Piknikisme dan Muslim

Hari itu tiba-tiba piknikisme! Penulis mengartikan hari bergelimang bujukan untuk piknik. Pembujuk berupa iklan dan berita. Setiap hari, penulis membeli dan membaca 4-6 koran edisi cetak. Kebiasaan untuk melintasi waktu dengan kata-kata dan tangan membuka halaman demi halaman. Konon, “ibadah harian” ini dianggap kuno dan boros. Pada 19 September 2019, penulis di hadapan Kompas dan Republika mendapat godaan tak biasa. Piknik! Pilihan membaca koran cetak malah dibujuk memikirkan segala hal mengenai piknik. “Kutukan” terlalu pagi.

Kompas, 19 September 2019, memberi 24 halaman melulu piknikisme. Suguhan berkaitan acara Kompas Travel Fair digelar di Jakarta Convention Center, Jakarta, 20-22 September 2019. Piknik, berlibur, wisata, atau pelesiran itu penting. Orang malah berhak mengatakan penting pangkat dua atau tiga. Para leluhur mungkin pernah memberi petuah bahwa piknik itu memuliakan hidup. Orang masih hidup atau mumpung masih bernapas mendingan piknik, sebelum semua berakhir. Kini, piknik memang “terlalu” penting bagi kita berbarengan kemunculan pelbagai perusahaan, penggunaan gawai untuk memudahkan misi piknik, dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Segala hal jadi mudah, cepat, menguntungkan, berhadiah, dan memuaskan.

Kita simak halaman memuat bujukan berjudul “Saatnya Berkunjung ke Taiwan”. Negara kecil berjulukan “Jantung Asia”. Kita dianjurkan piknik ke Taiwan. Informasi (agak) mengejutkan: “Sedangkan, berdasarkan riset Mastercard, Taiwan menduduki peringkat ketiga sebagai tujuan wisata ramah Muslim terfavorit. Wajar, karena Taiwan sudah memiliki lebih dari 200 sertifikat halal di sejumlah hotel dan restoran.” Taiwan menanti kunjungan kita. Keterangan “halal” penting bagi orang-orang Indonesia untuk memutuskan bepergian ke Taiwan. Perkara itu terpenuhi. Kita mungkin sempat geleng kepala. Taiwan tanggap dengan piknik bercap halal?

Baca juga :  Berdiksi “Halal”

Orang-orang belum memiliki duit untuk piknik ke Taiwan mendingan mengingat sejarah hubungan Indonesia-Taiwan di masa lalu. Kita mengajak ke “piknik” bacaan atau “piknik” ke sejarah. Buku berjudul Revolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia, Tiongkok, dan Etnik Tionghoa, 1945-1967 (2019) garapan Taomo Zhou menjadi pengantar kita ke masa lalu. Buku berasal dari disertasi di Cornell University. Di situ, kita membaca hubungan Indonesia-Taiwan sudah ingin erat sejak masa revolusi.

Dulu, ada “kebingungan” dalam jalinan diplomasi antara Indonesia-Tiongkok dan Indonesia-Taiwan. Semua gara-gara ideologi. Indonesia dihadapkan pada perseteruan kubu komunis dan nasionalis ingin meraih simpati orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia. Pergerakan orang-orang dari Indonesia ke Tiongkok dan Taiwan sudah sering, berhitung perkara politik, perdagangan, dan pendidikan. Urusan piknik belum tampak pada masa Indonesia sedang menjalankan misi besar, 1945-1967.

Kita mengerti masa lalu itu ruwet. Kini, kita mendapat cerita baru bahwa orang-orang Indonesia mulai menjadikan Taiwan adalah tujuan piknik. Pilihan itu dianggap “tepat” mengacu ke pelbagai hal, termasuk ramah bagi turis beragama Islam. Slogan penting: “Mencari yang halal di Taiwan makin mudah.” Kita tak cuma mendapatkan informasi tentang Taiwan. Piknik berselera halal juga ada di Granada (Spanyol), Vienna (Austria), Kyoto (Jepang), dan lain-lain. Halal sudah patokan di pemajuan atau pengembangan bisnis piknik. Orang-orang beragama Islam jangan ragu untuk piknik. Pelbagai negara mulai bersaing demi cap hal. Piknikisme cap halal itu menguntungkan dan memberi kesan “keimanan”.

Baca juga :  Wara’, Prioritas Muslim dalam Memilih Makanan Halal

Kita simak “Tips Wisata Halal agar Makin Menyenangkan”. Petunjuk-petunjuk mesti dipelajari sebelum menentukan pilihan tempat-tempat piknik. Di Kompas, kita membaca petunjuk: “cari tahu tempat makanan halal, pesan hotel yang ramah Muslim, cari aplikasi yang membantu, bawa pakaian yang praktis, dan ketahui peraturan lokal.” Sekian hal dipelajari sebelum piknik. Penulis mulai berpikiran bahwa piknik itu “ilmu”. Piknik juga berkaitan “agama”. Penulis belum pernah piknik ke luar negeri. Kemunculan tema “piknik halal” justru membuat penulis mendapat tambahan “ilmu” tapi berat dipelajari dan diamalkan.

Kebijakan dan situasi di negara-negara jauh sedang meriah demi meladeni para turis beragama Islam. Di Indonesia, masalah “halal” masih pengharapan. Republika, 19 September 2019, memuat sehalaman tema hotel syariah (bersertifikasi halal). Penulis merenung sejenak. Kehebohan piknik halal di pelbagai negara dengan ketersediaan hotel dan restoran justru berkebalikan di Indonesia. “Belum ada satu pun hotel bintang empat dan lima yang bersertifikat syariah,” pembuka di tulisan Republika. Penulis sedang membaca hal serius. Tema sulit dimengerti meski membaca ratusan buku lawas dan baru.

Keterangan dari Ketua Bidang Industri Bisnis dan Ekonomi Syariah, Dewan Syariah Nasional, MUI, M Buchori Muslim cukup sulit dipahami: “… hingga saat ini, yang sudah mengantongi sertifikat syariah baru hotel bintang tiga. Kurangnya minat sertifikasi syariah oleh hotel bintang empat dan lima karena beberapa pemilik, di antaranya, adalah orang asing yang tak paham dengan sertifikasi ini. Sehingga, perlu adanya peningkatan sosialisasi dari pemerintah.”

Baca juga :  Berdiksi “Halal”

Tema hotel di abad XXI dipahami oleh sekian pihak dengan halal atau syariah. Hotel dengan sejarah panjang di Indonesia dengan gampang ingin diurusi dengan sekian ketentuan agar bisa memiliki sertifikasi halal dan menunjang misi piknik selera halal. Kita teringat dengan perkara Tirto Adhi Soerjo, hotel, dan Sarekat Dagang Islam di awal abad XX. Di buku berjudul Sang Pemula susunan Pramoedya Ananta Toer, kita membaca biografi Tirto Adhi Soerjo tak melulu pers (Medan Prijaji). Ia pun berusaha dalam bisnis hotel dan menggerakkan kaum pedagang di Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam.

Hotel menjadi tempat penting bagi tokoh-tokoh di bisnis dan kemauan menggerakkan kesadaran melawan kolonialisme. Hotel tak wajib dicap “halal”. Pada awal abad XX, hotel-hotel sudah berdiri di pelbagai kota. Di sejarah kemunculan dan pembesaran Sarekat Islam, hotel pun berperan meski tak dijadikan sebagai tempat di misi piknik. Kini, ingatan itu memudar gara-gara misi piknik berselera halal dan menjaikan hotel-hotel bersertifikat syariah. Begitu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.