Pesan Syeikh Mun’im bin Abdul Aziz al Ghumary Al Hasani pada Peringatan Maulid Nabi PCINU Maroko

Maroko-Tangier masih dalam suasana bulan kelahiran Nabi, khidmatnya peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.  kali ini juga dirasakan oleh pelajar Indonesia di kota paling Barat Maroko, Tangier. Bahkan sebelumnya, terdengar dengan sangat jelas salawat dan pujian dari masjid-masjid sekitar pada tengah malam kelahiran Sang Baginda Nabi.

Tidak mau kalah, sontak pengurus dari bagian Lakpesdam PCINU Maroko menginstruksikan warganya
untuk turut memeriahkan peringatan Maulid Nabi ini. Pembacaan Maulid Diba’i dan tahlil lalu dilanjut dengan tausiyah menjadi agenda yang sangat cocok bagi warga nahdliyin. Tidak lupa tentunya dengan barakah makan besar bersama usai acara.

Sore itu, di Zawiyah as Shidiqiyah yang berada di dalam Madinah Qadimah Souq
Bara, Tangier, dilaksanakan acara demi acara dengan khusyuk dan khidmat bersama Syeikh Dr. Abdul Mun’im bin Abdul Aziz bin as Shidiq al Ghumary al Hasani. Iya, di tengah kesibukannya, beliau masih saja menyempatkan dirinya untuk bisa berkumpul dengan kami.

Tutur beliau “Tidak bisa saya lewatkan keberkahan Majlis Maulid Nabi
bersama kalian,” ungkapnya membuat yang disapanya tersenyum.

Dan ketika pembacaan Maulid Diba’i satu persatu mulai dihabiskan begitu juga dengan tahlil, tibalah bagi kami untuk meminta beliau agar memberikan pesan.

Pesan yang kini harus disebarkan kepada sesama pejuang. Beliau berpesan dengan memberikan referensi sebuah kitab untuk dibaca dan dikaji, adalah sebuah kitab karangan Imam Qadhi iyadl yang berjudul as Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthofa, lalu beliau meresensikannya dengan jelas dan singkat, pun menghubungkannya kepada kitab-kitab yang bergenre sirah nabawiyah.

Tidak lupa pula sebelum itu, lalu beliau meminta dari kami untuk membacakan satu paragraf dalam kitab as Syifa yang menceritakan bagaimana Nabi Muhammad Saw. begitu dijaga oleh Allah SWT. dari kalangan kaum kafir semenjak dilahirkannya beliau sampai ketika Nabi hijrah ke Madinah.

Hingga kemudian sampai pada penjelasan di mana adat yang berjalan dalam tarikh islamiy yang menyebutkan kekhususan dalam ayataulid. Yang tentu dibedakan dengan penyebutan sirah. Kejadian-kejadian besar yang terjadi pada kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Diceritakan secara khusus pertama kali oleh Imam al Waqidi pengarang kitab al
Maghazi dalam kitab al Maulid. Dan dari sinilah muncul kitab-kitab mawalid seperti barzanji, ad Diba’i dan sebagainya.

Begitulah sampai peringatan Maulid Nabi ini digunakan oleh kaum muslimin sebagai momen untuk mendengarkan dan menghafalkan hadis-hadis tentang kelahirannya, agar tumbuh kecintaan kepada beliau dan agar suri teladan kita tidak mudah diabaikan oleh generasi Islam.

Di samping itu, sebagai tambahan untuk melengkapi Maulid Nabi, beliau
menyebutkan keistimewaan-keistimewaan Nabi yang dikumpulkan oleh Imam Jalaluddin as Suyuthi dalam kitabnya yang berjudul Khoshoishul Kubra, di dalamnya beliau menjelaskan lebih dari sekitar 150 keistimewaan Nabi.

Kemudian Syeikh Mun’im menegaskan kembali agar kita semua bisa membaca kitab as Syifa, sebuah karya dari salah satu ulama besar yang bermazhab fikih Maliki, dan termasuk dari wali Sab’aturrijal kelahiran tanah Marrakech ini. Yang mana di dalamnya sudah tercakup semua cakupan sejarah Nabi yaitu Maulid, Khoshoish, Dalail, Syamail, Akhbar, Maghazi, Isra Mi’raj dan sampai Akhbar yang berhubungan dengan wafatnya Nabi.

Begitulah akhirnya beliau menutup Majlis Maulid Nabi ini dengan mendoakan kita semua agar kita mendapatkan syafa’atnya dan termasuk ke dalam naungannya
kelak. Amin

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.