Qunut sebagai Doa Penenang

Qunut memiliki sejarah panjang. Diawali dari peristiwa yang melatarbelakangi sahabat Nabi ketika hendak berhijrah ke Madinah menyusul Nabi. Mereka dihalang-halangi sebagaimana Hudzaifah yang akhirnya diijinkan asal seluruh hartanya ditinggal.

Ada juga juga kisah keluarga Ummu Salamah yang dibolehkan meninggalkan Makkah tetapi anaknya yang bernama Salamah yang masih kanak-kanak ditahan oleh orang Quraisy.

Pokoknya sedih kondisi sahabat waktu itu, sehingga kabar itu tersiar sampai kepada Rasulullah. Beliau hanya bisa pasrah tak bisa memberi bantuan kepada sahabat yang diperlakukan semena-mena di Makkah. Beliau hanya bisa berdoa untuk yang terbaik dengan cara membaca qunut di setiap waktu shalat.

Qunut juga dilakukan oleh para sahabat lainnya sebagai ungkapan bela sungkawa kepada kaum muslimin seperjuangannya. Mereka dalam doa qunutnya lebih banyak mengutuk orang-orang kafir. Sampai akhirnya Rasulullah Saw mengajarkan jangan hanya berdoa untuk mengutuk tetapi yang lebih utama adalah doa pasrah dan memohon keselamatan bagi ummat Islam yang teraniaya.

Adapun bacaan qunut yang biasa dibaca oleh umat Islam sekarang sudah mengalami banyak pelenturan yang diajarkan langsung oleh Rasulullah. Tepatnya sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada cucunya yang bernama Hasan b. Ali b. Abu Thalib. Dalam teks qunut ini sudah tidak ada lagi kalimat mengutuk dan melaknat.

Bacaan qunut ini sudah dilakukan oleh para sahabat baik untuk qunut Nazilah maupun qunut witir dan qunut subuh. Makanya tidak ada perbedaan bacaan qunut dalam riwayat yang mu’tabar.

Qunut Witir Ramadan

Sebagai bacaan sesudah ruku terakhir shalat witir, qunut semula dibaca kapan saja. Di luar Ramadan, awal Ramadan dan juga pertengahan Ramadan. Orang yang pertama kali mempraktikkan bacaan qunut witir di pertengahan Ramadhan adalah Umar b. Khattab.

Semula beliau melihat kurang sedap dipandang mata para shahabat shalat tarawih dan witir dilakukan sendiri-sendiri di dalam satu masjid. Beliau kemudian menginisiasi tarawih dan witir berjamaah. Selaku amirul mukminin yang juga bertugas menjadi imam shalat, Umar b. Khattab juga yang memulai membaca qunut berjamaah. Imam yang baca doa secara lantang dan makmum yang mengamini.

Sejak itulah qunut witir dibiasakan dipimpin oleh imam shalat secara lantang yang diawali pada pertengahan Ramadan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *