Perempuan dan Sains

Science is not a boy’s game. It is not a girl’s game. It is everyone’s game.” (Nichelle Nichols)

Semenjak tahun 2016, setiap tanggal 11 Februari diperingati sebagai International Day of Women and Girls in Science. Peringatan tersebut digagas untuk pertama kalinya oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendukung keseimbangan partisipasi perempuan dalam ilmu pengetahuan. Wacana yang berkembang tentu saja tidak terlepas akan bahwasannya ilmu pengetahuan dan kesetaraan gender merupakan dua hal penting dalam aspek membangun sebuah peradaban.

Momentum peringatan tersebut hendaknya harus dimaknai secara mendalam—bagaimana kontestasi maupun peran perempuan dalam dunia sains. Fakta maupun data terkait hal tersebut di lapangan masih menjadi kekhawatiran tersendiri. Seperti di antaranya tatkala dua akademisi Britania Raya, Susan Wilbraham (Universitas Cumbria) dan Elizabeth Caldwell (Universitas Huddersfield). Pada 2018 mereka menuliskan artikel dari hasil penelitian mereka yang berjudul Children’s Books are Adding to Science’s Gender Problem (theconservation.com).

Studi mereka terkait mengenai gambar dalam buku-buku sains anak-anak yang memperlihatkan bahwa perempuan secara signifikan kurang terwakili. Penelitian tersebut mencakup 160 buku sains bergambar, di mana hasil yang didapatkan—buku-buku sains anak menampilkan dominasi ilmuwan laki-laki tiga kali lebih banyak dibanding dengan perempuan. Tesis yang mereka dapatkan; kesan bahwa karir dalam bidang sains, teknologi, teknik dan matematika atau biasa dikenal dengan STEM cenderung tidak memberikan penghargaan pada perempuan.

Kondisi ini seakan membuat para saintis berpikir panjang dalam menerka problematika yang hadir. Alasannya ketika berbicara subjek penelitian tersebut—anak-anak tentu saja adalah berkaitan perihal kekuatan imajinasi, intuisi dan mimpi mereka. Tinjauan teori perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak mempelajari harapan gender untuk membantu mereka dalam merespon sesuai dengan lingkungan sosial mereka. Yang mana, hal tersebut juga berpengaruh pada pemahaman mereka terkait siapa mereka dan mendorong mereka untuk berperilaku konvensional bagi gender mereka.

Baca juga :  Sultanah Safiatuddin Tajul Alam Syah, Sultanah Pertama Aceh Darussalam

Perihal perempuan dalam dunia sains pernah juga diutarakan oleh salah satu peraih hadiah Nobel bidang Kedokteran di tahun 1960, Peter Brian Medawar. Ahli fisiologi Universitas Oxford tersebut menuliskan gagasannya dalam buku berjudul Advice to a Young Scientist. Di Indonesia, buku tersebut diterjemahkan oleh Rektor IPB pada masanya, Andi Hakim Nasoetion dengan judul Nasihat untuk Ilmuwan Muda (Yayasan Obor Indonesia, 1990). Medawar mengungkapkan, kehadiran perempuan dalam sains itu didasarkan pada persamaan nilai jasa yang dihasilkan, bukan karena dituduh merendahkan martabat perempuan.

Medawar juga menilik historis yang berkembang akan keberanian perempuan mengambil keputusan untuk ikut andil dalam dunia sains. Keberanian itu berupa melawan mitos turun-temurun yang berupa peringatan maupun keberatan yang masih banyak dan kerap disampaikan oleh kalangan; orang tua, guru maupun lingkungan sekitar. Kalau dianalisis lebih mendalam atas apa yang menjadi peringatan maupun keberatan itu tentunya sangat kompleks. Namun, yang menjadi inti adalah apa pun pilihan, pasti ada konsekuensi yang hadir.

Akumulasi keyakinan yang berkembang yang mengakibatkan terdistorsinya perempuan dalam ranah sains juga dituliskan oleh Evelyn Reed dalam bukunya berjudul Mitos Inferioritas Perempuan (Independen, 2019). Pada salah satu sub bab yang berjudul Perempuan di Industri, Sains dan Kedokteran, Evelyn menjelaskan benang merah kehadiran stereotipe yang berkembang dalam masyarakat.

Biangnya berupa pembagian kerja di masyarakat primitif yang didasarkan pada jenis kelamin. Yang mana kesadaran yang ada dalam masyarakat primiti, laki-laki dianggap sebagai pemburu dan pejuang, sementara perempuan tinggal di tempat kemah atau rumah untuk membesarkan anak, memasak dan melakukan pekerjaan rumah yang lain.

Gelombang Feminisme

Pergolakan isu kesetaraan gender dalam perkembangan dunia modern, sekalipun pada ranah ilmu pengetahuan, sekalipun itu sains tentu tak terelakkan. Baik berupa perlawanan terhadap stigma yang berkembang, rekonstruksi makna dan tafsir akan pengaruh mitos yang ada di dalam masyarakat. Hingga tentu saja adalah dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri yang kemudian memberikan kabar bahwa semua kalangan dapat terlibat dalam menyusun misi untuk kebaikan dan kebermanfaatan dalam kehidupan di dunia.

Baca juga :  Tiga Langkah Memahami Teks Syariat Secara Adil Gender

Dalam sejarah yang pernah terjadi, setidaknya banyak fakta perempuan yang merupakan ilmuwati memberikan kontribusi maupun andil akan gagasan, ide maupun temuan dan masyhur di dunia. Seperti di antaranya adalah Marie Curie, Fisikawan Perancis peraih Nobel di tahun 1903 dengan jasanya menemukan unsur-unsur radioaktif. Maria Goeppert-Mayer, ilmuwati dari Jerman yang menemukan struktur kulit inti dan diganjar Nobel bidang Fisika pada tahun 1963.

Perlu dipahami bahwasannya andil maupun kontribusi dalam sains, tak melulu harus mendapat sederet penghargaan. Namun, melainkan dari itu yang terpenting adalah perihal keberanian mengambil sikap dan kemauan dalam bertindak.

Di luar dua orang itu tentulah masih banyak bagaimana perkembangan sains dan keterlibatan perempuan di dalamnya. Di tahun 2018, dunia agaknya dikagetkan dengan peneliti perempuan lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT), Katie Bouman yang mana pada usianya ke-31, ia meneliti metode komputasional pencitraan dan mengambangkan algoritma untuk mengambil gambar lubang hitam dengan menggunakan Event Horizon Telescope. Luar biasa, tentunya.

Tak Sekadar Musiman

Alih-alih bagaimana berpikir mengenai gerakan perempuan dalam dunia sains, yang perlu menjadi konsentrasi adalah kontinuitas dan progam berkelanjutan (sustainable) seperti halnya kegiatan International Day of Women and Girls in Science. Dengan kata lain tidak dimaknai acara musiman. Sekali dalam setahun. Selesai rangkaian acara, tak ada kelanjutannya sama sekali. Namun, melainkan dari itu menjadi bagian kesadaran bersama dalam membangun konstruk berpikir akan peran perempuan dalam sains dan peradaban.

Seperti apa yang dikatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres pada 11 Februari 2020 lalu. Ia mengatakan bahwa—untuk bangkit menghadapi tantangan abad ke-21, perlu memanfaatkan potensi yang ada. Selain itu, ia juga berharap dengan kehadiran pelbagai gerakan yang ada dapat berimplikasi pada ketimpangan gender dalam dunia sains yang ada. Kalau kita maknai tentunya membutuhkan kerja keras, kesadaran tinggi dan proses panjang dalam mewujudkan hal tersebut. Antara satu pihak dengan yang lain perlu terus bahu-membahu.

Baca juga :  Perempuan dan Nobel

Di Indonesia sendiri harapan itu pastinya tergambar di benak pikiran banyak kalangan. Sebagai negara yang juga cukup menaruh pengembangan pada sains dan teknologi, isu tersebut hendaknya juga dihembuskan baik di kalangan pemangku kebijakan, akademisi, ilmuwan maupun pihak pengelola media. Sebab, tak dapat dipungkiri, terkadang, di negeri ini, sepenting apa pun isu terkadang seketika terkalahkan oleh isu populis yang mencitrakan perihal politik identitas. Hal tersebut kemudian menjadi biang dalam keruhnya cuaca kultur keilmuan.

Syukurnya, ada beberapa perwakilan kalangan peneliti maupun ilmuwati dari Indonesia dalam perhelatan International Day of Women and Girls in Science tersebut. Semoga saja kepulangan ke Indonesia membawa “buah tangan” berupa gagasan maupun ide segar yang dapat dikembangkan dalam berbicara peran perempuan dalam perkembangan sains maupun teknologi. Di tengah keberadaan beberapa lembaga penelitian yang concern pada sains di Indonesia, isu terkait mengenai kesetaraan gender dalam sains perlu dijadikan prioritas perhatian di banyak kalangan. Begitu.[]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.