Pertemuan Kala Langit Sedang Biru

Langit hari ini sedang bagus-bagusnya. Biru cerah. tepat sekali saat aku bertemu kembali dengan sahabat lamaku. Langit seolah tau bahwa kerinduan yang dalam memang harus segera dipertemukan sebab setelah kurang lebih lima tahun kami tak saling kirim kabar akhirnya hari ini aku akan mendengar celotehan tentang kehidupannya lagi.

Aku mengenalnya hampir sebelas tahun, saat ia berumur dua belas tahun dan harus pindah ke sebuah pesantren. Dari sana kami mulai akrab, mulai menjadi sahabat yang siap menampung segala cerita dan amarah. Diawali dengan air mata, malam itu ia sedang demam dan terlihat marah pada ayahnya yang telah mengirimnya ke tempat yang jauh.

Sebab, untuk pertama kalinya ia jauh dari rumah dan dituntut harus bisa melakukan semua hal hanya dengan dirinya diri. Seperti ketika ia bangun tidur terlalu dini harus siap mengantri segala hal, mengantri mandi, menyetrika, sarapan dan mengantri banyak hal lainnya dari bangun tidur sampai hendak tidur lagi.

Tapi berjalannya waktu kulihat ia mulai terbiasa dengan lingkungan yang baru, teman, kegiatan juga semua hal yang semula ia sangat cemaskan. Kami juga semakin sibuk sehingga tidak setiap malam bisa menceritakan banyak hal. Sesekali saja ketika ia mulai mengeluh mengapa nahwu dan shorof harus berjalan beriringan, pasalnya ia mulai suka belajar shorof tapi sebaliknya dengan nahwu, ia kurang suka karena dirasa begitu rumit dan sulit dipahami. Tapi lagi lagi aku hanya bisa mendengarkannya saja.

Baca juga :  Arti Senyum Kiai Idris

Sebenarnya tidak ada cerita yang spesial diantara kami, selama enam tahun semua berjalan normal meski begitu kami tidak pernah bertengkar bahkan sampai tidak ada satupun rahasia yang kami tutupi satu sama lain. Kalau boleh jujur terkadang ia begitu menyebalkan, ia terlalu cengeng dan pemarah terlebih ketika sudah di depanku.

Misalnya sore itu, ia menangis cukup lama setelah terjadi kesalahpahaman dengan teman sekamarnya tapi keesokan harinya ia sudah berbunga-bunga kembali setelah menerima surat kaleng dari salah satu santri putra. Apapun itu ia adalah sahabat terbaik yang selalu memujiku,

“Kamu cantik.”

“Kamu baik.”

Dan ia memelukku.

Suatu siang, awal September lima tahun lalu menjadi hari terakhir kami bertemu. Setelah Haflah kelulusan ia memutuskan untuk meneruskan sekolah lagi, ia bercerita ingin pergi kuliah ke kota lain yang lebih bagus dan ia juga ingin mencari pengalamannya sendiri. ia tersenyum dan memelukku,

“Terima kasih telah mendengarkan semua ceritaku selama ini.”

“Kamu cantik.”

“Kamu baik.”

Dan terakhir sebelum kami benar-benar berpisah ia berbicara tentang sebuah pesan yang disampaikan oleh gurunya,

“Tidak ada yang namanya mantan santri, meskipun kamu sudah pulang atau mukim kamu masih tetap santri sebab kamu hanya berpindah kamar saja.”  Ia berbicara denganku tapi seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

Baca juga :  Kau Pergi ke Tempat yang Tak Seorang pun Tahu

***

Tanpa disangka hari ini ia mau menemuiku setelah lima tahun berlalu. Seperti langit biru hari ini, ia masih tetap cantik. Tidak ada yang berubah hanya saja sekarang ia terlihat menjadi perempuan yang cukup dewasa. Ia tersenyum kepadaku,

“Kamu masih cantik.” Ia memulai obrolan dengan sebuah pujian.

“Apakah kamu baik-baik saja?” Ia mulai bertanya kepadaku.

Dan tak butuh waktu lama kami sudah akrab kembali. Ia memulai mengingat hal-hal bodoh yang dulu pernah diceritakan kepadaku. Tapi kini ia sudah bisa menyangkal,

“Dulu kan aku masih kekanak-kanakan.”

Dia juga mulai bercerita tentang ayahnya, menjadi anak bungsu dari empat bersaudara dan hanya dirinya yang perempuan ternyata menyenangkan. Ia sekarang berpikir bahwa ternyata ayahnya dulu tidak sekejam seperti dalam kepalanya yang mengirimkan dirinya ke pesantren, mungkin ayahnya ingin ia menjadi anak perempuan yang tak kalah hebat dengan ketiga kakak lelakinya.

Ternyata perempuan juga bisa hebat, mandiri dan tentu bisa memilih pilihannya sendiri. Ayah terbaik katanya, ia memberi coontoh bahwa dulu di pesantren makanan sudah disediakan sehingga ia merasa sekarang belum bisa memasak dengan baik, tapi ia senang bahwa ayahnya tak menuntut ia bisa memasak tapi untuk berjaga-jaga minimal ia harus bisa memasak untuk dirinya sendiri. Ia bersyukur karena ayahnyalah selama di tanah rantau ia tidak kaget sama sekali dengan segala hal dan tantangan yang baru.

Baca juga :  Si Pendongeng

Tidak semua bisa menjadi dirinya, teman-temannya di rumah terutama yang perempuan ada yang tak mampu melanjutkan sekolah bahkan ada yang mampu tapi tak mendapatkan restu. Tapi ia merasa dapat melakukan apapun dan pergi kemanapun yang ia mau dengan dukungan orang tua terutama dari ayahnya.

Kemudian ia meneruskan cerita lain tentang dirinya yang masih menyukai shorof dan ia yang tak mampu khatam alfiyah karena nahwu masih dianggap begitu rumit dan sulit dipahami. Kemudian tentang teman yang pernah membuatnya menangis karena berselisih paham denganya, ternyata mereka masih berteman sangat baik juga ia masih berteman dengan si pengirim surat kaleng untuknya waktu itu.

Dan di hari yang cerah dengan langit biru ini kami sepertinya akan berpisah dengan waktu yang lama bahkan lebih lama lagi sebab halamanku sudah habis, ia membuka lembar halaman terakhirku. Ia membacanya,

“Tidak ada yang namanya mantan santri, meskipun kamu sudah pulang atau mukim kamu masih tetap santri sebab kamu hanya berpindah kamar saja.”

Ia menutupku dan memujiku untuk yang terakhir kali,

“Terima kasih buku diary”

“Kamu cantik.”

“Kamu baik.”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *