Perempuan dan Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

Genap tiga perempat abad kemerdekaan bangsa Indonesia. Bulan Agustus 75 tahun yang lalu menjadi bulan yang sangat bersejarah. Di mana pemuda-pemudi bangsa Indonesia saat itu berjuang untuk merebut kemerdekaan bagi bangsa Indonesia dari penjajahan. Namun, pertanyaan yang kerap kali sering kita tanyakan adalah, sudahkah bangsa ini merdeka seutuhnya? Menurut Bung Hatta, kemerdekaan bukan hanya merdekanya sebuah bangsa dari penjajagan. Akan tetapi juga merdekanya setiap individu warga negara dari segala macam penindasan dan penghisapan.

Merujuk dari pengertian di atas, sangat ironis kemudian jika melihat kondisi warga negara kita saat ini. Karena masih banyak masyarakat yang mengalami penindasan. Terlebih kaum minoritas, termasuk dalam hal ini adalah perempuan. Pada jaman yang katanya emansipasi telah tuntas diperjuangkan oleh R. A. Kartini, masih banyak perempuan di negeri ini yang mengalami penindasan dan peminggiran, yang menjadi sebab hingga detik ini perempuan belum merdeka seutuhnya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kemudian perempuan dikatakan belum merdeka di negeri ini. Setidaknya, tiga hal mendasar berikut menjadi alasan ketidakmerdekaan perempuan.

Perempuan belum merdeka atas tubuhnya sendiri. Kondisi ini kerap kita lihat bagaimana sistem patriarki yang terbangun dan menjadi budaya di masyarakat, menjadikan tubuh perempuan sebatatas objek pemuas nafsu semata. Selain itu, tubuh perempuan rentan menjadi objek eksploitas, pelecehan, bahkan tindak kekerasan. Inilah yang menjadikan perempuan tidak merdeka atas tubuhnya sendiri, kuatnya sistem patriarki yang mengakar seakan mengatur tubuh perempuan.

Baca juga :  Perempuan Hadhrami dalam Majalah Aliran Baroe

Perempuan belum merdeka atas langkahnya sendiri. Norma  yang ada di masyarakat kadang kala mengatasnamakan agama dan memberikan sekat serta batasan bagi perempuan. Perempuan diberikan batasan-batasan menjadi kaum yang dinomerduakan, dan tak perlu memiliki kiprah di ranah publik, cukup mengoptimalkan kerja-kerja domestik saja. Perempuan tak memiliki kemerdekaan menentukan langkah dalam hidup, terlebih dalam menentukan karirnya sendiri. Tak jarang ketika perempuan bekerja hingga larut malam, atau pekerjaan mereka dianggap tidak pas untuk seorang perempuan (meskipun halal) akan dikucilkan dan didiskriminasi dari lingkungan mereka, karena dianggap melanggar norma agama.

Perempuan belum merdeka atas usaha mengembangkan dan mengoptimalkan pemikirannya sendiri. Konteks yang sangat jelas terlihat adalah bagaimana perempuan tidak diberikan kemerdekaan untuk memilih dan menentukan pendidikannya. Bahkan dibeberapa daerah dinegeri ini, beberapa perempuan berhenti menuntut ilmu sejak ditinggak sekolah, sebab lingkungannya menuntut dia untuk membangun  rumah tangga karena dianggap usianya sudah pas untuk berkeluarga. Sehingga, kesempatan dan kemerdekaa n perempuan untuk terus menimba ilmu khususnya melalui lembaga pendidikan harus terhenti. Terlebih ketika membangun keluarga mereka berhadapan dengan pasangan yang tak ingin perempuan yang dalam hal ini istrinya memiliki pedidikan yang lebih tinggi, karena takut diungguli dan eksistensinya sebagai kepala keluarga (suami) untuk apa ketika istrinya memiliki ilmu yang lebih tinggi darinya. Sehinggg, tak jarang beberapa perempuan yang sudah menikah akan susah melanjutkan untuk menempuh pendidikan lanjut.

Baca juga :  R.A. Lasminingrat; Sastrawan Perempuan Pertama dari Tanah Sunda

Lantas, apakah posisi perempuan akan selalu tidak merdeka seperti ini? Bagaimana Islam memandang dan memerdekakan perempuan, bahkan sejak pertama kali kehadirannya di Tanah Arab waktu itu. Sebagai agama yang rahmatann lil ‘alamin, Islam hadir menjadi pencerah bagi seluruh alam semesta khususnya kejahiliyahan tanah Arab kala itu. Ada banyak Firman Allah Swt. yang berisikan ajaran yang memerdekakan perempuan, dan sarat akan penyamaan derajat laki-laki dan perempuan sebagai manusia seutuhnya. Salah satu diantaranya, Q.S. Al Hujurat ayat 13, yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat ini secara jelas menegaskan bagaimana Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan adalah sama dan setara, yang menjadi pembeda antara keduanya adalah nilai ketawaannya kepada Allah Swt. Antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih kuat, tidak ada yang lebih unggul keduanya adalah sama, disapa oleh Alquran sebagai manusia merdeka seutuhnya.

Baca juga :  Nyi Ageng Serang, Perempuan Penasihat Perang Diponegoro

Selain itu, hadis Rasulullah dari Sayyidah Aisyah  r.a. menjelaskan bahwasanya “Perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki” . Dalam buku 60 Hadis Hak-Hak Perempuan dalam Islam, karangan K.H. Faihuddin Abdul Qadir hadis ini memuat ajaran pokok mengenai prinsip kemitraan dan kesederajatan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, menurut ‘Abd Al Halim Abu Shuqqa teks hadist ini adalah referensi mendasar bagi prinsip kesederajatan atau musawwah laki-laki dan perempuan. Sehingga hak-hak keduanya sebagai manusia adalah sama.

Sangat jelas kemudian disini, bagaimana Islam sejak hadir membawakan nilai-nilai kesetaraan bagi umat manusia. Di moment bulan kemerdekaan ini, perlu kiranya menjadi ajang refleksi bersama. Sudahkah bangsa kita merdeka seutuhnya? Mari saling menguatkan dan memberikan dukungan bagi sesama perempuan agar mampu merdeka dan berdikari setidaknya pada pemikirannya sendiri, sehingga tujuan kemerdekaan untuk memenuhi hak seluruh elemen bangsa terpenuhi.

Wallahu’allam

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *