Perempuan Ulama di Pentas Sejarah (14)

Sumber Foto: Muslim Obsession

Perempuan ulama yang lain adalah Nyai Khoiriyah Hasyim, putri kedua pendiri NU dan guru para ulama Indonesia, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur. Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur, tahun 1906. Sejak kecil Nyai Khairiyah dididik ayahnya mengaji Alquran dan ilmu-ilmu keislaman dasar.

Pada usia 13 tahun ia menikah dengan santri KH. Hasyim Asy’ari, yaitu Maksum Ali dari keluarga pesantren Maskumambang, Gresik. Tahun 1921, KH. Maksum Ali kemudian membuka Pesantren Seblak. Tahun 1933, KH. Maksum Ali wafat. Kepemimpinan pesantren beralih ke Ibu Nyai Khoiriyah. Ini berlangsung hingga tahun 1938. Ia kemudian menikah lagi dengan Kiyai Muhaimin.

Nyai Khairiyah dikenal perempuan cerdas dan rajin. Kadar Intelektualitasnya tidak ada yang meragukan. Pengetahuan keislaman selain diperoleh dari ayahnya sendiri, dia juga belajar kepada paman-pamannya yang juga adalah para ulama besar. Suami pertamanya, Kiyai Ma’shum Ali adalah pengarang kitab Amtsilah al-Tashrifiyah, buku babon ilmu sharaf. Nyai Khoiriyah aktif mengaji kepada mereka dan kemudian menguasai sejumlah kitab kuning.

Kemudian bersama suaminya, Kyai Muhaimin, Nyai Khoiriyah berangkat haji lalu tinggal bermuqim di kota suci itu selama lebih dari 10 tahun. Ada yang mengatakan sampai 20 tahun. Di sana ia belajar lagi kepada para ulama di Makkah, antara lain Syeikh Yasin al-Padani, seorang ahli hadits terkemuka, kelahiran Padang, Sumatera Barat. Ia kemudian mendirikan madrasah Lil Banat, sekolah untuk kaum perempuan.

Baca juga :  Fathimah al-Nishapur: Sufi Perempuan Pejuang Kesetaraan Gender

Setelah kembali ke tanah air, Nyai Khoiriyah aktif dalam dunia pendidikan, mengasuh para santri di pesantren dan terlibat aktif dalam Bahtsul Masail, suatu forum kajian ilmiyah ala pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Adalah sangat menarik bahwa beliau menolak mengajarkan kitab “Uqud Al-Lujain”. Kitab yang membahas tentang hubungan suami istri dan hak kewajiban perempuan ini, menurut Nyai Khairiyah, mengandung relasi yang diskriminatif dan sarat dengan pandangan yang mensubordinasi perempuan. Konon beliau berharap seharusnya ada kitab semacam ini yang ditulis oleh perempuan.

Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim dicatat dalam sejarah sebagai sosok perempuan yang pernah masuk jajaran Syuriah PBNU. Beliau juga pernah menjadi Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU, Jawa Timur dan sebagainya. Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim meninggal dunia di RSUD Jombang pada hari Sabtu, tanggal 2 Juli 1983 M (21 Ramadhan 1404 H).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.