Perempuan Perlu Sinergi Pergerakan dalam Bangun Peradaban Bermartabat

IQRA.ID, Jakarta – Perempuan selalu diidentikkan sebagai kaum pasif, namun perlu diketahui bahwa perempuan menempati posisi yang paling mulia dan tinggi derajatnya, berbeda dengan kedudukan perempuan di masa jahiliyyah. Di dalam sendi kehidupan membutuhkan peran perempuan tangguh sebagaimana awal peradaban yang dipelopori oleh Sayyidah Hawa.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, Nyai Hj Ida Fatimah Zainal dalam webinar Pra Silatnas Bu Nyai Nusantara 3 yang bertajuk “Sinergi Gerakan Perempuan Pesantren dalam Membangun Peradaban Dunia” pada Selasa (26/10/2022) lalu, melalui aplikasi Zoom Meeting.

Nyai Hj Ida menuturkan bahwa acara ini bertujuan membangun peradaban yang bermartabat diperlukan peran perempuan agar dapat bersinergi melakukan pergerakan baik kolaborasi lintas sektor antar perempuan maupun antar organisasi perempuan.

“Keberadaan organisasi perempuan dari ranting hingga nasional harus menjadi amunisi dan kekuatan baru dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, menghilangkan diskriminasi, dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil bagi laki-laki dan perempuan,” tuturnya.

Ia menyoroti peran bu nyai yang sangat luar biasa dalam mengantarkan anak-anak menuju keberhasilan dan kesuksesan hidup. Bu nyai berperan dalam menyiapkan SDM berkualitas dan mampu berdaya saing, sehingga bu nyai memiliki banyak peran.

Baca juga :  Para Sastrawan Perempuan yang Gemilang

“Indonesia memiliki pejuang-pejuang perempuan yang memajukan pendidikan dan memperjuangkan kesetaraan hak, seperti Hj Rasuna Said, Tjut Nyak Dien, Nyai Khairiyah Hasyim, dan masih banyak lainnya,” ungkapnya.

Menurut Nyai Hj Ida, perempuan harus bangkit bersama di masyarakat sehingga tidak hanya menjasi insan yang taat kepada Allah saja tapi juga membawa perubahan dan menjadi inisiator amal sholih bagi orang-orang yang berada di sekitar lingkungan mereka.

“Oleh karena itu, perempuan harus berpendidikan yang tinggi, mempunyai ilmu yang luas, akidah yang kokoh, berakhlakul karimah sehingga dapat mengarungi kehidupan dengan mandiri dan siap menjadi pendamping bagi suami, menjadi pendidik yang hebat untuk anak-anaknya, mampu berjuang di masyarakat dan tetap kuat bertahan. Perempuan yang kuat tidak lahir begitu saja, namun lahir berkat tempaan dan tantangan hidup,” pungkasnya. (Afina Izzati/M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.