Puisi Nuriman N. Bayan

Loloda, 1

 

Di loloda yang ibu itu

di bisoa yang ayah itu

pagi, ombak, tanah liat, dan batu rijang

telah mengajari kami mengenal malam.

 

Di tanjung luga yang dehe itu

di dada kahatola yang teluk itu

kami telah belajar mengenal wajah musim

membaca arah angin yang menepi dari kota-kota.

 

Kami adalah sagu, kami adalah pisang

kami adalah pala, kami adalah kelapa

kami adalah cengkeh. Kami tumbuh

dari keringat yang ayah tanam di tanah lapang

Ibu menyimpannya di bawah bulan tanpa payung

lalu kami pergi mengembara ke banyak tempat

dan kami pulang sebagai penuntun yang menuntun diam-diam.

 

Morotai, 09 Oktober 2018.

Bisoa: tanjung

luga/dehe: tanjung

kahatola: tempat wisata

 

 

Tempat Pisah Paling Temu

 

Ke mana pun pengembaraan tertuju
lautan adalah tempat pisah paling temu

 

tuju memisahkan kita di pelabuhan
tuju mempertemukan kita di dermaga

karena laut kita berpisah

karena laut kita bertemu.

 

Lautan adalah ibu bagi pelayar
dan kita adalah anak-anak baginya.

 

Tobelo, 6 November 2018.

 

Pemburu Cahaya

 

Kita seperti

hewan-hewan kecil

di suatu mata lampu

ketika ada yang meletakkan

Baca juga :  Ayat Puisi

air di bawah perkumpulan kita

kita berjatuhan dan sebagian dari kita

mengembara mencari mata lampu yang lain

 

demi cahaya kita berpisah, sebab cahaya kita bersatu.

 

Ternate, 31 Oktober 2018.

 

Satu-Satu yang Tersisa

 

Saat geovani

diam-diam melepas

diri dari tubuh pelabuhan

aku pergi dan kamu menjadi penantian

di kepala orang-orang murung.

 

Aku telah menjadi sederetan ranjang yang penuh

kekhawatiran di antara tangis anak-anak dan mata

para ibu yang menyembunyikan laut, ombak, gamalama, dan puisi.

 

Aku akan menari bersama geovani

di antara tape yang amuk dan bisoa yang tanjung

dan di matamu rao dan pulau doi bagai ibu.

 

Aku akan bernyanyi bersama geovani

di antara kahatola dan laut ibu yang mendidih.

 

Aku pergi membawa segala cerita tentang kita

dan satu-satu yang tersisa di dadamu hanyalah rindu.

 

Morotai, 25 Oktober 2018.

 

Negeri di Atas Kertas

 

Di atas kertas

negeri itu melayang-layang

dari bentangan kenangan

menjadi bayang-bayang

 

dari timur angin membawa ke barat

dari barat angin membawa ke barat

dari barat angin membawa ke barat

 

ke barat ke barat ke barat

Baca juga :  Epilog Hujan; Pagi Para Pemimpi

 

kau lihat ke timur dadaku

ibu memasak tanah

tanah memasak ibu

 

kau lihat ke timur dadaku

api menyala di atas tanah

demi makan orang-orang di sana

 

kau lihat ke timur dadaku

orang-orang sibuk menangkapnya

tapi yang mereka tangkap hanya kertas.

 

negeri itu ke mana?

negeri itu ke mana?

negeri itu ke mana?

 

yang katanya Indonesia itu

dari sabang di aceh

hingga marauke di papua

 

ke mana negeri itu?

 

Adakah yang Membunuh?

Lalu bagaimana dengan

ibuku, ibumu, pertiwi?

 

Morotai, 26 September 2018.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *