Perempuan Ulama; Rabi’ah Al Adawiyah (4)

Rabi'ah Al Adawiyah

Manakala suatu saat Rabi’ah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dalam perjalanan, dia bertemu dengan rombongan jemaah haji. Dia bertanya, “Kalian mau kemana?”. Mereka menjawab, “Kami akan mengunjungi Ka’bah, baitullah, Rumah Allah, di Makkah”.

Lalu mereka balik bertanya, “Kalau ibu mau kemana?”. Rabi’ah menjawab, “Aku akan menemui Pemilik Ka’bah. Tak hendak melihat Ka’bah, Bait Allah, rumah Tuhan, tetapi ingin melihat Pemilik Ka’bah (Rabb al-Ka’bah).

Puisi-puisi Rabi’ah

Sejak Rabi’ah mengenal cinta, dia begitu amat piawai menggubah puisi-puisi cinta. Seorang bijak bestari mengatakan, “Manakala seseorang sedang jatuh cinta, maka dia akan pandai menggubah dan menyenandungkan puisi.”

Puisi-puisi cintanya mengalir deras dari bibirnya yang basah. Dan bagi Rabi’ah, Tuhanlah cinta pertama dan terakhirnya. Hatinya telah tertutup bagi cinta yang lain. Katanya suatu saat:

عَرَفْتُ الهَوى مُذ عَرَفْتُ هواك
وأغْلَقْتُ قَلْبي عَلىٰ مَنْ عَاداكْ

وقُمْتُ اُناجِيـكَ يا مَن تـَرىٰ
خَفايا القُلُوبِ ولَسْنا نراك

Aku mengenal cinta
Sejak aku mengenal cinta-Mu
Hatiku telah terkunci bagi selain-Mu
Aku selalu siap mendesahkan nama-Mu
Duhai, kau Yang Melihat 
Seluruh rahasia-rahasia setiap hati
Sedang aku yang tak bisa menatap wajah-Mu

Saat aku menonton film Rabi’ah yang diperankan oleh penyanyi legendari Mesir, Ummi Kultsum, seperti sudah disebut, aku ikut terlibat dalam emosi melankolis, terutama saat Ummi Kultsum menyanyikan lagu cinta Rabi’ah itu. Ummi Kultsum, sang “Kaukab al-Syarq”, bintang kejora dari Timur itu, memerankan Rabi’ah demikian penuh penghayatan dan sangat mengesankan. Dalam munajatnya kepada Tuhan, ia menyenandungkan suasana hatinya yang merindu dalam puisi-puisi yang manis dan menyayat hati.

Baca juga :  Zainab Binti Kamal, Pencetak Para Perempuan Ulama Besar

يَا سُرُورِى وَمُنْيَتِى وَعِمَادِى
وَأَنِيسِى وَعُدَّتِى وَمُرَادِى

أَنْتَ رُوحُ اْلفُؤَادِ أَنْتَ رَجَآئِى
أَنْتَ لِى مُؤْنِسٌ وَشَوْقُكَ زَادِى

أَنْتَ لَوْلَاكَ يَا حَيَاتِى وَأُنْسِى
مَا تَشَتَّتُ فِى فَسِيحِ الْبِلادِ

كَمْ بَدَتْ مِنَّةٌ وَكَمْ لَكَ عِنْدِى
مِنْ عَطَآءٍ وَنِعْمَةٍ وَأَيَا دِى

حُبُّكَ الْآنَ بُغْيَتِى وَنَعِيمِى
وَجَلآ ءٌ لِعَيْنِ قَلْبِى الصَّادِى

لَيْسَ لِى عَنْكَ مَا حَيَيْتَ بَرَاحٌ
أَنْتَ مِنَّى مُمَكَّنٌ فِى السَّوَادِ

اِنْ  تَكُنْ رَاضِياً عليَّ  فإنِّى
يَا مُنَى الْقَلْبِ قَدْ بَدَا إِسْعَادِى

Duhai kegembiraanku
Duhai rinduku,
Duhai tambatan hatiku
Duhai manisku,
Duhai Nyawaku, duhai Dambaanku
Engkaulah Ruh Jiwaku,
Engkaulah Harapanku
Engkaulah Manisku
Rasa Rinduku kepada-Mu adalah nafasku

Duhai Engkau, andai aku tanpa-Mu,
Duhai hidupku,
Duhai Manisku
Aku tak kan menyusuri jalan terbentang di pelosok negeri-negeri
Oh. Betapa banyak anugerah, kenikmatan dan pertolongan-Mu

Tetapi kini cinta-Mu lah dambaanku, dan keindahanku
Dan pandangan Mata-Mu kepadaku adalah dahagaku
Tanpa-Mu hidupku tak bergairah
Bila Engkau rela,
Duhai dambaan jiwaku
Maka itu adalah kebahagiaanku

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *