamakan perusahaan yang ia dirikan bersama Ayse bernama Sohrab. Hal ini menggambarkan keterpengaruhan Cem terhadap kisah Shahnameh, naskah Oedipus dari dunia Timur.

Di sela-sela kesibukannya mengurusi perusahaan Sohrabnya. Cem terus memburu di berbagai museum hingga galeri lukis untuk mencari tahu tentang kisah Oedipus. Kepala Cem terus dipenuhi oleh bayang-bayang cerita Oedipus tersebut. Bahkan, hampir seluruh sumber tentang kisah Oedipus sudah ia telusuri.

Puncaknya, benar-benar kejadian. Ternyata, kisah Oedipus tersebut benar-benar menimpanya. Sebelumnya, dikira karena Ayse mandul dan pernikahan mereka tak dikaruniai anak. Ternyata Cem mempunyai anak dari peristiwa masa lalunya di Ongoren saat ia menjadi buruh gali sumur bersama Tuan Mahmut.

Suatu waktu, saat masih di Ongoren ia tergila-gila dengan perempuan berumur 30 tahunan berambut merah si pemain sirkus. Ketergila-gilaannya kemudian sampai kepada pertemuannya bersama si perempuan berambut merah. Singkat cerita, saat keduanya dimabuk cinta, Cem yang masih berumur belasan tahun melakukan hubungan badan dengan penuh bara cinta bersama si perempuan berumur 30 tahunan itu.

Baca juga :  Dunia Geger, Museum Hagia Sophia Turki dari Gereja Kini Kembali Jadi Masjid

Dari peristiwa tersebutlah tanpa diketahui Cem. Ternyata berbuah anak. Kabar mengejutkan tersebut diterima Cem ketika perusahaan Sohrabnya menemui kendala proyek di Orengon. Akhirnya, karena sang anak merasa tidak diasuh dan disia-siakan oleh Cem. Suatu ketika (dalam puncak novel) ia berada dalam suatu waktu bersama ayahnya di dekat sumur bekas galian Cem dahulu bersama Tuan Mahmut.

Karena terpapar kekhawatiran dari kisah Oedipus. Cem membawa pistol untuk mempersenjatai diri. Karena saling merasa ketakutan, keduanya berujung kepada perkelahian. Cem berusaha mengancam sang anak dengan pistol. Karena sang anak membela diri. Akhirnya pistol tersebut membunuh Cem. Kegelisahan Cem tentang Oedipus akhirnya terjawab. Ia mati di tangan anaknya sendiri.

Akhirnya, di situlah kualitas cerita Pamuk. Ia berhasil membuat kisah Oedipus secara bertumpuk-tumpuk. Ia memulai dari kisah Oedipus Sang Raja karya Sophocles, kisah Rostam dan Sohrab hingga penelusuran sumber cerita di berbagai penjuru Eropa. Dan akhirnya, ternyata Pamuk sedang mengaktualisasikan kisah Oedipus melalui tokoh Cem itu sendiri. Tak disangka-sangka novel Perempuan Berambut Merah adalah bentuk aktualisasi kisah Oedipus Sang Raja Soploches dengan latar dunia Timur, Turkiye.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.