Apik dan Mendidik

Pesantren sebagai Agen of Change

Pondok atau pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di pulau Jawa-Madura. Karena dalam sejarahnya di Indonesia pesantren menjadi obyek penelitian dari banyak kalangan akademisi, maupun dari lembaga pendidikan lainnya. Sehingga dari pesantren melahirkan munculnya sistem pendidikan nasional di Indonesia. Karena sejak dahulu sampai sekarang pesantren memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam mencetak kader muda bangsa.

Pesantren terbukti mampu melahirkan aktor-aktor global yang kreatif dan dinamis. Seperti halnya, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman, KH. M.A. Sahal Mahfudh, KH. Maimun Zubair, KH. Mustofa Bisri, dan KH. Said Aqil Siroj. Hal itulah yang membuat kagum banyak kalangan, karena luasnya khazanah keilmuan, serta mampu memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap bangsa.

Menurut Zamakhsyari Dhofier, dalam bukunya Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai (1994), bahwa:
“Pergi dan menetap ke pesantren yang jauh dan masyhur merupakan keistimewaan bagi seorang santri yang penuh dengan cita-cita. Ia harus memiliki keberanian yang cukup, penuh ambisi, dan dapat menekan perasaan rindu kepada keluarga maupun teman-teman sekampungnya. Sebab setelah selai belajar dari pesantren, dia diharapkan menjadi seorang alim yang dapat mengajar kitab kuninng dan mampu memimpin masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan ilmu sosial lainnya.”

Oleh karena itu, pesantren sejak dahulu sampai sekarang selalu menghadirkan sebuah generasi baru yang selalu mampu memberikan nuansa yang berbeda baik dalam berdakwah maupun dalam memberikan sumbangsih pemikiran terhadap bangsa.

Apa sebenarnya rahasia pesantren mampu melahir generasi yang tidak pernah padam dalam memberikan perubahan dan kontribusi terhadap bangsa ini?

Pertama, pesantren selalu mengedepankan tentang ilmu alat, seperti bahasa, nahwu, sharaf, balaghah, mantihiq, ushul dan lain-lain. Dari penguasaan tentang ilmu tersebut, membuat santri mampu mempelajari sendiri semua jenis ilmu yang ada. Sehingga santri menjadi pembelajar mandiri, serta memiliki mental otodidak (belajar sendiri) membuat santri sebagai sosok orang yang sedang mengarungi lautan pengetahuan yang tak bertepi.

Kedua, pesantren mendorong santri untuk aktif munadharah (diskusi), mutharahah (debat), muthala’ah (membaca secara mendalam), ta’liq (mencatat keterangan), dan takrar (mengulang). Munadharah melatih santri untuk berani mendemonstrasikan pemikirannya, mutharahah melatih santri dalam membangun argumentasi dan mempertahankannya, muthala’ah melatih santri untuk berfikir kritis dan analisis, ta’liq melatih santri menjadi seorang penulis (katib), dan takrar melatih santri dalam menguatkan daya ingatnya sesuai dengan kaidah ‘al-hafidzu hujjatun ala man la yahfadz, (orang yang kuat hafalannya menjadi kunci mengalahkan orang yang lemah hafalannya.

Ketiga, pesantren selalu menanamkan sifat optimis dalam menatap masa depan. Optimis ini dimulai dari niat awal untuk menuntut ilmu, menggapai ridha Allah, menghilangkan kebodohan, bukan mencari dunia, popularitas, jabatan, melainkan hanya untuk thalabul ilmi.Setelah itu rajin melakukan riyadlah (tirakat), baik itu puasa, mengurangi tidur, dan memperbanyak membaca wirid atau zikir (ijazah dari kiai), dan lain sebagainya. Baru setelah menguasai ilmu, kembali ke tengah masyarakat dengan optimisme tinggi, berwirausaha untuk menggapai kemandirian ekonomi dan mendidik masyarakat untuk mengamalkan ilmunya.

Keempat, pesantren melatih santri untuk melek organisasi sebagai media untuk memperjuangkan agama. Organisasi mempunyai peran penting untuk membentuk mental dan kepribadian yang toleran, demokratis, dan pluraris. Sehingga organisasi mendorong santri untuk aktif mengembangkan keilmuan dan waasan masa depan. Ineteraksi dan relasi sosial yang luas menuntut santri untuk beradaptasi agar tidak ketinggalan dan lebih dari itu berusaha menjadi pemimpin yang memandu perubahan dari hiruk-pikuk perkembangan zaman.

Kelima, pesantren mengokohkan visi sosialnya kepada santri secara efektif. Karena visi sosial adalah pandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kesetaraan, kebahagiaan, dan kerjasama dalam membangun kebaikan.

Melalui visi sosial ini, santri kembali ke masyarakat, untuk berproses di tengah-tengah masyarakat, membimbing dan mengamalkan ilmunya, dalam hal membangun ekonomi kerakyatan, mengembangkan kualitas pendidikan, memberikan keteladanan moral dan dedikasi untuk bangsa.

Oleh karena itu, melalui lima kategaori yang ada dalam pesantren di atas. Membuat pesantren sejak dulu hingga sekarang tidak kesulitan dalam melahirkan kader yang mumpuni. Justru pesantren bisa dikatan menjadi agen perubahan (agen of change) dalam mencetak kader bangsa.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *