Apik dan Mendidik

Puisi Jahiliyah dan Peranan Penyair dalam Kehidupan Kesukuan

Wilayah Arab atau yang dikenal dengan Jazirah Arab terletak di pusat benua antara Asia, Afrika dan Eropa. Dinamai jazirah sebab dikitari oleh tiga perairan dari sebelah utara, barat dan timur. Selain perairan yang terhampar luas, wilayah Arab juga mempunyai bentangan padang pasir yang gersang. Sehingga mafhum jika keduanya merupakan faktor sumber kekayaan Jazirah Arab.Tidak cukup hanya kekayaan materi dan sumber alamnya saja. Bagi bangsa Arab sendiri, kesusastraan dan kebudayaan menjadi puncak peradaban tertingginya.

Sebelum Islam datang, tipikal sosial masyarakat Jahiliyah terdiri dari sekelompok kabilah-kabilah. Al-Qabiliyah adalah pola kehidupan khas kesukuan dengan kesatuan sosial-politik yang mandiri. Mereka dipersatukan oleh hubungan keturunan paternalistik yang berafiliasi kepada satu nenek moyang.

Kedudukan Puisi Jahiliyah

Kedudukan puisi Jahiliyah dalam pola kehidupan kesukuan memegang peranan nilai yang fundamental. Puisi dianggap sebagai jimat. Tak ubahnya keris bagi orang Jawa, bagi mereka puisi juga dimaknai sebagai senjata bertuah yang mampu menangkal serangan-serangan dari luar suku mereka sendiri.

Sehingga menurut Ibn Qutaibah: “Puisi merupakan kekuatan yang dipakai oleh suatu suku untuk menancapkan eksistensinya, mendompleng kehormatannya dan  mempertahankannya.”

Para ahli puisi sepakat mengenai tema utama yang diangkat dalam sebuah puisi. Dan tema pokok puisi itu haruslah dibangun atas empat pondasi. Pertama, pujian yang tinggi. Kedua, ejekan yang merendahkan. Ketiga, perumpamaan yang tepat. Keempat, kebanggaan yang tinggi.

Membaca puisi jahiliy sama halnya mencermati kepribadian suatu suku, corak dan karakteristiknya. Sebagai  basis dasar, puisi diyakini mampu memandang sekaligus menilai sesuatu. Bahkan lebih jauh lagi, nilai-nilai luhur yang tidak direkam dalam qasidah-qasidah puisi akan bermutu rendah. Sebab, siapa saja yang tidak merekam peristiwa kesejarahan dalam satu bait saja, betapa pun ia dinilai mulia, bermuatan teladan, agung, dan terpuji segala usahanya akan cuma-cuma sekalipun ia terkenal dan akan segera lenyap disapu zaman sekalipun ia besar.

Sebaliknya, siapa saja yang yang mengabadikannya dengan puisi yang ber-qafiyah dan meraciknya dengan wazan-wazan serta analogis makna yang subtil maka hal itu akan melanggengkannya, diakui, bebas dari tipu daya dan terlepas dari sasaran kedengkian.

Kemudian pertanyaanya, mengapa hal demikian bisa terjadi?

Selain alasan keagungan puisi itu sendiri. Karena, melalui tradisi penceritaan lisan (gethok-tular) antar satu dengan yang lain nya puisi termasuk media pengajaran yang paling efektif dan edukatif. Dan kebanyakan dari mereka cenderung hanya mau menghafalkan hal-hal yang penting saja, membekas di hati dan melekat di pikiran mereka.

Peranan Seorang Penyair

Berbicara tentang puisi secara otomatis akan mengantarkan kita kepada pembuatnya. Dan konsekuensi ini berarti mengulik lebih jauh seputar produk kreativitas bahasa, reflektivitas berpikir, dan daya imajinasi seorang penyair. Akan tetapi, tulisan berikut tidak hendak menguraikan sisi-sisi dalam dari seorang penyair. Sebaliknya, lebih berkutat pada peranan nya dalam sistem masyarakat kesukuan.

Kelahiran penyair di suatu suku ibarat mukjizat yang selalu dinanti-nantikan. Kehadiranya menjadi haru bahagia tiada terkira. Terlepas dari itu semua, oleh sebab multi peranan seorang penyair, posisinya bisa dikatakan sepadan dengan kepala suku. Di satu momentum sebagai panglima peperangan antar suku. Kali lain, ia juga berfungsi membanggakan leluhurnya.

Dalam kitab  al-Umdah, Ibn Rasyiq mengatakan: “Kalau muncul seorang penyair di suatu kabilah, maka kabilah-kabilah yang lain akan datang memberi selamat. Pada saat itu dibuatlah makanan. Para perempuan berkumpul memainkan musik seperti yang dilakukan kaum lelaki di pesta perkawinan. Laki-laki dan anak berbaur karena sang penyair dipandang sebagi pelindung kehormatan mereka, membentengi jasad mereka, mengabadikan perbuatan-pebuatan baik mereka dan menjadikan mereka patut untuk diingat.”

Sehingga bagi bangsa Arab ritual mengadakan pesta hanya bersangkutan untuk kelahiran seorang bayi, kelahiran seekor kuda dan kelahiran seseorang penyair.

Di buku yang sama, disebutkan pula tentang bagaimana kabilah-kabilah berlindung di balik para penyairnya. Mereka menjadikan bait-bait puisi sang penyair sebagai tameng pertahanan dari berondongan celaan penyair di luar suku mereka. Dari sudut pandang ini akan dipahami substansi dari puisi Jahiliyah, peranan seorang penyair dengan pola kehidupan kesukuan.

Sejarah Ayam al-Arab (pertarungan di antara suku-suku Arab) sudah berlangsung di masa pra-Islam. Walaupun membincangkan tentang “pertempuran” dan “hari-hari”, bagian ini tentu bukan dalam artian perang besar antar pasukan suku, namun lebih mengarah pada pertengkaran di antara sekelompok suku kecil.

Sebagaimana duel perang di antara suku Qathan dengan suku Adnan, antara suku Rabi’ah dengan Tamim, antara suku Qais dan suku Kinanah dan boleh jadi antar suku Qays sendiri. Buntut perselisihan di antara mereka bisa jadi dipicu dari hal yang remeh temeh seperti perebutan binatang dan lain sebagainya. Sedangkan, perihal struktur narasi dari kedua penyair yang tengah bertarung biasanya mengikuti pola yang sama.

Pertama, mereka akan menceritakan ihwal bagaimana perselisihan terjadi, penggambaran realistis, kemudian dilanjutkan dengan anekdot-anekdot dan dialog yang dramatis.

Dan akhirnya, sebagian besar dari mereka (sang pemenang dalam adu puisi) akan melantunkan sebuah puisi “fakhr” atau panegrik (pujian terhadap seseorang)—di mana sang pemenang memuji pahlawan yang mati, mengejek musuh kalah yang dipukuli, dan membanggakan kemenangan mereka di masa lalu. Terkadang juga didapati sebuah puisi sebagai balasan dari pihak yang kalah kepada pihak yang menang, mengingatkan tentang kekalahan mereka sebelumnya.

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *