Perempuan Ulama di Pentas Sejarah (11)

photo by forumgercek.com

Dari para perempuan ulama sekaligus para pembaru tersebut kemudian lahirlah para ulama dan aktivis perempuan di banyak negara muslim. Tidak sedikit para perempuan ulama tampil kembali ke panggung-panggung sejarah Islam. Pengetahuan mereka dalam bidang ilmu-ilmu agama (Islam) cukup mendalam dan luas. Mereka cerdas dan kritis.

Beberapa di antaranya adalah Huda Sya’rawi (1879-1947 M), Aisyah Taymuriyah (1840-1902), Batsinah, Nabawiyah Musa (1886-1951), Zainab al-Ghazali (1917-2005), Aisyah Abdurrahman bint Syathi (1913-1998), Asma Barlas (1950-) Aminah Wadud Muhsin (1952-), Asma al-Murabith (1959), Rahma el-Yunusia, Rasuna Said dan masih banyak lagi.

Nabawiyah Musa adalah perempuan ulama dari Mesir. Ia menuntut dibukanya akses dan kesetaraan pendidikan bagi kaum perempuan negerinya. Sama sebagai mana Kartini dan Rahma el-Yunusia. Dalam sebuah ceramahnya Nabawiyah mengatakan :

أُرِيدُ اَنْ تَحْيَا المِصْريات حَيَاةً حَقِيقِيَةً . فَيَقْبَلْنَ عَلَى العِلْمِ وَيَسْعَيْنَ سَعْياً مُتَوَاصِلاً . فَلاَ يَمْضِى زَمَانٌ حَتَّى أَرَى فِى هَذِه الدَّارِ مِائَةً مِنَ السَّيِّدَاتِ

“Aku berharap kaum perempuan Mesir bisa hidup dengan baik, mengapresiasi ilmu pengetahuan dan bekerja keras tanpa henti, sampai tiba masanya aku dapat melihat lahirnya ratusan tokoh/pemimpin perempuan dalam negeri tercinta ini”.

Nama Nabawiyah Musa masuk sebagai seorang aktivis gerakan perempuan yang berjasa dalam sejarah pendidikan di Mesir. Dia adalah perempuan yang sangat cerdas, yang masuk ke sekolah dengan cita-cita untuk menjadi seorang guru. Sebuah ranah yang pada masanya didominasi oleh kaum laki-laki. Selama hampir empat puluh tahun (1904-1946), pendidikan perempuan adalah yang menjadi perhatian utamanya. Berkat perjuangannya, kini perempuan mampu menempati jabatan-jabatan dalam berbagai bidang dan melewati semua jenjang pendidikan.

Baca juga :  Bibi Khanoom, Penggagas Sekolah Perempuan Pertama di Iran

Sebelumnya, perempuan Mesir yang bekerja di bidang pendidikan ini hanya diizinkan hanya sebagai guru, tidak sebagai kepala, manajer atau supervisor. Kerja keras Nabawiyah terbayar dan dia menjadi kepala sekolah pertama, pengawas pertama, manajer pertama di Mesir.

Ketika universitas swasta mulai beroperasi, Nabawiyah Musa bersama dua orang perempuan pelopor lainnya yaitu Malak Hifni Nasif dan Labiba Hashem, diundang untuk memberikan kuliah bagi perempuan dari kelas sosial tinggi.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.