Puasa Pasca-puasa

Bulan Ramadhan telah berlalu, yang ditandai oleh perayaan Idul Fitri. Meski dalam suasana pandemik covid-19, memenuhi anjuran pemerintah dan ulama agar stay at home, ibadah di rumah saja, namun suasana lebaran tetap terasa, bahwa kemarin umat muslim telah merayakan kemenangan, yang atas kehendak-Nya, bisa kembali suci setelah sebulan ditempa oleh olah batin puasa.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar sukses menjalankan ibadah puasa itu, sehingga mencapai derajat takwa (la’allakum tattaqun), sebagaimana disebutkan Q.S al-Baqarah: 183? Bagaimana pula mempertahankan “bersih dan suci” dari dosa setelah, katakanlah di antara kita berhasil meraih predikat takwa?

Jika dicermati, setelah selesai menjalanai puasa Ramadhan, sebenarnya kita masih dianjurkan, bahkan dalam pemahaman tertentu diminta untuk terus “berpuasa”. Puasa apa yang dimaksud? Hal ini merujuk pada dua pemahaman, baik puasa dalam arti secara langsung  maupun tidak langsung.

Pertama, dalam arti langsung, mengacu pada anjuran setelah kita merayakan kemenangan Idul Fitri, agar lebih disempurnakan lagi melalui puasa 6 hari di bulan Syawal, atau disebut juga puasa Syawal. Pelaksanaannya bisa langsung berturut-turut 6 hari atau tidak berturut-turut selama masih dalam bulan Syawal.

Keutamaan dari puasa Syawal ini disebutkan oleh hadis, “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun (HR. Bukhari). Selain itu, menurut para ulama, dengan menjalankan puasa Syawal, menunjukkan seorang muslim itu sedang menghidupkan sunnah nabi dan akan memperoleh syafaat di hari akhir, menunjukkan kualitas iman, dan lain sebagainya.

Baca juga :  Islam adalah Agama Keselamatan Dunia Akhirat

Kedua, puasa dalam arti tidak langsung, berarti menahan diri (imsak) yang tidak hanya dari kebutuhan makan dan minum, tetapi juga dengan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan negatif, maksiat, yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Pasca-puasa

Lalu apa hubungannya dengan aktivitas pasca-Ramadhan? Bahwa keberhasilan seseorang dalam menjalankan puasa sesunggunya tercermin pasca ia menunaikan ibadah Ramadhan. Jika selama sebelas bulan berikutnya tetap berperilaku sama dengan di bulan Ramadhan, berarti ia sukses menjalankan puasa.

Artinya, jika seorang yang berpuasa di bulan Ramadhan terlihat (menjadi) baik, itu wajar, karena memang dengan segala keutamaanya, puasa Ramadhan mengkondisikan kita menjadi orang baik. Namun jika kebaikan itu terus terjaga dan hal-hal positif lainnya terus dilakukan setelah bulan-bulan berikutnya, ini baru luar biasa. Menunjukkan pribadi yang hebat dan keren.

Syekh Siti Jenar, konon, menurut para pengkajinya, membagi puasa ke dalam dua tipe, yaitu puasa syariat dan puasa hakikat. Puasa syariat merupakan puasa yang dibatasi oleh waktu, seperti puasa di bulan suci Ramadhan. Sedang puasa hakikat, mengkondisikan diri (dengan menjaga perbuatan dan lisan) sebagaimana kita berpuasa secara formal di bulan Ramadhan, dan puasa jenis ini tidak mengenal waktu, artinya puasa sepanjang hidup. Artinya, kalau mau jadi orang baik, jangan hanya di bulan Ramadhan, tapi juga harus baik pada bulan-bulan lain sepanjang masa.

Baca juga :  Cara Islam Mengapresiasi Hak Asasi Manusia

Teringat pula apa yang pernah ditulis oleh Quraish Shihab (1992), bahwa dengan kita telah beridul fitri, dalam arti kembali suci, akan selalu berbuat indah, benar, dan baik. Mengapa? Karena kesucian merupakan bagian gabungan dari tiga unsur tersebut (indah, benar, dan baik).

Lewat kesucian jiwanya, seseorang akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah, dan pada akhirnya, tulis Quraish Shihab, akan melahirkan seni; mencari yang baik menimbulkan etika; mencari yang benar menghasilkan ilmu.

Berdasar pada pandangan demikian, jika seseorang telah terbiasa dengan perilaku baik, maka akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalau pun terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif itu. Dan kalau pun tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf, bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Selamat berpuasa pasca-puasa.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *