Prinsip BJ Habibie Patut Diteladani oleh Pengajar dan Pembelajar

Setiap 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, sekaligus hari pengucapan terima kasih yang terus berlebih kepada para pendidik tanpa pamrih. Namun tulisan ini lebih mengarah ke ihwal tentang prinsip-prinsip hidup alm. Eyang Habibie yang perlu diteladani oleh para pengajar dan pebelajar; sebab pendidikan tak hanya kisah tentang pengajar, tetapi juga perjuangan para pelajar.

Pendidikan tanpa pengajar adalah permainan, sedangkan pendidikan tanpa pebelajar adalah kesia-siaan. Seluruh sumber data dalam tulisan ini bersifat non-fiktif dan valid, sebab diambil dari buku Inspirasi Habibie karya A. Makmur Makka yang diperoleh dari narasumber-narasumber terpercaya.

Mengajar untuk Kepuasan Jiwa, bukan Sekadar untuk Urusan Makanan dan Pakaian

Prinsip pertama yang perlu diteladani dari sosok Presiden ke-tiga Indonesia ini adalah melakukan pekerjaan bukan untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun pakaian, tetapi untuk memenuhi kepuasan jiwa. Dikisahkan bahwa selama di Jerman, B.J. Habibie memiliki jabatan sebagai Direktur Pengembangan Teknologi di MBB (Messerschmitt Bolkow Blohm, sebuah pabrik pesawat terbang di Jerman).

Tiba-tiba B.J. Habibie dipanggil oleh Pemerintah Indonesia-era Soeharto-untuk mengabdi kepada negaranya. B.J. Habibie saat itu bertugas sebagai penasihat Presiden dan enasihat Dirut Pertamina. Jabatan yang super penting itu tidak lantas membuatnya memiliki kantor pribadi dengan fasilitas yang luxury, B.J. Habibie ‘hanya’ nunut satu meja di kamar staf ahli Dirut Pertamina, Dr. Sanger.

Pernah suatu waktu B.J. Habibie diwawancarai oleh seorang wartawan tentang jabatan barunya sebagai Menteri, beliau memberikan jawaban yang ‘cukup mengesankan’. Beliau berkata:

“Ketika saya kembali ke Indonesia, saya sudah di Eropa selama 20 tahun. Di Eropa saya mempunyai rumah, pekerjaan, dan penghasilan yang memadai. Oleh sebab itu, jangan berbicara tentang income. Saya masuk kabinet Pak Harto bukan karena makanan maupun pakaian, saya sudah memiliki semuanya sebelumnya. Namun manusia tidak hanya hidup untuk makanan dan pakaian, manusia juga butuh kepuasan. Maksudnya kepuasan jiwa saat mendapatkan kesempatan untuk membangun bangsa ini”.

Ungkapan Eyang Habibie-suka atau tidak-telah ‘menampar’ siapa pun yang bekerja hanya untuk memenuhi kepuasan materialistis, termasuk di antaranya para pengajar. Mengajar bukan hanya perihal tentang mendapatkan gaji, insentif, atau sertifikasi; tetapi juga tentang pemberian janji-janji kehidupan bangsa yang lebih baik lewat generasi-generasi muda yang cerdas, kreatif, inovatif, dan berakal budi.

Baca juga :  KH Mustaqim: Ilmu Silat, Tarekat, dan Nasionalisme

Satu hal yang layak untuk direnungi; yakni gaji terindah untuk seorang pendidik bukan nominal angka yang berjuta-juta, tetapi ketika salah seorang muridnya dulu yang kini telah sukses menapaki karirnya berkata dengan bangga, “Beliau adalah guruku dulu. Tanpanya, aku tak akan pernah berada di posisi ini”.

Cara Memahamkan Pebelajar ala Eyang Habibie

Prinsip lainnya yang layak diteladani oleh para pengajar dari Eyang Habibie adalah keyakinan beliau bahwa cara membuat orang cepat mengerti adalah penjelasan dengan memberikan contoh. Diceritakan kala B.J. Habibie diangkat menjadi Presiden, beliau menganjurkan rakyatnya agar berpuasa sunnah ‘Senin-Kamis’ untuk mengatasi masa krisis.

Tentu saja, sebagian besar orang ‘bertanya-tanya’ tentang korelasi antara berpuasa dengan masa krisis. B.J. Habibie pun menjelaskannya dengan contoh sederhana. Kurang-lebih seperti ini, anjuran berpuasa tidak berhubungan dengan agama tertentu, tetapi anjuran ini bersifat pembudayaan.

Dengan berpuasa Senin-Kamis, setiap orang dapat menghemat 20 kg beras karena setiap manusia dalam sekali makan membutuhkan 200 gram kalori dalam satu porsi beras. Jadi, dalam 52 minggu selama setahun manusia menghemat 20 kg. Jika yang berpuasa satu juta orang, maka dapat menghemat 20.000 ton beras selama setahun. Jika 150 juta orang yang berpuasa, maka dapat menghemat 3 juta ton beras yang berarti setara dengan jumlah beras yang harus diimpor.

Metode penjelasan dengan contoh ala Eyang Habibie dapat diterapkan oleh para pengajar dalam proses pembelajaran. Dengan contoh ̶ atau dalam bahasa lainnya bisa disebut dengan ‘pengalaman’ ̶ para pebelajar akan lebih tertarik dan antusias daripada sekadar materi tertulis dalam buku paket atau LKS.

Baca juga :  Mengenal Habib Abu Bakar bin Umar Assegaf, Wali Qutb dari Gresik

Misalnya saja, penjelasan tentang gaya gravitasi dengan cara mengajak para siswa melemparkan benda yang berbeda-beda ke atas sembari memberikan pertanyaan benda mana yang jatuh ke tanah terlebih dahulu. Atau penjelasan tentang sistem cangkok, stek, dan sejenisnya; dengan cara mengajak para siswa melakukannya di kebun atau halaman sekolah secara mandiri menggunakan baju olahraga.

Pengalaman merasakan secara langsung akan mudah diingat dan membekas daripada sekadar membaca teori yang dengan mudah membuat siswa ‘bermimpi’. Berkaca dari nasihat legend dalam buku tulis, yakni “Experience is The Best Teacher”; metode penjelasan dengan contoh adalah ‘Guru yang Terbaik’ kan?

Belajar Harus Berbasis Kemandirian, bukan Berbasis Keuntungan

Jika dua hal sebelumnya merupakan sebuah saran-atau saya lebih senang menyebutnya harapan-untuk pengajar, maka kali ini bergantian; sub ini ditujukan secara khusus untuk para pebelajar. Prinsip Eyang Habibie yang perlu diteladani oleh para pebelajar adalah pekerjaan harus berbasis kemandirian, bukan berbasis keuntungan.

B.J. Habibie mengatakan bahwa alasan kemandirian lebih penting dari keuntungan adalah karena kemandirian merupakan kebahagiaan jangka panjang, sedangkan keuntungan adalah kebahagiaan jangka pendek. Prinsip ini sangat fundamental bagi pebelajar masa kini. Di masa yang serba digital ini, para pebelajar kerap lebih mengutamakan keuntungan daripada kemandirian.

Misalnya saja ketika mengerjakan sebuah paper ̶ atau makalah, karya tulis ilmiah, atau tulisan deskriptif ̶ yang lebih memilih meng­CoPas ̶ Copy lalu paste ̶ dari internet daripada membuatnya secara mandiri dengan ide yang lebih kreatif dan inovatif. Dalihnya adalah tulisan secara mandiri tidak lebih baik dari tulisan-tulisan yang beredar di ‘dunia jaringan’ atau alasan klasik tentang waktu yang terlalu mepet.

Parahnya lagi; ketika tulisan hasil CoPas-nya mendapatkan nilai sempurna, dengan bangga dipamerkan kepada teman-temannya bahwa ia memang istimewa. Sebenarnya sederhana saja; Apa yang bisa dibanggakan dari diri sendiri tentang sebuah hal yang dilakukan oleh orang lain? Sama sekali tak ada, selain fakta bahwa diri sendiri tak lebih dari seorang pencuri.

Baca juga :  Fathimah, Teladan Seluruh Muslimah

Satu hal terakhir yang ingin terucap; baik pengajar maupun pebelajar, dua-duanya harus tetap belajar.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *