Pupusnya Senja di Balik Fajar Kidzib [Cerpen]

“Dik, Mas sayang banget sama kamu. sungguh!” hapeku berdering, satu sms masuk, kubuka pesan dari seseorang yang tidak lain adalah tunanganku, Mas Fajar.

Pesan lebay itu membuatku tersipu malu ketika membacanya pagi itu. Biasanya, setelah salat Subuh dan ngaji aku segera bergegas membantu Emak di dapur, memasak, arakora  (mencuci piring dalam bahasa Madura).

Kemudian membawa pupuk kandang ke ladang yang Emak tanami jagung. Setelah makan, baru kupegang hape jadul merk Nokia 1280 itu. Kami bisa berkomunikasi jika liburan Pesantren telah tiba.

“Jangan terlalu sering teleponan, takutnya nanti dia bosan sama kamu atau sebaliknya kamu yang bosan sama dia. Kalian kan baru tunangan.” Emak menertawakanku, karena melihat kami sering telponan dan smsan.

Dalam sehari, kadang puluhan pesan masuk ke hapeku, jika dia tidak ada jam ngajar. Dan aku? Begitu menikmati setiap kalimat romantis yang dikirimnya.

“Tapi, kan aku nggak pernah ketemuan sama dia, memang salah kalau aku sering telponan sama smsan gitu” batinku membantah.

Bosan dalam sebuah hubungan bukankah itu lumrah terjadi. Namun, memang ada sebagian pasangan yang  mencari satu alasan untuk berlari dan sebagian yang lain mencari seribu alasan untuk tetap bertahan kokoh berdiri.

Seorang tetangga, sudah 25 tahun menikah, kulihat mereka sangat bahagia menikmati hidup yang sangat sederhana, hampir tiap hari makannya hanya nasi saja sama garam, kalaupun ada lauk paling tahu atau tempe, mereka biasa membeli ikan jika di pasar sedang sangat murah.

Apakah mereka bosan? Tentu, sesekali atau seringkali, namun mereka memilih untuk sama-sama bertahan, tetap berjuang bersama. Itu luar biasa. Tahu darimana? Dari rumput yang bergoyang. Haha.

“Iya, Mas. Aku juga sayang, kamu.” kubalas smsnya singkat.

Aku berharap dialah lelaki yang dikirimkan Tuhan untuk mengisi hari-hari sepiku di masa depan setelah anak-anak kami beranjak dewasa dan sudah menikah semua, tiap lima waktu aku berdoa, kusebut namanya mesra di hadapan Yang Maha Cinta, jika sedang semangat, aku akan menambahnya dengan tahajjud dan dhuha.

Sesekali aku tertawa dengan kenyataan pertunangan itu, karena kami dijodohkan. Kami sama-sama di Pesantren, tapi di lembaga yang berbeda. Sebelumnya, kedua orang tua kami merantau di Negeri Jiran, tepatnya di Malaysia. Emakku pernah bercerita, kalau mereka, orang tua kami sudah seperti saudara.

Karena itulah, berinisiatif menjodohkan kami. Lucu memang, karena aku langsung mengiyakan perjodohan itu ketika aku menerima telepon dari Emak di Wartel Pesantren. Dari belakang, teman-teman yang mengantri mulai menggerutu nggak sabar.

Mbak, jangan lama-lama, Mbak. Sudah sore. Mbak, cepetan dong, mau telepon Ibu, penting nih, mau minta uang buat beli kitab, atau kalau santri baru beda lagi, bolak-balik kiosphone nangis nelepon orang tuanya.

“Emak nggak maksa, Nik (panggilan buat anak perempuan di beberapa daerah di Madura, seperti Nak, Nduk, dll)  Itu terserah kamu, tapi Insya Allah dia sholeh, Ibunya sudah menelepon, dan sudah mengiyakan, nanti kalau sudah libur Pesantren katanya akan bertamu ke rumah.” Emak bercerita panjang lebar, aku tahu beliau berharap aku mengiyakan tawaran perjodohan tersebut.

“Aku tidak mau membuat Emak kecewa lagi, sedih lagi, pingsan lagi, seperti 3 tahun lalu karena ulah bodohku,” batinku sedih.

Ya, aku masih belum lupa kejadian itu, aku menolak lelaki yang sudah akan resmi jadi tunanganku. Di daerahku sudah biasa sebuah perjodohan, bahkan di umur yang masih sangat belia, juga tidak mengherankan, jika sebagian besar teman-temanku menikah di usia sekitar tiga belas tahunan.

Aku kabur dari rumah karena tidak mau melanjutkan pertunangan yang sudah disiapkan seminggu lagi, mendengar kabar aku sudah tidak di rumah, Emak menjerit-jerit setengah mati, tiba-tiba sudah hilang kesadaran.

Bapak berkata sudah sepuluh kali Emak pingsan karena aku belum kembali ke rumah juga. Dua hari kemudian aku pulang, karena berita kehilanganku sudah tersebar di mana-mana, bahkan di radio-radio Madura.

Mas Fajar? Kata Emak, dia juga sudah mengiyakan perjodohan kami, karena dia tidak mau menyakiti Ibunya yang beberapa bulan terahir sering sakit-sakitan, begitu pun bapaknya. Terpaksa? Tentunya, kami sama-sama terpaksa dengan perjodohan itu, kami tidak saling kenal.

“Dia tinggi, hidungnya mancung, wajahnya oval, badannya kekar,” Emak menyanjungnya. Harapannya untuk menjadikan ia menantu sudah sangat besar sepertinya.

Setelah kami sama-sama menerima perjodohan itu, aku meminta guruku untuk istikharah, hasilnya baik. Alhamdulillah, sudah ada niat baik dan serius, walaupun belum ada lamaran.

Aku sudah memasrahkan semuanya pada Tuhan. Bagiku, ketika dia sudah menerima perjodohan itu berarti dia memberi kesempatan untuk hatinya juga hatiku agar belajar menanam benih-benih cinta itu.

Kakek nenekku langgeng sampai ahir hayat pernikahannya, padahal mereka juga dijodohkan. Apa salahnya di zaman yang katanya sudah bukan zamannya Siti Nurbaya ini kami menjadi bagian dari sesuatu yang bisa menciptkan kisah indah hingga di Surga.

Baca juga :  Perempuan Bermata Hujan [Cerpen]

Waktu kian berlalu, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa kupahami. Aku takut kehilangan dia, benarkah itu tanda bahwa aku mencitainya.? Duh! Anakmu sedang jatuh cinta, Mak. Aku merayakan kebahagiaanku saat itu, sendirian, ya, sendirian di pinggir sungai belakang sekolah Pesantrenku.

Ketika libur Pesantren tiba, setiap saat kami selalu berbagi kabar. Kabar dia yang baru selesai mengajar, atau kabarku yang baru habis dari ladang mencari kayu bakar.

Merayakan Cinta

“Assalamualaikum, Mas. Sebentar lagi aku mau kursus di BEC Pamekasan. Sambung doanya, ya,” short massage telah terkirim.

“Waalaikumsalam. Sama siapa kesananya, Dik?” tanya Mas Fajar.

“Diantar sama Paman, Mas.”

“Oo. Yasudah kalau begitu. Belajar yang giat, ya. Semangat sayangku,” aku tak membalas pesannya. Sungguh! Aku tak pernah terbiasa dengan panggilan sayang. Maklum, anak polos. Haha.

“Sayang marah, ya? Yasudah, Mas nggak mau manggil sayang lagi. Hehee,” beberapa menit kemudian dia mengirim pesan.

“Dik. Mas mau ngajar dulu, ya. Nanti disambung lagi. Mas chayangg banget sama kamu,” geli aku membaca pesan tersebut. Walaupun sebenarnya hatiku meronta-ronta kegirangan.

Di lain waktu, kami pernah menghabiskan dua jam untuk sekedar mengobrol ngalur ngidul via telepon, kami tertawa, bahagia. Dengan gagah dia bercerita kalau pernah punya pacar di mana-mana, cantik-cantik, kaya-raya, baik hati, dan semuanya.

Anehnya. Aku tidak merasa cemburu. Bukankah cemburu itu salah satu tanda pasangan saling menyayangi. Aku sayang dia, tapi kenapa tidak cemburu saat mendengarnya bercerita tentang gadis-gadis yang pernah singgah dalam hidupnya? Entahlah, mungkin definisi cinta dan bodoh itu beda tipis.

Pertemuan kami hanya sekali, saat pertama dia menyambangi rumahku bersama Adiknya. Sisanya kami habiskan kebersamaan itu lewat obrolan telepon.

Liburan Pesantren di tempatku, dua kali dalam setahun. Bulan maulid liburnya lima belas hari, bulan puasa, santri diberikan waktu libur selama dua bulan.

Selama dua bulan ini santri dianjurkan untuk mengisi waktu liburnya dengan kegiatan-kegiatan positif, kalau tidak di rumah sebaiknya kursus bahasa Arab atau bahasa Inggris, atau bahasa-bahasa yang lain. Aku, memilih untuk mengisi liburku dengan kursus bahasa inggris waktu itu, sekitar tahun 2011.

Libur Telah Tiba

15 hari dari liburan Pesantren.

Kuingin selamanya. Ada disampingmu …

Teleponku berdering. Grup Band Ungu adalah salah satu penyanyi favoritku waktu itu. Kalau sudah ada Sabyan Gambus mungkin nada deringnya jadi Maulana Yaa Maulana.

“Assalamualaikum, Mas. Maaf lama angkat teleponnya, tadi masih sibuk bantu-bantu Emak di Dapur. Sekalian beres-beres perlengkapan buat kursus.”

“Waalaikusalam, iya, Dik, nggak apa-apa. Sekarang masih sibuk?”

“Sudah nggak. Mas lagi ngapain?” tanyaku

“Baru selesai ngajar Dik. Besok siapa yang nganterin ke tempat kursus?”

“Paman, Mas.”

“Boleh bawa telepon ngga di sana?”

“Katanya boleh, Mas.”

“Mas?”

“Iya.”

“Kuharap kamu selalu menyanyangiku.” tiba-tiba aku berbicara seperti itu setelah hening beberapa saat. Antara bingung dan malu, tapi sudah terlanjur.

“Insyaa Allah, Dik. Mas akan selalu menjaga hati ini untuk kamu. Kamu harus yakin, kalau kita memang akan berjodoh.” tenang aku mendengar jawabannya.

“Sudah dulu ya, Dik. Mas masih didhikani ( Dipanggil ) Kiai. Nanti kalau sudah sampai, kasih kabar ya?” aku tersenyum simpul. Hatiku berbunga-bunga.

BEC, adalah salah satu tempat kursus terbesar dan terkenal di sudut Pamekasan. Foundernya alumni BEC Pare. Sistem belajarnya juga tidak jauh berbeda dengan di Pare, kata teman-teman yang sudah pernah kursus di sana. Suasana di sana mebuatku sedikit kaget. Aku tidak pernah keluar terlalu jauh, berbicara dengan lawan jenis bagiku adalah hal yang sangat tabu semenjak nyantri. Tapi tak apa, selama aku bisa menjaga diri, batinku.

“Mas. Aku sudah sampai BEC. Doanya ya.” kukirim pesan

“Oke. Hati-hati disana ya. Jaga diri baik-baik. Konsentrasi dengan pelajaranmu. Mas akan selalu rindu dan sayang sama kamu, Lidia.” tersipu aku dibuatnya.

“Gimana, Lia? Bagus kan di sini.” aku mendekati sepupuku, membuyarkan lamunannya.

“Tidak baik melamun sendirian. Di bawah pohon segede ini lagi. Kesurupan nanti.” tambahku.

“Ah! Nggak juga si. Gimana? Udah dikabarin belum itu belahan jiwa?” Lia mengalihkan pembicaraan.

“Sudah dong. Hehe.” jawabku sambil gelendotan di punggungnya.

“Duh! Lidia. Kamu makin aneh deh. Mungkin kaya gitu kali ya model orang yang sedang dilanda asmara.” Lia terbahak-bahak. Aku menjewernya.

29 hari berlalu, aku membawa pulang setifikat dengan predikat B. Banyak teman, banyak pengalaman, dan dapat ilmu tentunya. Komunikasiku dengan Mas Fajar tak seperti biasa, seminggu sekali kami saling memberi kabar, karena aku fokus dengan kursusku.

Baca juga :  Tentang Duka [Cerpen]

“Dik, kamu apa kabar sekarang?” tanyanya di ujung telepon

“Alhamdulillah baik, Mas. Mas sehat?”

Alhamdulillah, sehat.”

“Eh, kemarin yang jemput lagi ke situ, Paman juga, ya?”

“Iya, Mas.”

“Maaf, Mas nggak bisa jemput kamu. Tiba-tiba ada keperluan mendadak mau nganter Kiai ta’ziyah, Dik.” Mas Fajar menerangkan

“Mas boleh cerita? Lagi sibuk nggak?”

“Baru selesai nyapu, Mas. Ini istrahat dulu sebentar, nanti mau bantu Emak bikin kue.Mau cerita apa?” kudengar suaranya sangat serius ingin menceritakan sesuatu.

“Kemarin ada perempuan misterius ngasih kado yang isinya buku. Di belakang sampulnya tertulis nama Zara. Ketika Mas tanya teman yang ngasih buku itu, disuruh jangan kasih tahu. Mas nggak ngerti apa maksudnya.” dia bercerita dengan antusias.

Aku tertegun sejenak, karena tiba-tiba teringat teman Pesantrenku, yang satu organisasi dan kebetulan juga orang sekitar rumah Mas Fajar. Pikiranku mulai ke mana-mana, tapi berusaha tetap tenang dan berbaiksangka.

“Ya sudah nggak apa-apa. Mungkin itu fans misteriusmu. Hehe,” padahal hatiku sedikit tercabik mendengar cerita itu.

Setelah hari itu, aku merasakan banyak hal berubah dari Mas Fajar. Dia, yang biasanya pagi-pagi smsnya sudah memenuhi beranda hape mungilku, sudah tidak ada lagi. Aku merasa, aku yang selalu mengejar-ngejarnya, menanyakan kabarnya, dia ke mana? Seringkali, ketika aku menelepon, yang menerima temannya.

Pupus

Tidak ada yang bisa mengendalikan hati ketika jenuh mulai menyapa, atau sekedar memberitahu sebentar saja. Tenanglah! Jangan takut, perasaan itu hanya sesaat, ketika ada yang terluka kamu akan kecewa.

Mas Fajar mulai berubah, aku tidak mengerti, apakah ini hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang tidak kuketahui darinya. Atau mungkin karena kesibukannya sebagai pengurus Pesantren. Untuk hal ini aku bisa memaklumi.

Tapi, bukankah sesuatu memang patut dicurigai ketika sudah tak seperti yang biasa terjadi. Hingga menjelang 8 hari setelah aku pulang dari BEC dia mengirim sms yang membuatku bertanya-tanya dan bingung.

“Dik, Mas minta maaf,” seharusnya dia basa-basi menanyakan kabarku, seperti biasa yang dia lakukan jika sehari saja tak ada komunikasi.

Dan sudah 4 hari kami tak saling sapa, baik sms atau menelepon, Ah. Mungkin saja dia minta maaf karena lama tidak mengabariku.

“Minta maaf untuk apa, Mas?” tanyaku. Aku heran dan penasaran.

“Karena aku tidak pantas buat kamu, Dik,” jleb. kalau sudah ada kalimat begini  harus hati-hati.

Karena menurut cerita dari beberapa temanku yang pakar masalah percintaan. Salah satu cara untuk meninggalkan pasangan agar tidak terlalu sakit itu harus dengan cara halus, misalanya dengan kalimat seperti “kamu terlalu baik buat aku, aku tidak pantas buat kamu, aku mau fokus ngejar karirku, dan lain-lain”.

Aku tertawa saja saat mendengar teman asramaku bercerita telah memutuskan beberapa lelaki hanya karena sudah menemukan yang lebih tampan, bukan lebih baik. Dan sekarang aku mengalaminya sendiri. Oh. Mungkin saja ini beda.

“Mas, aku tahu tidak sempurna untukmu seperti gadis-gadis yang tempo hari sering kamu ceritakan, atau beberapa gadis yang pernah singgah dan jadi kekasihmu dulu,” aku membalas smsnya

“Tidak, Dik. Bukan begitu maksudnya.”

“Lalu, kenapa tiba-tiba kamu minta maaf? Tidak seperti biasanya, bukannya menanyakan kabar dulu,” segera kubalas pesannya.

“Dik, jangan tidur dulu ya, nanti, Mas jelasin. Nanti, Mas telepon.” 

Aku menunggu teleponku bordering, satu jam, dua jam belum ada suara.

“Sudah, sudah, kamu akan berpisah dengannya,” aku mulai membatin lemah tak karuan.

“Tidur, Nik. Sudah malam.” Emak memanggil. Jam sudah menunjukkan pukul 11.35, teleponku belum juga berdering. Aku memberitahu Emak kalau Mas Fajar mau menelepon, ada perlu. Emak beranjak tidur duluan.

“Mas?” kukirim pesan

“Maaf, Dik. Mas sedang sibuk. Besok saja, ya.” aku sangat kecewa membaca balasannya. Jangan berpikir aku bisa tidur semalam itu. Sampai pagi aku masih sesenggukan kecil agar Emak tak mendengarnya. Segala hal kupikirkan. Sakit.

“Assalamu’alaikum, Dik.” sekitar jam 05:25 Mas Fajar menelepon.

“Waalaikumsalam.”

“Dik, Mas minta maaf…,” dia tercekat, aku menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Mas, nggak mau mengganggu belajarmu, Mas, nggak pantes buat kamu, kamu terlalu baik buat, Mas,” rentetan kalimat itu persis seperti yang pernah diucapkan temanku.

Ah! Sial. Bilang saja dia mau mutusin aku. Bedanya adalah, dia sudah mahir merangkai kata dan berpengalaman dalam asmara, dan aku? Hanya penikmat cerita teman-teman yang dengan mudah dan gampang memainkan perasaan pasangannya ketika sudah bosan.

Mungkin saja mereka memiliki kamus khusus atau sebuah perkumpulan yang membahas tentang masalah percintaan mulai dari cara membuat orang jatuh cinta dan sakit hati agar tidak terlau kecewa. Sempurna!

Baca juga :  Kepulangan [Cerpen]

“Dik?”

“Iya lanjutkan, Mas.”

“Sebaiknya kita berteman saja, Dik.” ah! Bilang saja “Mulai sekarang kita putus.” atau “Kita sudahi saja pertunangan ini.”

Aku merasakan ada luka meganga yang sedang ditaburi garam.. Perih! Mulutku terkatup, ingin rasanya memakinya, mengomel dan mengumpatnya, tapi sungguh seperti ada yang menahan mulutku untuk berrbicara.

Aku membisu seperti patung, tanpa napas dan harapan. Emak lewat di depanku, aku urung mengeluarkan air mata. Kutahan sekuat-kuatnya. Ah! Berlinang juga. Untungnya Emak sudah di Dapur.

“Kenapa, Mas? Adakah aku punya salah? Kenapa mendadak seperti ini? Aku harus bilang apa sama Emak? Lebih baik, Mas bilang sendiri sama, Emak, ya?” suaraku serak.

“Aku tidak mau mengganggu konsentrasi belajarmu, Dik. Itu saja.” kalimat ini lagi yang keluar dari mulutnya. Memangnya tidak ada alasan yang lebih realistis apa. Tiba-tiba aku teringat Zara, perempuan misterius yang mengiriminya buku waktu itu. Ah!

“Gara-gara perempuan misterius yang pernah ngasih buku itu, Mas?” Nadaku suaraku sedikit tinggi.

“Iya, Dik. Eh, bukan. Maaf, Dik. Bukan begitu maksud, Mas. Bukan. Bukan karena perempuan itu …,” sudah jelas apa maksudnya “klik” kumatikan telepon.

Aku tak mau lagi mendengar basa-basinya yang sebentar lagi akan membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku lari ke belakang rumah yang berdekatan dengan kandang sapi dan kambing, menangis sejadi-jadinya.

Lebih baik tangisanku dinikmati hewan piaran Emak, daripada harus orang-orang yang mendengarnya, lalu aku jadi bahan pergunjingan karena lagi-lagi batal tunangan.

Sial lagi! Aku uring-uringan tidak mau makan, “Kalau lagi kasmaran biasa kaya begitu, sebentar marah sebentar sayang.” Emak meledekku, aku mendengarkan saja dengan senyum kecut.

Aku masih bingung mau memulai bicara dari mana sama, Emak. Dua hari kemudian kuberanikan diri memberitahu, saat Emak sedang santai di langgar.

Mak.” Aku gugup

Iya. Apa? Mau minta uang buat balik Pesantren? Sudah Emak siapkan di lemari bajumu,” tambah bingung mau ngomongnya. Ah!

Bukan, Mak. Lidia mau bilang kalau, Mas Fajar tidak mau melanjutkan perjodohan kami.” Aku menunduk, bicara gemetaran.

Sekilas kulihat wajah Emak tiba-tiba memerah, beliau menahan amarah yang sangat dalam. Sungguh aku tak pernah melihat wajahnya seperti ini sebelumnya, aku tetap menunduk menunggu jawaban.

Dua hari yang lalu dia menelepon dan bilang kalau tidak mau melanjutkan pertunangan kami.” aku menambahkan, karena, Emak belum juga merespon.

“Kenapa, Nik? Bukankah dia ustadz? Kok ngga ada sopan santunnya? Kenapa nggak bilang dulu sama, Emak?” Emak murka dan langsung menelepon orang tuanya yang sedang di Malaysia.

Semua kaget, karena orang tua Mas Fajar juga nggak tahu keputusan yang dia ambil sepihak. Emak ngelus dada terus beristighfar. Mudah-mudahan aku tidak salah memberitahu kabar buruk ini.

Ya sudah, kamu masuk kamar dulu sana.” Emak masih murka. Aku sempoyongan masuk kamar, menangis lagi sejadi-jadinya sambil gigitin bantal. Kuambil telepon, lalu mengirim sms untuk terahir kalinya untuk Mas Fajar.

Mas. Terima kasih telah memberi secercah harapan dalam hidupku. Walau ahirnya akan pupus. Mungkin menurutmu ini yang terbaik. Mas, kamu adalah lelaki yang sangat luar biasa, bisa berbuat sesuatu semaunya. Jika selama aku mengenalmu, aku banyak salah, maafkan aku. Terima kasih. Selamat tinggal, Mas.” Kuhapus nomornya.

Beberapa menit kemudian, teleponku bordering, nomor baru memanggil, dan itu Mas Fajar, karena bodohnya aku hapal nomornya. Aku tak menjawabnya, kubiarkan teleponku tergeletak dan kutinggalkan pergi ke kandang untuk memberi makan sapi dan kambing. Aku tak mau berlarut-larut dalam sakit, akan kusimpan rapat-rapat kenangan yang belum tersebar luas ini.

Selesai membersihkan rumah, kuambil telepon untuk menghubungi Lia, ternyata ada pesan masuk.

“Dik. Aku minta maaf. Sungguh minta maaf, semua ini tidak ada hubungannya dengan perempuan misterius itu. Semua ini kulakukan demi kamu, Mas tidak mau mebuatmu tidak konsen dengan pelajaranmu.” Sudah basi, Mas. Aku menggerutu. Kuhapus semua pesannya.

Fajar indah pernah memaku di depan mata

Menjadi sahabat saat sepi melanda jiwa

Setinggi angkasa asa menjulang ingin bersama

Ada satu sendi retak menyisakan luka

Lalu pergi membawa kabar menyesakkan dada

Dialah fajarku

Fajar Kidzib

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *