Potret Kesalehan Muslim Perkotaan

Kelahiran teknologi informasi dan perkembangan zaman sampai dengan sekarang ini memungkinkan proses interaksi sudah bergeser. Apalagi semenjak muncul narasi besar tentang gerakan revolusi teknologi dan industri 4.0 yang menjadi tonggak awal untuk menyebarkan semangat enterpreneurship di kalangan pemuda. Penggunaan teknologi yang masif dan banyak konten-konten atau literasi yang merambah di dalam dunia teknologi.

Fenomena sudah biasa bagi umat muslim yang mengalami perkembangan teknologi informasi yang bisa dikatakan hal semacam ini mempermudah proses reproduksi wacana dan informasi. Kita bisa lihat bersama bahwa sekarang ini banyak hal yang memudahkan kita untuk mengakses kebutuhan beragama. Bagi generasi muslim milenial, menghadirkan kesalehan di tengah-tengah kehidupan sangat mudah sekali.

Kemudahan ini justru malah memberikan akses yang mudah untuk melahirkan hal-hal baru dalam usaha menghadirkan agama di ruang publik. Jika kita membaca catatan Generasi Muslim Milenial yang ditulis oleh Shelina Jeanmohammed (2017) dalam bukunya Generasi Muslim Milenial : Merubah Dunia. Shelina berangkat dari fenomena terbentuknya stereotype dan islamphobia yang ada di Amerika. Dalam catatan yang sudah dibubukan ini, Generasi Muslim Milenial mencoba untuk melakukan counter terhadap lahirnya prasangka-prasangka terhadap Muslim Amerika.

Jika kita melihat ekspresi muslim perkotaan yang hidup dengan berbagai corak tren dan perkembangan fashion ini selalu menampilkan hal yang baru. Dalam hal mewakili identitas Islam dan untuk memperlihatkan dirinya ke dunia luar. Meskipun perkembangan tren baru gaya berpenampilan, akan tetapi masih berpegang teguh dan selalu berpatokan kepada prinsip keimanan.

Baca juga :  Jilbab, Identitas, dan Ketaatan Ekonomi

Melihat perkembangan fashion ini sangat mendorong dan berpotensi menaikan industri kelas dunia di kancah Internasional. Melihat gaya hidup dan produk yang semakin hari cenderung berubah-ubah hanya untuk memenuhi kebutuhan sebagai seorang muslim tentu saja ini menjadi komoditas tersendiri.

Di tengah tumbuh kembang masyarakat Eropa, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Salah satunya, yaitu Shelina Janmohamed, yang sebagai seorang muslimah yang hidup di tengah persaingan global masyarakat Eropa. Sebagai warga keturunan, ia mencoba untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan dan gaya hidup yang dipilih sebagai seorang muslim yang taat beragama sejalan dengan perkembangan modernitas yang terjadi di Eropa.

Tren mengenai konsumerisme global memiliki fokus terhadap aktifitas generasi muslim milenial dan muslim perkotaan sebagai salah satu penggerak ekonomi terkuat abad-21. Tren mengenai gaya hidup generasi muslim ini mengarah pada beberapa bidang seperti tren bermusik, makanan halal, fashion, pariwisata dan hingga kesehatan kecantikan. Perhatian besar terhadap beberapa bidang ini memunculkan beberapa industri kecil yang berkembang untuk menarik perhatian pelaku bisnis.

Cerminan perilaku konsumerisme bukan menjadi perilaku tunggal untuk menghadirkan Tuhan, namun mereka juga mengikuti berbagai acara-acara keislaman hingga mengikuti ustaz-ustaz yang muncul di televisi. Perilaku semacam ini tentu saja memiliki tendensi perilaku beragama yang memiliki corak tersendiri dalam Islam. Muslim perkotaan selalu memiliki perilaku beragama atau ekspresi beragama tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Menurut Greag Fealy (2012) menyebutkan dalam bukunya Ustadz Seleb, Bisnis Moral & Fatwa Online : Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer bahwa telah terjadiya komodifikasi Islam secara akurat menangkap dan mengizinkan analisis atas dimensi komersial dari kegiatan-kegiatan yang bernilai spiritual. Namun, istilah yang diberikan Greag Fealy terhadap masyarakat muslim perkotaan ini banyak tidak sepakat dengan penggunaan istilah tersebut. Fealy menguatkan kembali adanya relasi antara spiritualitas dan perdagangan memang sangat kompleks.

Baca juga :  Haji, Mentransformasikan Nilai Spiritualitas Ke Nilai Kemanusiaan

Jika kita melihat saat ini, geliat muslim perkotaan dengan perilaku beragama ala perkotaan yang juga ikut andil serta dalam proses beragama yang baik, ramah dan tidak marah. Kemunculan istilah komersialisasi Islam pun tidak serta merta menggambarkan muslim perkotaan seutuhnya. Mereka memiliki berbagai cara untuk mengahadirkan tuhan dalam ruang publik dan dalam dirinya sendiri. Kelahiran beberapa geliat untuk membangun identitas beragama sebagai muslim untuk membendung stereotype dan prasangka yang setiap detik lahir di permukaan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.