Ratu Ilah Nur, Pahlawan Muslimah Pasai

Ratu Ilah Nur

Membaca buku seorang kolumnis, editor majalah bernama Muhammad Vandestra yang diterbitkan pada tahun 2018, berjudul “Pahlawan Wanita Muslimah dari Kerajaan Aceh yang Melegenda”, menandakan ada beberapa nama pahlawan wanita yang tidak dipelajari di buku-buku pendidikan sejarah.

Jika kita berbicara tentang Aceh, maka begitu segar ingatan kita beberapa pahlawan perempuan yang berasal dari Aceh. Seperti misalnya: Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Laksamana Malahayati. Ini karena masa perjuangannya pada masa perang menuju kemerdekaan bangsa.

Menelisik masa yang diawali pada masa Kerajaan Pasai di Aceh, sejarah perjuangan muslim juga terjadi di mana-mana. Sekitar abad ke-14 ada beberapa peninggalan yang menjadi situs atau keberadaan agama Islam di Aceh. Salah satu yang ditemukan adalah batu nisan yang bertuliskan huruf Arab dan Jawa Kuno. Pada nisan itu tertulis Ratu Ilah Nur, yang meninggal pada tahun 1365.

Siapa Ilah Nur?

Ratu Ilah Nur adalah seorang ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan ini didapatkan dari Kitab Negara Kertagama, yang ditulis Mpu Prapanca.

Pada saat itu, peran kaum perempuan kalah dibanding kaum laki-laki, tetapi disebutkan bahwa Samudera Pasai merupakan daerah yang ditaklukkan Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada. Buku Hikayat Raja-Raja Pasai juga menyebutkan tentang kekuasaan Majapahit terhadap Pasai.

Baca juga :  Ummu Salamah, Perempuan Periwayat Hadis Terbanyak Setelah Sayyidah Aisyah

Setelah pengaturan kedudukan di Pasai, laskar Majapahit kembali ke Jawa. Namun sebelum kembali ke pulau Jawa, para pembesar Majapahit mengangkat seorang raja, yakni Ratu Ilah Nur. Raja ini adalah keturunan Sultan Malikuzzair.

Tidak banyak riwayat sejarah yang menceritakan masa Ratu Ilah Nur saat memimpin Kerajaan Pasai di bawah kendali Majapahit. Tetapi Ratu Ilah telah membentuk laskar wanita Inong Bale, yang identik dengan para janda syuhada.

Laskar ini kemudian berkembang hingga di hutan dan gunung-gunung yang jumlahnya mencapai ribuan. Rata-rata mereka berjuang dengan tuntutan persamaan hak dan kewajiban dalam berperang melawan penjajah (Belanda). Ini yang kemudian mencetuskan bahwa jika mati di medan perang, akan menjadi mati syahid dan bergelar syuhada.

Prinsip-prinsip keagamaan islam selalu menjadi dasar perjuangan Kerajaan Pasai, terutama pada masa Ratu Ilah Nur. Dan ini kemudian diteruskan oleh beberapa pahlawan perempuan Aceh seperti Laksamana Kumalahayati, Cut Nyak Dien (Tjoet Njak Dien), serta penerus-penerus lainnya.

Sebetulnya ada beberapa nama perempuan Aceh, yang juga berperan dalam syiar islam pada masa perang, akan tetapi lebih banyak berperan membantu Ratu Ilah Nur dalam menegakkan syariat-syariat islam dengan ketat. Dan sebagian menjadi uleebalang (penguasa lokal).

Tetapi keberanian dalam pertempuran lebih didominasi oleh Laksamana Malahayati, hingga disejajarkan dengan Semiramis, permaisuri Raja Babilonia dan Katherina II Kaisar Rusia.

Kekuasaan Ratu Ilah Nur tidak hanya memimpin dan memerintah Pasai, tetapi juga kekuasaannya hingga Kedah Malaysia. Kedah terletak di seberang Selat Malaka, di pantai barat semenanjung tanah melayu. Ini menunjukkan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang begitu luas, tetapi sekaligus tanda-tanda keruntuhan Majapahit dengan berkembangnya ajaran Islam, yang disebarkan oleh beberapa raja, termasuk Ratu Ilah Nur.

Baca juga :  Kisah Para Sahabat Perempuan yang Meminta Turunnya Ayat Emansipasi

Dalam beberapa naskah, nama Pasai juga disebutkan dalam naskah Jawa, Tapel Adam yang menceritakan tentang para pendakwah Islam pertama dari Pasai, yang berasal dari Majapahit. Pendakwah ini di antaranya Syaikh Jumadil Kubra keturunan Zainul Abidin. Islamisasi oleh pendakwah dari Pasai juga diceritakan dalam Hikayat Banjar.

Kematian Ratu Ilah Nur

Di beberapa catatan yang diterjemahkan dalam beberapa versi penelitian, dituliskan di Desa Minye Tujoh, Matangkuli, Aceh Utara, Ratu Ilah Nur meninggal pada tahun 1380.

Sementara dalam penelitian Stutterheim dalam sebuah inkripsi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia disebutkan Ratu Ilah Nur meninggal pada tahun 781 Hijriah atau tahun 1365 Masehi.

Dalam inkripsi batu nisan, diterjemahkan sebagai berikut:

“Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu, bulan zulhijjah, 14, hari Jum’at, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa (di Gujarat), mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan di darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam surge Tuhan”.

Dengan demikian, bahwa pemerintahan Pasai telah dipimpin oleh raja-raja Islam, di antaranya Ratu Ilah Nur. Perjuangan Ratu Ilah, tidak hanya sebagai panglima perang melawan kolonial, tetapi juga sangat berperan dalam ajaran-ajaran serta budaya Islam di Pasai (Aceh). ***

Baca juga :  Tiga Langkah Memahami Teks Syariat Secara Adil Gender

 

Referensi:

Penelitian Othman Yatim dan Abdul Halim Nasir, pada inkripsi batu nisan

Stutterheim berdasarkan inkripsi batu nisan yang dimuat dalam Acta Orientalita, Leiden, 1936

Terjemahan Bahasa Inggris dari inkripsi oleh Dr C. Hooykaas

Buku Tapel Adam, sebuah nukil jawa: “wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam nate Pase.”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *