Rangsangan Informasi Dalam Sajak- Sajak Agusri Junaidi

Banyak unsur ekstrinsik yang bisa kita dapat dari kumpulan puisi berjudul Wajah Musim karya Agusri Junaidi. Di antara itu ialah dampak psikologis dari informasi yang ia abadikan untuk khalayak ramai. Tapi,  apakah data-data itu penting bagi peradaban? Tentu saja setiap sejarah memiliki pesan bagi setiap pembaca.

beberapa judul puisi Agusri Junaidi mengalami Gejala Kognitif dalam karyanya, ini terlihat pada penggalan puisinya yang berjudul Pulau Bintan.

Pada hikayat mana sejarah ditambatkan?

Di Laut Natuna aku ditekuk angan

Tergoda aku rentak melayu

Di Pantai Dugong selendangku ditarik,

Ikut berlenggok

Laut cerah menyala

Makyong jadi cerita

yang tak kumengerti

Batas-batasnya

Pulau Bintan begitu ramah

Di jamunya aku kopi sekanak

Daging pelanduk para raja

Juga durian macam rupa

 

Agusri Junaidi adalah penyair yang pandai mengamati gejala sosial maupun alam yang nyata bagi inderanya. Ia pun tak hanya menganalisa, tapi menikmati tiap-tiap peristiwa puitis. Penyair asal Lampung ini berhasil menemukan objek estetis. Sebagai perangkai kata-kata, maka ia pun merasa wajib untuk menuliskan pengalamannya pada bait-bait puisi.

Pandangan Agusri luas. Ia berhasil memadukan selektivitas dan skema antisipasi dalam hal menganalisa objek yang akan dijadikan puisi. Pada bait pertama puisi yang berjudul Pulau Bintan ini—penyair tersebut telah merangsang perhatiannya pada angin dan deru pantai. Lalu selektivitas bermetamorfosa, maka muncul skema antisipasi perhatiannya.  Gus jun menuju kebudayaan yang tersirat dan sarat makna. Kesadarannya berpusat pada tradisi Makyong hingga ia mengajak pembaca untuk mencari tahu seni dan budaya khas melayu tersebut.

Lalu kesimpulan perasaannya pun terungkap bahwa tempat yang ia kunjungi memiliki keindahan dan kenyamanan. Ungkapan ini bukanlah tanpa alasan karena sebagai pengarang ia benar-benar menggunakan inderanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang terkandung pada perjamuannya waktu itu. Seperti yang ia katakan pada bait ketiga sekaligus penutup puisi berjudul Pulau Bintan di atas.

Artikel Terkait:

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *