Puisikah Alquran?

Kenapa Alquran menolak dirinya disebut “puisi” dan menolak nabi Muhammad Saw disebut “penyair”? Penolakan ini harus dicermati, dipahami, dan ditelaah secara seksama. Puisi merupakan “ontologi bangsa Arab” atau bisa dikatakan satu-satunya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Arab (Zaid, 2002, hal. 169).

Meskipun teks Alquran memiliki kemiripan dengan puisi dari segi esensinya sebagai komunikasi, namun dalam banyak hal ia berbeda dengan puisi. Menurut Nasr Hamid Abu-Zaid, perbedaan itu tampak jelas dalam proses dan hubungan komunikasi, siapapun yang terlibat.

Perbedaan antara Alquran dan puisi bukan hanya dalam proses komunikasi dan hubungan-hubungannya, tetapi juga dalam struktur teks itu sendiri. Alquran adalah teks yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori puisi maupun kategori prosa yang dikenal oleh bangsa Arab sebelum Islam, apakah itu teks pidato, sajak para peramal ataupun teks perumpaan.

Taha Husein mengatakan, Alquran bukanlah puisi dan bukan prosa, tetapi ia adalah Alquran. Maka pada perkembangannya umat Islam berusaha membedakan antara istilah-istilah yang menunjuk pada teks Alquran dengan istilah-istilah yang menunjuk pada puisi. Istilah Qafiyah pada puisi berubah menjadi Fashilah dalam Alquran, bait menjadi ayat, dan Qashidah menjadi surat.

Baca juga :  Benarkah di dalam Al-Qur’an Ada Lafal yang Bukan Bahasa Arab?

Lalu apa alasan Alquran menolak Nabi Muhammad Saw disebut sebagai penyair? Sebab fungsi penyair dalam masyarakat Arab berbeda dengan fungsi yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Penyair menjadi pelopor kabilah, sedangkan Nabi Muhammad Saw adalah penyampai risalah. Puisi merupakan teks yang menyuarakan kepentingan kelompok di dalam memuji  tokoh, pimpinan, kawan; dan menghujat musuh. Sementara Alquran bertujuan merekonstruksi realitas dan mentransformasikannya ke arah yang lebih baik.

Dari sinilah muncul penegasan bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah penyair, dan Alquran bukanlah puisi. Namun itu semua tidak bermaksud merendahkan puisi atas Alquran. Dengan kata lain, sikap Islam terhadap puisi bersifat ideologis yang harus dilepaskan dari konsep halal-haram.

Lantas apakah Islam dengan Alquran dan Muhammadnya, melarang syair/puisi dan penyair? Sudah pasti tidak. Yang dilarang kemudian adalah esensinya. Jika esensinya –syair/puisi dan penyair­– adalah kebencian, hasud, dan cenderung mengantarkan kedalam keburukan, maka yang dilarang adalah kebencian, hasud, dan keburukannya. Jika esensinya mengantarkan kepada kebaikan dan mendekatkan kepada Tuhan, maka puisi tak ubahnya adalah nasihat dalam berkehidupan.

Wallahu A’lam.

Artikel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *