Prof. Jackie Yi-Ru Ying, Muslimah yang Mampu Menafsirkan Teori Dzarrah

Prof. Jackie Yi-Ru Ying – Kedinamisan disiplin ilmu mengundang banyak ahli untuk berlomba-lomba meneliti hal baru (novelty) yang disesuaikan dengan kondisi manusia dan kebutuhan zaman. Salah satu disiplin ilmu yang paling banyak diminati adalah ilmu teknologi. Di mana ilmu ini telah berkembang dan dimanfaatkan dari berbagai disiplin ilmu lainnya seperti bidang ilmu pendidikan, kesehatan, teknik, dan lain sebagainya.

Salah satu fungsi keberadaan teknologi yang semakin canggih adalah mempermudah aktivitas manusia dan membuat kinerja semakin efesien dan cepat. Hal ini tergambar oleh salah seorang tokoh muslimah bernama Prof. Jackie Yi-Ru Ying. Perempuan muslim ini mampu menciptakan nanoteknologi khususnya di bidang kesehatan. Tentu ini menjadi contoh bahwa kecerdasan perempuan dalam konteks quality tidak bisa dipandang sebelah mata.

Prof. Jackie Yi-Ru Ying dalam dunia akademis dikenal dengan nama Jackie Yin, merupakan seorang ilmuwan yang lahir di Taipei, Taiwan. Kemudian hijrah di Singapura pada saat usia 7 tahun bersama keluarganya dan telah resmi berkewarganegaraan Singapura.

Proses pendidikan yang ditempuh membutuhkan waktu yang tidak sedikit dari satu tempat ke tempat lainnya. Jackie Ying selalu mencari arti hidup yang sebenarnya, di mana ia memutuskan untuk menjadi muallaf (beragama Islam) pada usia 30 tahun.

Tulisan ini tidak akan membahas bagaimana biografi Jackie Ying,  tetapi nilai spiritual dan akademik yang telah dimanifestasikan oleh Jackie Ying sebagai tokoh muslimah yang berpengaruh di dunia. Tidak hanya sebagai peneliti, Jackie Ying adalah tokoh yang disiplin, teliti, dan taat dalam menjalankan ritual agama.

Tentu ini menjadi gambaran bahwa manusia dihormati, dihargai, dan diapresiasi bukan karena agamanya, status sosialnya, dan kemewahannya. Melainkan kecerdasan dan kualitas yang dimilikinya.

Baca juga :  Selingkung Pemikiran Neng Dara Affiah

Kecerdasan dan kualitas ini terlihat jelas oleh Jackie Ying yang dapat dijadikan contoh teladan keilmunya mulai dari serangkaian proses pendidikan hingga kesuksesan penemuan ilmiah demi kemajuan intelektual muslim di dunia. Kehebatan ini dimanfaatkan untuk dijadikan contoh bahwa manusia memilki skill dan kemampuan yang tertanam dalam dirinya. Seperti firman Allah Swt. pada surat Al-Ahzab Ayat 21 di bawah ini:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Laqad kaana lakum fii rasuulillahi uswatun hasanatun

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik

Alquran telah menjelaskan bahwa seorang muslim harus meneladani Rasulullah saw. sebagai panutan umatnya dalam menjalani inti dari kehidupan. Dengan kata lain, orang-orang baik disekiling kita dapat dijadikan contoh. Di mana pada hakikatnya, semua manusia mampu berbuat baik terhadap sesama dan mampu menafsirkan sunnatullah  (hukum alam) disekitarnya.

Seorang Jackie Ying yang memiliki kemampuan menulis 320 Jurnal Internasional yang diterbitkan, 370 kali dalam konferensi internasional, dan memiliki lebih dari 140 hak paten tidak hanya menguasai teks, akan tetapi mampu menafsirkan keadaan dan kebutuhan era teknologi (konteks). Dengan penemuan nanoteknologinya, Jackie Ying dipandang memiliki kecerdasan hebat (quality) yang dipresentasikan di hadapan para akademisi dan ilmuan kelas dunia.

Hal ini membawa dampak besar dalam kemajuan Islam modern dalam bidang Sains dan teknologi. Nanoteknologi disebut sebagai ukuran yang memiliki diameter antara 62-520 pikometer. Jika dinarasikan dengan ukuran suatu benda, maka ini sama dengan 1 (satu) meter dibagi dengan 1(satu) milyar.

Baca juga :  Wardah Hafid, Perempuan Aktivis HAM dari Jombang

Sungguh sesuatu yang amat kecil dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Nanoteknologi juga dapat dikatakan sebagai manipulasi molekular yang sangat kecil dan memiliki energi yang kuat.

Menurut KH. Thaha Muntaha pengasuh Pondok Pesantren Minhajuth Thullab, dalam kacamata agama, nanoteknologi ini tergambar dalam surat Al-Zalzalah ayat 7-8 yang di dalamnya memilki teori “dzarrah”. Ayat tersebut berbunyi:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهُ  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهُ 

Fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yarahu wa man ya’mal mitsqaala dzarratin Syarray yarahu

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahtan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”.

Dzarrah diartikan buah biji sawi. Beberapa pendapat ulama tafsir menyebutkan bahwa dzarrah diartikan sebagai butiran tanah, butiran debu, kepala semut merah, biji khardalah, dan semut yang paling kecil. Pendapat-pendapat ini muncul karena pada masa itu sesuatu yang kecil yang mampu diamati oleh manusia adalah hal-hal yang telah disebutkan di atas. Maka penyebutan dzarrah hanya bisa disandingkan dengan logika manusia.

Sesuatu yang kecil pada era teknologi yang berkembang pesat ini tidak lagi diartikan sebagai butiran debu, tanah, dan lain sebagainya. Akan tetapi mengikuti perkembangan teknologi yang sedang tren dilakukan.

Teori dzarrah diungkapkan bukan untuk menjelaskan jenis benda melainkan penggambaran sesuatu yang amat kecil yang telah diketahui oleh manusia. Dan pada konteks ini, dzarrah bisa jadi ditafsirkan sebagai nano, supernano, atau bahkan supermicro.

Baca juga :  "Keindahan" adalah Energi Positif Perempuan

Jackie Ying sebagai ilmuwan muslimah mampu menafsirkan dzarrah berupa nanoteknologi yang bermanfaat dan digunakan dalam bidang teknologi terintegrasi dalam bidang keilmuan lain di seluruh dunia. Dari sini terlihat bahwa Jackie Ying merupakan kombinasi lengkap antara teks, konteks, dan quality.

Dihargai bukan karena label muslimahnya akan tetapi dunia melihat perpaduan teks, konteks, dan kualitas keilmuan yang dimilikinya. Firman Allah Swt. dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ ج إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Inna akramakum ‘indallahi atqookum, innallaha ‘alimun khobirun.

Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah maha mengetahui maha teliti.”

Setidaknya tulisan ini dapat dijadikan motivasi bahwa seorang muslim atau muslimah dapat berkarya melalui kecerdasan fitrah manusia yang telah diberikan oleh Allah Swt. Dengan modal dasar takwa kepada Allah Swt.

Kemuliaan hakikatnya terletak pada ketakwaan manusia. Takwa dalam arti mendekatkan diri, tekun, teliti, dan istiqomah termasuk dalam meng-upgrade kualitas diri serta mengontekstualisasikan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *