Problematika Mudik Kaum Urban di Tahun 1998

Manusia Indonesia dari tahun ke tahun terus bergerak dari desa ke kota. Urbanisasi kian marak manakala kota semakin berkembang dengan pesatnya. Beragam tujuan mereka hijrah ke kota, dari studi hingga mencari penghidupan yang layak untuk sanak keluarga.

Saat libur lebaran sudah tiba, tak ayal kembali ke kampung halaman menjadi ritus wajib dalam bulan puasa. Jutaan orang bergerak ke tempat masing-masing, dari naik motor, mobil, kereta, hingga pesawat.

Hal ini yang tidak dialami oleh Kamil dan keluarganya dalam cerpen Menjelang Lebaran yang ditulis oleh Umar Kayam.

Mulanya, gelagat aneh Kamil itu ditangkap oleh istrinya, Sri, saat Kamil baru tiba di rumahnya. Hal itu tidak disadari oleh dua anaknya yang masih belia. Pun dengan Nah, pembantunya, yang telah bekerja sepuluh tahunan untuk mereka, juga tidak menangkap sinyal buruk dari Kamil.

Saat anak-anak sudah menjauh dari keduanya, Kamil pun mulai menyampaikan bahwa dirinya menjadi salah satu pegawai yang dirumahkan karena perusahaannya yang mengalami kolaps akibat carut marut ekonomi.

Sastra, kata de Bonald, merupakan gambaran tentang masyarakat yang sesungguhnya. Cerpen tersebut menyuguhkan peristiwa krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 yang terjadi di Indonesia sehingga membuat harga barang melambung dan mencekik rakyat, kepercayaan terhadap pemerintah mulai hilang, sehingga puncaknya pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya.

Baca juga :  Ekspresi Toleran Muslim Indonesia

Kamil dan Sri terpaksa membatalkan rencananya mudik ke kampung halamannya di Jawa meski awalnya berkeyakinan masih dapat sampai ke sana. Namun, kenaikan harga yang tak terkira membuat Sri yang sebelumnya sudah menghitung-hitung sisa uang yang ada, mengurungkan rencana awal dan mengubahnya.

Mereka batal mudik ke Jawa. Tetapi, kabar tersebut tidak langsung mereka sampaikan ke dua anaknya yang masih punya harapan untuk bisa jumpa dengan eyang kakung dan eyang putrinya. Ketika keduanya tanya pada ibunya, Sri menjawabnya dengan insyaallah. Mereka pun meminta kepastian pertanyaannya. Sri pun tidak mengamini mereka.

“He, he, he. Iya, Insya Allah Mas dan Ade. Kalau diperkenankan Tuhan tentu kita berangkat.”

“Kalau tidak diperkenankan Tuhan?”

“Ya Gusti Allah pasti mempunyai alasan kuat dan baik untuk tidak memperkenankan kita berangkat.”

Bahkan, ia mengusulkan kepada Kamil agar Nah juga bernasib sama dengan suaminya itu, di-PHK, karena ketiadaan biaya.

“Nah, jangan salah terima ya, Nah. Kami terpaksa memberhentikan kamu karena kami tidak mampu menggajimu seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan. Bapakmu sudah jadi penganggur, kami sendiri harus memeras tenaga sekarang untuk mendapat penghasilan….”

Namun, Kamil membatalkan pemberhentian itu dengan syarat Nah mau untuk sementara tidak digaji karena betul-betul ketiadaan biaya. Sikap demikian karena Kamil melihat sosoknya sebagai seorang yang baik lagi berjasa betul mengingat dedikasinya yang sudah bertahun-tahun.

Baca juga :  Larangan Mudik 2020, MUI: Kami Dukung Demi Kemaslahatan

Ia berjanji akan memberikan gaji lagi setelah mendapat pekerjaan dan gaji yang layak nanti. Sri dan Nah pun menyetujui.

Ketegaran dan optimisme seorang istri bernama Sri sangat membantu Kamil sebagai suami dalam mengambil kebijakan dalam rumah tangganya. Mereka saling membangun kepercayaan diri dan mengambil solusi yang menenangkan berbagai pihak.

Selepas diberhentikan, tentu saja mereka tidak tinggal diam. Setelah lebaran, suami berencana langsung mencari pekerjaan lagi untuk membangun kembali perekonomian keluarga yang terpuruk.

Membaca cerpen tersebut menggambarkan beratnya kehidupan di tahun tersebut. Tetapi tentu hal itu belum seberapa dibanding penderitaan saudara-saudara kita lain yang mungkin tidak terekspos.
Karenanya, kita tentu harus senantiasa bersyukur atas karunia yang kita nikmati sampai detik ini.

Syukur itu bisa kita lakukan dengan berbagi kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Sebab, esensi puasa adalah meningkatkan empati kita betapa begitu menderitanya tidak makan dan minum seharian. Hal tersebut dirasakan saban hari oleh sebagian dari orang-orang di sekitar kita sendiri.

Di samping itu, selagi kita masih memiliki sanak famili, usahakan sebisa mungkin untuk tetap menjalin silaturahim. Tidak cukup hanya melalui media sosial, pertemuan secara fisik akan memberikan kesan dan nuansa yang berbeda.

Baca juga :  Masyarakat Diimbau Tak Mudik, PBNU: Lebaran Online Saja

Nabi Muhammad sangat menganjurkan hal tersebut. Tentu berbeda halnya jika keadaan belum mampu memaksakan keinginan tersebut seperti yang dialami oleh Kamil dan keluarganya.

Bersyukurlah kita yang masih bisa mudik, jumpa sanak keluarga. Selamat berlebaran bersama orang-orang tercinta.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: English

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.