Perempuan Ulama di Pentas Sejarah; Rabi’ah Al-Adawiyah (6)

Perempuan Ulama di Pentas Sejarah; Rabi’ah Al-Adawiyah

Rabi’ah al-Adawiyah tak menikah sampai akhir hayatnya. Ia tak ingin menikah dengan laki-laki siapa pun. Ia menolak laki-laki yang datang kepadanya, sekaya, sebesar, dan setinggi  apa pun keilmuan dan kehebatan laki-laki itu.

Seluruh hidup Rabi’ah diliputi oleh gairah cinta kepada Tuhan, tak ada yang lain dan tak ingin yang lain. Hari-harinya disibukkan untuk menyebut namaNya, memujiNya, mensucikanNya, dan merindukanNya. Malam-malamnya dihabiskan untuk menjalin keintiman bersamaNya. Hingga ia menjadi ikon Cinta Tuhan sepanjang sejarah.

Memang ada pula kabar bahwa Rabi’ah pernah menikah dengan seorang laki-laki. Ini boleh jadi benar. Akan tetapi Rabi’ah yang manakah yang dikabarkan menikah tersebut?. Banyak tokoh perempuan yang juga bernama Rabi’ah. Antara lain Rabi’ah al-Syamiyah. Abd al-Rahman Badawi, ahli manuskrip terkemuka dari Mesir, telah melakukan riset mendalam terhadap isu ini. Pada akhirnya dalam bukunya “Rabi’ah, Syahidah al-‘Isyq al-Ilahy”, ia mengatakan dalam kesimpulan penelitiannya:

اَنَّ الاَخْبَارَ الَّتِى تَفْتَرِضُ زَوَاجَ رابعة اْلبَصْرِية إِنَّمَا هِىَ فِى اْلوَاقِعِ أَخْبَارٌ خَاصٌّ بِرَابِعَة الشَّامِيَة . فَلَيْسَ لَنَا مَصْدَرٌ وَاحِدٌ يَصْرح بِأَنَّ رَابِعَة الْبَصْرِيَّة تَزَوَّجَتْ

  
“Kabar-kabar bahwa Rabi’ah al-Bashriyah (dari Basrah) pernah menikah, pada kenyataannya adalah kabar-kabar tentang Rabi’ah al-Syamiyah. Tidak ada satu sumber pun yang ada pada kami yang menyatakan bahwa Rabi’ah dari Basrah (Rabi’ah al-‘Adawiyah) pernah menikah”.

Rabi’ah al-Adawiyah Wafat

Sekembalinya Rabi’ah dari Mekah untuk melaksanakan ibadah haji kesehatan Rabi’ah mulai menurun. Ia tinggal bersama sahabatnya, Abdah binti Abi Shawwal, yang telah menemaninya dengan baik hingga akhir hidupnya.

Baca juga :  Perempuan dan Filantropi: Manifestasi Agen Perubahan Sosial

Rabi’ah tak pernah mau menyusahkan orang lain, sehingga ia meminta kepada Abdah untuk membungkus jenazahnya nanti dengan kain kafan yang telah ia sediakan sejak lama. Menjelang kematiannya, banyak orang-orang saleh ingin mendampinginya, namun Rabi’ah menolak. Rabiah diperkirakan meninggal dalam usia 83 tahun pada tahun 801 Masehi/185 Hijriah dan dimakamkan di Basrah, Irak[].

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *