Pocut Baren, Pejuang Perempuan dari Aceh

travel link

Seorang perempuan yang lahir di Tungkop, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu pejuang perempuan. Namanya Pocut Baren.

Seorang putri dari Uleebalang (tokoh adat) Tungkop yaitu Teuku Cut Ahmad. Ayahnya merupakan seorang yang sangat berpengaruh di Aceh. Rumahnya sering didatangi oleh banyak ulama yang ingin berdiskusi tentang masalah keagamaan.

Pocut Baren lahir dan dibesarkan dalam suasana konflik dan peperangan. Darah pahlawan yang mengalir dalam diri Pocut Baren berasal dari ayahnya. Dengan begitu, Pocut Baren menjadi seorang pejuang yang ditakuti oleh pihak penjajah.

Mempunyai Mental Pejuang Sejak Kecil

Di masa kecilnya, Pocut Baren telah dilatih dengan berbagai ujian berat yang membentuk dirinya menjadi sosok pemberani, kuat, ulet dan semangat untuk memusuhi Belanda. Dengan begitu, banyak harapan Pocut Baren menjadi sosok yang berani berkorban demi bangsa dan negara.

Di usianya yang masih sangat muda, ia selalu mengikuti ayahnya dalam berbagai peperangan di Aceh Barat. Fisik dan mentalnya telah terbentuk menjadi seorang pahlawan. Melalui lantunan bait-bait hikayat Aceh tentang syair perjuangan.

Setelah dewasa, Pocut Baren melangsungkan pernikahan dengan seorang Uleebalang Geume dan panglima perang di Woyla. Pocut Baren dan suaminya bersama-sama memerangi Belanda. Namun suaminya kemudian gugur di medan perang sebagai seorang syuhada.

Baca juga :  Nusaibah binti Ka’ab, Pejuang yang Membela Hak Perempuan

Meninggalnya sang suami tidak membuat Pocut Bareng mundur dengan ketakutan. Pocut Baren tetap semangat dan bangkit mengangkat senjata dan melancarkan serangan kepada Belanda.

Pocut Baren selalu membawa ronceng di badannya dan ketika berjalan di tempat yang sangat mencurigakan, Pocut Baren selalu menghunus pedang di tangannya. Begitulah gambaran Pocut Baren ketika menghadapi serangan dari pihak Belanda.

Menulis Syair

Seperti anak-anak lainnya, Pocut Baren juga mendapatkan pendidikan agama dengan mengaji di rumoh teungku seumbeut. Dari mengaji atau belajar agamanya itu, Pocut Baren memiliki keberanian berkorban demi tegaknya kepentingan agama dan bangsanya.

Tidak hanya rela berkorban dalam hal berjuang atau berperang, Pocut Baren juga rela meninggalkan kemewahan dan kesenangan duniawinya. Pocut Baren bukanlah perempuan biasa, dia sangat pemberani dan rela melakukan apa saja demi agama dan negaranya.

Pocut Baren bukan hanya pejuang, dia juga banyak menuliskan berbagai pantun dan syair baik dalam bahasa Aceh maupun huruf melayu Arab (Jawi). Karya-karyanya ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Masyarakat mengapresiasi perjuangan Pocut Baren dalam menghadapi Belanda dalam sebuah prasasti yang diletakkan di samping makam Pocut Baren. Letaknya di Desa Tangkop Kecamatan Sungai Mas, Aceh.

Baca juga :  Kartini dan Semangat Merawat Literasi yang Harus Diteladani
Menjadi Pejuang Perempuan

Perempuan Aceh mempunyai keistimewaan tersendiri. Keberanian perempuan Aceh dalam mempertahankan cita-cita kebangsaan dan keagamaan terlihat baik di belakang layar maupun secara terang-terangan menjadi pemimpin perlawanan.

Perempuan Aceh banyak pula yang menjadi Sultanah (perempuan kepala pemerintahan Aceh), laksamana (pemimpin perang), uleebalang (kepala kenegerian) dan menjadi pemimpin peperangan terhadap penjajah.

Sebuah kenyataan bahwa peran perempuan Aceh selama perang kolonial Belanda di Aceh (1873-1942) menentukan lama atau tidaknya perang berlangsung.  Perempuan Aceh telah memenuhi panggilan Agama Islam untuk memerangi Belanda.

Mereka (perempuan Aceh) berperan aktif dalam peperangan. Keberanian dan keteguhan hati dalam menjalankan perjuangan menjadi hal unik yang hanya dimiliki oleh para perempuan Aceh.

Dalam hal berperang melawan penjajah, perempuan Aceh mempunyai kontribusi dan tanggung jawab moral sosial. Peran perempuan Aceh dalam perang membuat para penjajah kesulitan dalam menilai sosok pribadi mereka.

Tugas Bersama

Keberanian perempuan Aceh ini menjadi ancaman tersendiri bagi para penjajah. Ketika mereka memulai sebuah pertempuran maka kekuatannya dapat mengalahkan kekuatan laki-laki. Perjuangan bukan hanya tugas laki-laki, namun tugas bersama.

Seperti dalam konsep keadilan dan kesetaraan, perempuan Aceh telah melaksanakannya sejak masa kolonial. Mereka juga berjuang di medan perang bersama dengan laki-laki. Mereka juga membawa ronceng dan pedang untuk memerangi para penjajah.

Baca juga :  Perempuan: Sekolah dan Sejarah

Konsep ini sama dengan konsep syariat Islam, tidak ada bedanya kedudukan laki-laki dan perempuan. Perempuan bukan subordinat laki-laki, tidak ada yang melebihkan kedudukan di antara keduanya kecuali ketakwaan.

Kini, kiprah perempuan harus bertumpu pada pemberdayaan intelektual melalui jalur pendidikan dan adanya pemberdayaan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Jika sumber daya perempuan dapat dikembangkan secara maksimal maka mereka akan menjadi potensi yang luar biasa.

Dengan begitu, di era yang semakin berkembang ini pemberdayaan perempuan dan pegembangan karir bagi perempuan haruslah dikembangkan. Perempuan diberikan kebebasan untuk melaksanakan hal-hal postif dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *