Raja’ al-Sani’, Merobek Tabu Budaya Patriarki

Karya sastra tak ubahnya anak kandung yang lahir dari rahim ruang dan waktu. Ia selalu berkelindan dengan lingkungan dimana ia dilahirkan; menjadi simbol bahasa untuk mengungkap realitas sosial dan pengalaman yang dialami oleh pengarang atau masyarakat.

Novel, misalnya, dapat dianggap sebagai struktur dan proses budaya. Di dalamnya disuguhkan suatu pandangan dunia melalui narasi peristiwa, dan semesta tokoh yang memerankannya, melalui medium bahasa. Melalui substitusi naratifnya, sastra memindahkan pola-pola perilaku kedalam unit-unit wacana, semesta tokoh dan kejadian.

Penulis tidak akan mengulas perihal teori sastra yang berat-berat, hanya saja di sini akan membincang perihal perjuangan perempuan dalam novel Banat al-Riyadh, atau dalam versi inggrisnya Girls of Riyadh. Novel ini ditulis oleh Raja’ Abdallah al-Sani’. Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2005 ini ditulis di tengah ruang sosial masyarakat yang tidak memberikan ruang kebebasan bagi hak-hak kaum perempuan, dan menjadikan negara Arab Saudi sebagai setting penulisannya.

Raja’ al-Sani’ lahir tahun 1981, ia dibesarkan di Riyadh, Arab Saudi, putri dari keluarga dokter. Raja’ al-Sani’ menerima gelar sarjana kedokteran gigi dari King Saud University pada 2005. Kesadaran gender yang kuat membuat Raja’ al-Sani’ mampu mempertanyakan semua konstruksi patriarki yang ia temukan di negaranya, yang kemudian ia tuangkan dalam novel Banat al-Riyadh.

Keterkungkungan dan keterpasungan perempuan Arab bukanlah hal yang diada-adakan, tetapi merupakan fakta yang memang nyata dan harus dibongkar. Dalam cengkeraman budaya patriarki tersebut, seorang perempuan tak lebih dari sekadar makhluk yang teramat sempurna kelemahannya. Hal ini nampak jelas ketika Raja’ al-Sani’ menyitir kalimat dalam puisi Nizar Qabbani berikut.

Baca juga :  Telaah Citra Perempuan dalam Budaya Jawa

” َثقَافَتُنَا فَقَاِقيْعُ مِنَ الصَّابُوْنِ والوَحْلِ، فَمَازَالَتْ بِدَاخِلِناَ رَوَاسِبُ مِنْ أَبِي جَهْلٍ، وَمَازِلْنَا نَعِيْشُ بِمَنْطِقِ الِمفْتَاحِ والقُفْلِ، نَلُفُّ نِسَاءَنَا بِالْقُطْنِ، نَدْفُنُهُنَّ فِي الرَّمَلِ، وَنُهْلِكُهُنَّ كَالسَّجَّادِ كَالْأَبْقَارِ في الحَقْلِ، وَنَرْجِعُ أَخِرَ اللَّيْلِ، نُمَارِسُ حَقَّنَا الزَّوْجِيَّ كَالثِّيْرَانِ وَالْخَيْلِ، نُمَارِسُهُ خِلاَلَ دَقَائِقَ خَمْسٍ بِلَا شَوْقٍ وَلَاذَوْقٍ وَلَامَيْلٍ، نُمَارِسُهُ  كآلَاتٍ تُؤَدِّي الفِعْلَ لِلْفِعْلِ، وَنَرْقُدُ بَعْدَهَا مَوْتَى، وَنَتْرُكُهُنَّ وَسَطَ النَّارِ، وَسَطَ الطِّيْنِ والوَحَلِ، قَتِيْلَاتٍ بِلَا قَتْلٍ، بِنِصْفِ الدَّرْبِ نَتْرُكُهُنَّ، يَا لَفَظَاظَةَ الخَيْلِ! “

“Budaya kami bagaikan busa sabun dan gelembung lumpur. Dalam diri kami masih ada sisa-sisa dari Abu Jahal. Kami masih hidup dengan logika kunci dan gembok. Kami tutupi istri-istri kami dengan baju. Kami kubur mereka dalam pasir. Kami hancurkan mereka bagaikan karpet, bagaikan sapi-sapi di ladang yang kami datangi di ujung malam.

Kami jalankan hak kami sebagai suami bagaikan lembu dan kuda. Kami jalankan itu selama lima menit tanpa ada perasaan rindu, nikmat dan keinginan. Kami lakukan itu seperti mesin-mesin yang menjalankan tugasnya. Setelah itu kami tidur lelap seperti orang mati. Kami biarkan mereka di tengah-tengah api, di kubangan lumpur dan terkapar mati tanpa dibunuh. Di tengah jalan kami biarkan mereka, wahai kuda liar! (Sani’, 2005)

Puisi Nizar Qabbani yang dikutip oleh Raja’ al-Sani’ menggambarkan realitas budaya Arab Saudi yang sesungguhnya, yang sedang berlangsung di tengah masyarakat Arab. Perempuan selalu dipandang sangat rendah. Perempuan bagaikan mesin yang siap diperintah.

Mereka diperlakukan di hadapan suaminya seperti logika kunci dan gembok, yakni boleh dan tidak boleh melakukan sesuatu atas dasar izin suami. Jalinan perkawinan tidak dibangun atas cinta dan kerinduan, tetapi bagaikan seekor lembu yang harus tunduk pada perintah tuannya, dan seperti kuda tunggangan yang dikendalikan penuh dalam kontrol penunggangnya.

Baca juga :  Husein Muhammad: Kiai Romantis Pembela Kaum Perempuan (Bag. I)

Kalimat orisinal Raja’ al-Sani’ –bukan kalimat kutipan, yang begitu merobek-robek tabu budaya patriarki begitu nyata tergambar ketika ia menarasikan tentang kehidupan empat gadis sekawan, yaitu Sadeem, Lumais, Qamrah, dan Michelle. Sekawanan gadis ini sedang mencari cinta namun terhalang oleh kokohnya tembok tradisi masyarakat Arab yang patriarki.

Tradisi dan budaya patriarki tersebut dikonstruksi untuk dilanggengkan secara terus menerus sepanjang sejarah, sehingga budaya tersebut harus dihormati dan disakralkan.

Berikut ini kutipan yang disampaikan pengarang, Raja’ al-Sani’.

” سَأَكْتُبُ عَنْ صَدِيْقَاتِي فَقِصَّةُ كُلِّ وَاحِدَةٍ أَرَى فِيْهَا، أَرَى ذَاتِي وَمَأْساةً كَمَأْسَاتِي سَأَكْتُبُ عَنْ صَدِيْقَاتِي عَنِ السِّجْنِ اَلَّذِي يَمْتَصُّ أَعْمارَ السِّجِّيْنَاتِ، عَنِ الزَّمَنِ اَلَّذِي أكلتْهُ أَعْمِدَةُ الْمَجَلاتِ، عَنِ الأَبْوَابِ التي لَا تُفْتَحُ عَنِ الرَّغَبَاتِ وهي بِمَهْدِهَا تُذْبَحُ، عَنِ الزَّنْزَانَةِ الكُبْرى وَعَنْ جُدْرَاِنَها السُّوْدِ وَعَنْ آلافٍ .. آلافٍ الشَّهِيْدَاتِ دُفِنَ بِغَيْرِ أَسْمَاءٍ بِمَقْبَرَةِ التَّقَالِيْدِ، صَدِيْقَاتِي دُمىً مَلْفُوْفَةٌ بِالْقُطْنِ، دَاخِلَ مَتْحَفٍ مُغْلَقٍ، نُقُوْدٌ صَكَّهَا التَّارِيْخُ، لَا تُهْدَى وَلَا تُنْفَقْ، مَجَامِيْعُ مِنَ الأَسْمَاكِ فِي أَخْوَاضِهَا تُخْنِقْ، وَأَوْعِيَةٌ مِنَ الْبَلْوَرِ، مَاتَ فِرَاشُهَا اَلْأَزْرَقُ، بِلَا خَوْفٍ سَأَكْتُبُ عَنْ صَدِيْقَاتِي عَنِ الْأَغْلَالِ دَامِيَةً بِأَقْدَامِ “

“Akan kutulis tentang sahabat perempuanku. Sebab cerita, dan tragedi tentang mereka yang kuperhatikan, dan kulihat, sudah kuanggap menjadi tragediku. Akan kutulis tentang sahabat perempuanku perihal penjara yang menghisap umur perempuan-perempuan, tentang zaman yang ditelan kolom-kolom media, tentang sel-sel penjara, tentang tembok-tembok yang berwarna hitam. Akan kutulis tentang ribuan.. ribuan wanita martir yang dikubur tanpa nama.

Sahabat perempuanku bagaikan boneka yang diselimuti kain, dalam peti yang tertutup, bagaikan mata uang kuno yang yang tidak dapat diberikan dan dibelanjakan, bagaikankumpulan ikan-ikan yang terperangkap dalam aquarium, dalam wadah kristal yang warna birunya telah pudar. Tanpa takut akan kutulis tentang sahabat perempuanku, tentang belenggu yang membuat darah mengalir di kaki para wanita cantik. (Sani’, 2005)”  

Apa yang Raja’ al-Sani’ sampaikan di atas merupakan kesadaran akan ketimpangan pola relasi gender yang ia rasakan dan juga dirasakan oleh para tokoh yang menjadi korban ketidakadilan gender dalam budaya patriarki. Kutipan di atas mengandung gugatan dan perlawanan.

Baca juga :  Faqih Abdul Kodir dan Qiraah Mubadalah: Mencari Tafsir Keadilan (Bag. II)

Konsep “penjara”, “tembok-tembok”, “peti terkubur” muncul sebagai simbolisasi kritik dan perlawanan naratif. Sementara narasi “Akan kutulis tentang sahabat perempuanku” yang diulang-ulang merupakan simbol gugatan yang mempersoalkan ulang budaya patriarki.

Sudah hampir dua dasawarsa novel karya Raja’ al-Sani’ ini beredar. Apa kabar perempuan Riyadh?, Apa kabar perempuan Arab Saudi?, Kuharap akan lahir Raja’ al-Sani’ yang lain agar kau tak terkungkung tabu budaya patriarki.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *