Perempuan di Mata Uang

Perempuan di Mata Uang

Citra perempuan di mata uang pernah menjadi kabar baik di Amerika yang memiliki riwayat perbudakan dan diskriminasi. Harriet Tubman, mantan budak sekaligus pejuang antiperbudakan menjadi wajah baru mata uang pecahan US$20. Inilah kali pertama seorang Afrika-Amerika mewajah di lembaran uang AS.

Harriet dielukan dalam jajak pendapat agar perempuan menempati sejarah wajah mata uang. Sebuah penghormatan atas perjuangan melarikan diri dari perbudakan di Maryland pada 1849 dan menggarap jalur kereta bawah tanah sebagai jalan pelarian ribuan budak (Media Indonesia, 22 April 2016).

Indonesia juga memiliki riwayat mewajahkan perempuan di mata uang. Generasi masa lalu mengingat Kartini dan Cut Nyak Dien diuangkan. Dua perempuan ini memang hanya segelintir tokoh pahlawan nasional perempuan yang dimatauangkan di antara para tokoh laki-laki.

Meski kedua perempuan tidak populer dalam pemberdayaan manusia terkhusus di bidang ekonomi, peran mereka di ranah emansipasi, pendidikan, dan perjuangan kebangsaan menjadi pembayaran yang dianggap pantas. Kartini bergerak dengan pena dan Cut Nyak Dien bergerak dengan senjata. Mereka bermartabat di buku sejarah dan dan berharga di lembaran uang rupiah.

Pada tahun 1990, makar kecil yang mengubah sejarah Myanmar dilakukan oleh seorang perancang grafis mata uang dengan menempatkan wajah Aung San Suu Kyi sebagai gambar terawang (Steve Crawshaw dan John Jackshon, 2015).

Atas pesanan para penguasa, sang perancang harusnya melukis wajah mendiang ayah Suu Kyi sebagai penghormatan atas jasa mempertahankan kemerdekaan Burma dari Inggris. Karena kelihaian gores sang perancang, lembaga sensor sampai terkecoh dan meloloskan rancangan ke publik.

Baca juga :  Nyi Ageng Serang, Perempuan Penasihat Perang Diponegoro

Sampai akhirnya mata uang tersebar, desas-desus Suu Kyi mendengung. Para jenderal penguasa memerintahkan penarikan dan mengeluarkan ancaman hukuman bagi siapapun yang masih menyimpan mata uang berbayang Suu Kyi. Sekadar gambar terawang di mata uang memunculkan ketakutan politis.

Mata uang mewakili perlawanan dan digadang memicu revolusi. Bagi orang biasa, menyimpan mata uang berwajah Suu Kyi adalah harapan hidup damai dan utuh. Mata uang jadi begitu sakral dan sepele untuk sekadar dibelanjakan.

Miskin

Di Jepang, jejak heroik perempuan di mata uang justru menempatkan perempuan miskin dan sakit-sakitan. Wajah Ichiyo Higuchi, seorang perempuan sekaligus penulis era Meiji, beratus tahun setelah kematiannya, diabadikan dalam uang kertas 5.000 yen.

Dalam buku Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang (2012) garapan Rei Kimura, kita mendapati jalan kepenulisan Ichiyo yang penuh nestapa. Tidak mudah menjadi penulis perempuan di era Meiji. Ichiyo menikmati pengakuan dan hidup layak sejenak sebelum ajal tiba di usia ke 24 tahun.

Episode kehidupan yang sulit secara ekonomi pernah menempatkan Ichiyo beserta ibu dan saudarinya hidup di kawasan pelacuran Ryusenji dengan membuka bisnis toko kelontong. Kawasan ini benar-benar jauh dari komunitas sastra yang elegan dan beradab.

Kita cerap, “…karier menulis Ichiyo jatuh ke titik nadir dan ia hanya berhasil menyelesaikan tiga cerita pendek. Hal itu meresahkan namun setiap malam ia merangkak masuk ke futon-nya dengan rasa lelah teramat sangat dan nyeri seluruh tubuh, fisik maupun mentalnya terkalahkan oleh pekerjaan sia-sia menjalankan bisnis dan tenaganya habis hingga bahkan tak mampu mengangkat pena kuas atau mengisi buku hariannya.” Perempuan miskin ini memang mati, tapi tetap hidup lewat karya. Wajahnya ada di mata uang yang justru tidak pernah ia lekati semasa hidupnya.

Baca juga :  Ratu Balqis dan Role Model Kepemimpinan Perempuan

Selama ini, perempuan lebih banyak menyimpan stigma yang dilematis soal uang. Di Jawa, perempuan begitu lekat dengan istilah gemi dan nastiti dalam soal uang. Saat perempuan sudah memiliki rumah tangga sendiri, masalah keuangan bisa menjadi sebab kesuburan dan kegersangan keluarga. Pun, dalam ekonomi perdagangan, perempuan lebih prigel mengurus keuangan. Tidak tergoda judi atau hura-hura.

Namun, gaya hidup modern juga berbalik menjauhkan perempuan dari ruh kata gemi dan nastiti. Pasar lebih kuat menggoda perempuan menjadi kaum konsumtif. Bahkan, ada menteri yang sampai harus menganjurkan kepada segenap istri pejabat untuk tidak materialis agar suami tidak kecemplung kasus korupsi. Salah siapa?

Riwayat penempatan perempuan dalam mata uang bisa jadi bentuk rekonsiliasi atas kebahasaan perempuan dan uang. Selama ini, ada kesan bahwa perempuan sering dianggap sebagai kaum pemboros. Ada istilah cewek matre, perempuan materialis, atau lebih parah gila uang.

Ada perempuan di mata uang yang justru menyampaikan sejarah luka dan pengorbanan mendalam, memberi pesan perempuan tidak hidup hanya untuk diejek bermata uang alias mata duitan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *