Perempuan dan Kitab Fikih ‘al-Mufashshol’

al mufashal

Fikih merupakan produk ulama dalam memahami sumber agama yang berupa al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw. Selama ini, yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata ‘fikih’ adalah bagaimana tata cara kita dalam menjalankan rukun Islam khususnya salat, zakat, puasa, dan haji.

Senada dengan kata ‘ibadah’ yang kita dengar saat membuka kitab-kitab fikih. Kita langsung terbayang bagaimana ketentuan salat, puasa, zakat, dan haji.

Padahal, termasuk dalam kajian fikih adalah tuntunan dan pegangan bermuamalah baik dengan sesama manusia maupun negara. Hal ini sangat wajar mengingat kebutuhan yang hampir mengikat umat Muslim terhadap fikih adalah bagaimana tata cara dan ketentuan melaksanakan empat dari rukun Islam tadi. Ini diamini juga oleh Syekh Abdul Karim Zaidan dalam karyanya yang menjadi topik utama tulisan ini.

Dalam menulis kitab fikih yang menjadi karyanya, biasanya para ulama menyajikan informasi yang diketahuinya secara umum. Mereka tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam pembahasan topik tertentu. Mayoritas masih membaurkan antara hukum yang ditujukan kepada laki-laki dengan ketentuan yang diperuntukkan bagi perempuan terkait sebuah masalah.

Lihat misalnya Kifāyat al-Akhyār karya Sayyid Abū Bakar bin Muhammad al-Husainī al-Dimasyqī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū (8 jilid) karya Syekh Wahbah Zuhailī, Kitāb al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah (5 jilid) karya Abdurrahman al-Jazīrī, dan lain-lain yang hanya menuliskan tema kecil tanpa ada kejelasan untuk laki-laki atau perempuan.

Ini terasa wajar mengingat laki-laki yang memiliki keleluasaan mobilitas dan interaksi, menjadi tempat bertanya masyarakat. Toh juga sudah ada kitab yang membahas hal-hal yang hanya dialami perempuan semisal Risālat al-Mahīdl (seputar darah perempuan) dan Hukum Buntingan karya Ulama Betawi ‘Utsmān bin Abdullah bin ‘Aqīl bin Yahyā yang (tentang perempuan hamil yang menjanda).

Baca juga :  Apakah Sah Jika Shaf Shalat Jamaah Tidak Rapat?  
Ruang Khusus untuk Perempuan dalam al-Mufashshol

Bagi para pengkaji fikih khususnya kaum perempuan, ada kitab fikih yang menarik untuk diketahui. Pasalnya kitab fikih ini tidak lazim sebagaimana kitab fikih lainnya. Dalam menyajikan informasi yang ada, pengarangnya memberikan ruang khusus untuk hal-hal yang berkenaan dengan perempuan dalam topik yang sedang dikupasnya.

Kitab tersebut bernama al-Mufashshol fī Ahkām al-Mar`ah wa al-Bait al-Muslim fī al-Syarī’ah al-Islāmiyyah. Kitab yang terdiri dari 11 jilid ini ditulis oleh Abdul Karim Zaidan, guru besar salah satu Universitas di Baghdad. al-Mufashshol pertama kali diterbitkan pada tahun 1993 M./1413 H. oleh percetakan Muassasah Risalah – Beirut. Dari sisi konten dan penyajiannya, kitab ini memiliki keunggulan tersendiri.

Ada bagian khusus perempuan dalam pembahasannya. Hal ini mempermudah pembaca untuk menelusuri pendapat para imam mazhab mengenai suatu hukum bagi perempuan. Pada bab syarat wajib puasa (2/482) misalnya, pembahasan tidak hanya berhenti pada ‘suci dari haid dan nifas’ saja.

Penulis kitab juga mencantumkan ketentuan perempuan yang suci di malam hari tapi belum sempat bersuci atau suci di siang hari dengan judul kecil. Tentunya hal ini mempermudah pembaca untuk menelusuri konten yang ada tanpa harus bingung mencari di bagian mana informasi yang ingin diketahuinya berada.

Penyertaan dalil naqli saat membahas sebuah tema, pada umumnya sudah menjadi kebiasaan kitab-kitab fikih yang dicetak berjilid-jilid. Hal inilah salah satu faktor yang menjadikan konten kitab bertambah banyak. Pun terkait kitab fikih yang satu ini, ia tidak jarang menyertakan dalil nash yang ada.

Dari hadis misalnya, pada bagian ‘sucinya ujung pakaian perempuan yang terkena najis di tanah’ (1/35) Mu`allif menukil dua hadis. Hadis pertama yang diriwayatkan oleh ashhāb sunan menjelaskan bagaimana tanah yang kering bisa menyucikan ujung pakaian yang terkena najis tersebut.

Baca juga :  Perempuan yang Sedang Haid Boleh Berpuasa, Benarkah?

Sementara hadis kedua yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud menuturkan tanah basah karena hujan yang bisa menyucikan ujung pakaian.

Menyajikan Pendapat Berbagai Mazhab

Dalam membahas masalah penulis kitab menyajikan pendapat berbagai mazhab dalam fikih Islam. Adakalanya hanya pendapat empat mazhab saja; Hambaliyah, Malikyah, Syafi’iyah, dan Hanafiyah. Pandangan empat mazhab inilah yang sering muncul di banyak pembahasan. Ada kalanya juga mencantumkan pendapat mazhab lain di luar empat yang kita kenal.

Pada pembahasan tentang ru`yat al-hilāl (melihat kemunculan bulan) untuk awal dan akhir puasa misalnya. Mu`allif menyinggung status dan kualitas persaksian perempuan yang melihatnya (2/17). Dalam hal ini, mu`allif menukil pendapat enam mazhab, empat mazhab yang kita kenal ditambah Mazhab Zaidiyah dan Zhahiriyah.

Kemudian pada saat membahas qishāsh (5/420), mu`allif menukil pendapat Mazhab Ja’fariyah. Ketiga mazhab terakhir ini merupakan mazhab fikih yang tidak dikenal dan digunakan oleh orang Muslim Indonesia.

Terdapat penegasan pendapat yang unggul sebagai penutup dari sekian pendapat yang disajikannya. Misalnya dalam kasus persaksian perempuan tadi, Mu`allif menutupnya dengan qaul rājih (pendapat yang unggul) dari enam pendapat yang ada, yakni pendapat Mazhab Zahiriyah.

Pasalnya dalam persaksian hilāl yang masuk kategori urusan agama ini, perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Kesaksiannya yang tidak melibatkan orang lain bisa diterima sebagaimana dalam hal periwayatan hadis. Selama persyaratan ‘adālah terpenuhi olehnya (2/19).

Pendahuluan Kecil

Ada pengenalan seputar masalah yang dikaji di awal pembahasan berikut tema-tema kecil yang masuk dalam masalah tersebut. ‘Pendahuluan kecil’ ini sangat membantu pembaca dalam memahami materi yang dipelajarinya. Dengannya pembaca bisa meraba-raba adakah informasi yang sedang dicarinya tersebut bisa ditemukan dalam bagian ini atau itu?

Baca juga :  Kitab Al-Mahalli, Tafsir Pegon-Jawa Karya KH. Mudjab Mahalli Al-Jogjawy

Pada jilid ke-3 yang membahas larangan dan kebolehan misalnya, ada pembahasan mengenai melihat, menyentuh, dan berbicara antara laki-laki dan perempuan (3/141). Pada bagian awal dari pembahasan ini mu`allif memberikan penjelasan mengenai apa yang akan disampaikan pada bagian tersebut.

Di sana ia juga menegaskan bahwa ada 5 bab yang akan dibahas pada bagian ini, yakni melihat dan bersentuhannya lelaki dan perempuan, melihat dan bersentuhannya lelaki dengan lelaki, melihat dan bersentuhannya perempuan dengan perempuan, menyingkap pakaian pada saat sepi dan sendirian, serta berbicara antara lelaki dan perempuan.

Dua Kekurangan

Namun demikian, sebagai karya manusia tentunya kitab ini juga memiliki beberapa kekurangan. Paling tidak ada dua kekurangan yang sebenarnya tidak begitu problematis bagi mereka yang berwawasan terbuka dan memiliki keteguhan dalam berpendapat.

Pertama, menukil banyak mazhab sehingga bisa menimbulkan talfīq yang tidak direstui agama. Seperti mengambil hal-hal yang memudahkan keinginannya tanpa memperhatikan ketentuan yang ada. Misalnya nikah yang dinilai sah tanpa kehadiran wali dan saksi. Kedua, adanya pendapat selain mazhab empat yang belum begitu dikenal bahkan dianggap sesat. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *