Prinsip Perdamaian dalam Islam Menurut Al-Qur’an

Perdamaian dalam Islam

Islam merupakan agama terakhir dan juga sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ajaran-ajaran dalam Islam merupakan ajaran yang paling lengkap dan sempurna.

Dalam Islam, Al-Qur’an merupakan sumber utama yang membawa perdamaian dalam kehidupan manusia. Sedangkan misi kerasulan Nabi Muhmmad Saw. adalah untuk menebar nilai-nilai perdamaian dan menjadi rahmat bagi seluruh alam sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Anbiya ayat 107.

Menurut Al-Qur’an, istilah damai direpresentasikan dengan kata salam, yakni sebuah kata yang memiliki hubungan semantik dengan kata “Islam”. Al-Qur’an menyebut redaksi “salam” sebanyak 175 kali. Rinciannya yaitu 79 kali dalam bentuk isim (kata benda), 50 kali dalam bentuk na’at (kata sifat) dan 28 kali dalam bentuk fi’il atau kata kerja (Imam Taufik, 2016: 5).

Adapun salah satu ayat Al-Qur’an yang menuntut upaya transformasi perdamaian adalah ayat 208 dalam Surat al-Baqarah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu dalam kedamaian secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218)

Rasyid Ridha dalam kitab tafsirnya berjudul Tafsir al-Manar menyebutkan bahwa dalam ayat ini Allah Swt. memerintahkan kaum muslimin agar masuk dalam kedamaian secara totalitas. Allah telah memberikan hidayah pada manusia agar mereka mentransformasikan perdamaian (salam), kebajikan (shalah) dan kerukunan (wifaq) sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Islam.

Sedangkan menurut mufassir besar, Imam Tabari, ia menafsirkan potongan ayat “Udkhulu fissilmi Kaffah” dengan menegakkan syariat-syariat Islam. Artinya, menjaga segala hal yang diwajibkan serta melarang untuk menyia-nyiakannya.

Kriteria Muslim Ideal

Dalam hal ini, Rasulullah Saw. mempunyai kriteria tentang muslim ideal yang patut kita ketahui. Menurutnya, muslim ideal adalah orang yang mampu memberi kedamaian bagi masyarakat dari perilaku dan komunikasinya. Kriteria ini sebagaimana sabda Rasul dalam hadis:

 الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang Muslim adalah yang mampu memberi rasa damai pada kaum muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Bathal dalam kitabnya “Syarh Sahih al-Bukhari” menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh Abu Musa tentang kriteria kislaman yang utama, “Seperti apa Islam yang utama wahai Rasulullah (ay al-Islam al-Afdal)?” Kemudian, Rasulullah menjawab “Memberi rasa aman pada orang lain baik dari tangan atau ucapannya”.

Sementara dalam riwayat lain yaitu dari Abdillah bin Umar bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi Saw., “Seperti apa Islam yang utama?” Nabi pun menjawab, “Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.

Oleh sebab itu, Islam sebagai agama damai tidaklah membenarkan adanya praktik kekerasa. Cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan apa yang dianggap sakral adalah bukan cerminan ajaran Islam.

Prinsip Perdamaian Al-Qur’an

Pada dasarnya banyak nilai-nilai atau pun prinsip-prinsip perdamaian yang termaktub dalam Al-Qur’an. Adapun prinsip ajaran Islam yang berorientasi pada terbentuknya perdamaian di tengah umat manusia sehingga mereka dapat hidup rukun, sejahtera dan harmonis, antara lain sebagai berikut:

1. Menjunjung Tinggi Keadilan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Maidah [5]: 256).

Al-Sa’di menyebutkan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya beriman dengan cara senantiasa menegakkan keadilan dalam segala gerak-geriknya. Hal itu dilakukan karena Allah semata, bukan karena tujuan yang bersifat duniawi. Maksud dari adil di sini yakni tidak berlebihan (ifrat) dan meremehkan (tafrit) dalam segi ucapan dan tingkah laku.

Al-Sa’di juga menjelaskan, ayat di atas menyeru umat Islam agar bersikap adil baik kepada muslim atau non-muslim. Sesunggunya, sikap adil itu lebih dapat mendekatkan diri kepada takwa.

2. Adanya Persamaan Derajat

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Sementara itu, Syekh Wahbah Zuhaili dalam tafsir Al-Munir menyatakan bahwa ayat tersebut memberikan kabar kepada manusia bahwa mereka diciptakan oleh Allah dari satu jiwa, yaitu Adam dan Hawa’. Sehingga, antara satu individu dengan individu lainnya sama, saudara dalam satu nasab.

Oleh karenanya, tidak pantas bagi mereka saling membanggakan diri sebab nasab. Allah pun melarang manusia untuk saling mencemooh atau mencaci-maki satu sama lain. Sungguh, Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku yang tidak lain tujuannya adalah untuk saling kenal-mengenal. Bukan untuk saling membanggakan atau memudaratkan satu sama lain.

3. Menyeru Hidup Rukun dan Saling Tolong Menolong

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Q.S. al-Maidah [5]: 2)

Adapun yang dimaksud dengan “al-Birru” pada ayat di atas yaitu senantiasa melakukan kebaikan. Sementara yang maksud “al-Taqwa” adalah takut untuk melakukan sesuatu yang dapat membahayakan orang lain. Tentu saja baik dari segi agama atau dunianya serta takut untuk melakukan segala macam maksiat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Maraghi dalam tafsirnya.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Islam, gagasan tentang perdamaian merupakan hal mendasar dan mendalam sebab berkaitan dengan watak agama Islam.

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah merupakan agama yang mengajarkan tentang perdamaian dan keselamatan seluruh umat manusia. Dengan begitu, Islam melarang setiap individu melakukan suatu hal yang dapat memudaratkan individu lainnya, sehingga Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *